Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD123. Milkshake boba


__ADS_3

Bang Daeng mengambil alih paper bag yang berada di tanganku. Lalu ia menunjukkan kotak beludru tersebut pada Nadya.


"Coba aku tanya, yang genteng itu mampu gak ngasih ini? Laki-laki yang kau sebut hitam ini, mampu belikan seperangkat perhiasan seberat tiga puluh gram bermatakan berlian." bang Daeng menunjuk dadanya sendiri.


"Makan tuh ganteng!" bang Daeng menarikku pergi, dengan kebungkaman Nadya.


Bang Daeng sombong juga ternyata.


Aku hanya bisa terkekeh geli, mengikuti tarikan tangannya membawaku pergi. Aku yakin, moodnya tengah buruk sekarang.


"Mau makan apa jadinya? Katanya tadi Adek bilang laper."


Ia tetap seperti biasa. Meski wajahnya ditekuk dan kacau seperti itu.


"Pengen milkshake. Aku tuh penyuka milkshake tau, Bang. Aku dulu pernah berburu milkshake terenak, sampai ke dalam club malam. Memang beneran milkshakenya enak, tapi lepas itu aku kek orang bodoh, karena gak tau caranya pulang dan malah takut pulang karena udah malam." aku bergelayut manja di lengannya, sembari berjalan perlahan menyusuri lantai satu mall besar ini.


Aku bisa mendengar suara bang Daeng yang tertawa geli, "Kenapa sih kalau denger cerita tentang Adek tuh, lebih cenderung kek humor gitu? Ada aja tingkahnya tuh. Kalau memang gak berani pulang malam, ngapain sampai berburu milkshake di club malam? Club malam kan, bukanya waktu malam aja."


Benar juga sih. Aku malah baru menyadarinya sekarang.

__ADS_1


"Tuh, ada varian milkshake boba di resto itu." bang Daeng menunjuk sebuah kedai makanan, dengan spanduk bertuliskan boba yang terpampang jelas. Lalu, beberapa foto menu andalan terpasang di bagian atas resto tersebut.


"Beli itu aja, terus kita cari makan di luar. Aku pengen makan sambil liat mobil." aku menariknya untuk berjalan ke arah resto itu.


"Terus abis liat mobil, langsung beli mobilnya kah?" tanya bang Daeng kemudian.


Aku tertawa renyah, kemudian mendongak menatap wajahnya. Ia pun tersenyum samar, sembari melirikku sekilas.


"Baru tau Guehhh, ternyata Canda Pagi Dinanti banyak maunya." tukasnya membuat tawaku begitu ringan keluar dari mulutku.


"Abang harus semangat kerjanya ah, biar bisa menuhin yang begini-begininya." lanjutnya kemudian.


"Harus dong, semangat!" aku menepuk lengannya yang masih menjadi tempatku berpegangan ini.


Setelah itu, bang Daeng memesan satu minuman di kasir yang gambarnya aku tunjuk. Ia langsung membayarnya, sebelum kami bergegas pergi.


"Nanti perhiasannya disimpan yang aman, kalau memang gak pengen dipakai. Dipakai pun, jangan semua nyantol di badan. Jangan mengundang minat pencuri. Jadi kek lepas pasang gitu nah."


"Ya, Bang." aku pun tidak berniat menggunakan semua perhiasan dalam satu waktu.

__ADS_1


"Kalau kita ada di rumah, pakailah tak apa. Abang suka liat barang pemberian Abang dipakai Adek dengan senang hati." aku pun merasa begitu bahagia, saat melihat barang-barang yang aku berikan di pakai oleh Ghifar dulu.


"Ok, Daengku." kami tengah berjalan kembali di trotoar jalan.


"Mana ada yang jual makanan di sini. Adek pengen makan apa sih?" tanyanya kemudian.


"Pengen rasain deh yang namanya makanan Lamongan." tiba-tiba aku teringat dengan bang Dendi.


Bang Daeng mentertawakanku lagi, "Hadeh... Hamil, belum. Udah disiksa ngidam mata duluan." ia mengejekku.


"Abang ahh... Ayolah cari." aku merengek memaksa padanya.


"Ok, naik angkot aja ya?" usulnya kemudian.


Aku mengangguk mengiyakan, aku ingin segera mencicipi masakan Lamongan itu.


"Nah, tuh angkotnya." bang Daeng langsung menyetopnya, lalu kami melangkah masuk bergantian.


"Canda.... Canda..."

__ADS_1


...****************...


Siapa yang manggil 😳


__ADS_2