Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD117. Pil kebimbangan


__ADS_3

"Ishhh... Sorry ya! Gak level! Mending scurity bujang, dari pada bos lajang kek kau!" kak Raya berpindah ke ranjang yang aku duduki ini.


Spekulasi burukku masih bermunculan. Bang Daeng benar-benar menawari, atau memang hanya bergurau saja?


"Apa bedanya bujang sama lajang?" bang Daeng tertawa geli.


"Beda lah! Bujang, ya memang sendiri. Lajang kan statusnya aja, nyatanya kan bisa hitung sendiri. Ya, Canda?" ia kini menoleh ke arahku.


Aku hanya tersenyum tipis, kemudian memberi kak Raya anggukan.


Aku membuang wajahku ke arah lain, karena aku mendapati bang Daeng tengah menatapku begitu dalam.


"Tuh, kan? Canda jadi bete." bang Daeng tengah menunjuk kak Raya.


"Is, derita Loe!" kak Raya banyak menggunakan gue-gue elo, saat bertemu kembali dari libur satu bulan.


"Sana lah! Kau ambil kamar sebelah!" bang Daeng menutup tirai jendela ini.


Kami tengah berada di kota Medan. Kami baru sampai siang tadi. Sekarang waktu sudah menunjukkan sore hari. Kami pun, baru selesai membenahi barang-barang kami yang berada di dalam koper.


"Kau mau apa?" kak Raya pindah tempat, saat bang Daeng kembali ke ranjang ini.


"Mau main, Ya. Nanya lagi! Canda haid-haid terus, jadi aku banyak libur."


Hah?


Harusnya bang Daeng tidak perlu membicarakan hal ini pada kak Raya.

__ADS_1


"He'em. Kenapa ya? Aku juga begitu? Baru juga gaspol tumpah di dalam. Udah haid lagi, aku sampai dua kali haid dalam bulan ini." kak Raya malah curhat.


Apa sekertaris bang Daeng memang wajar kah digauli oleh bang Daeng?


Sampai-sampai, kak Raya tidak kaget sedikitpun.


"Canda juga udah dua kali aja haidnya. Mana sekali haid, sampai makan waktu delapan hari."


Aku segera menarik lengan baju bang Daeng, agar mulutnya mau diam.


Bang Daeng hanya menoleh ke arahku, lalu ia memberi isyarat dengan dagunya saja.


"Tumben kau rutin, Len? Biasanya tahan dua sampai tiga bulan juga." kak Raya seperti meledek.


Tentulah rutin. Sejak hari itu, aku langsung menekankan bahwa aku ingin seminggu dua kali paling jarang.


"Libur sih, nganggur di kosan. Jadi rutin." jawabnya dengan terkekeh.


"Ya udah, aku ambil kamar single semalam aja ya?" kak Raya langsung menarik kembali topik pembicaraan kita.


"Berapa lama sih trip di Medan ini?" bang Daeng merogoh ponselnya.


"Sepuluh hari saja. Cepetan, aku mau reservasi."


Saat mendengar kata reservasi. Aku jadi teringat dulu pernah direservaskikan oleh Ghifar, saat aku terjebak di dalam club malam. Gara-gara milkshake sialan, aku mengejar cita rasanya sampai ke sana ke mari.


Uhh, aku malah tiba-tiba ingin milkshake. Minuman kesukaanku sejak dulu. Namun, aku lupa bahwa aku dulu penyuka milkshake. Mungkin, karena kantong kering yang sempat melandaku lima tahun itu.

__ADS_1


"Ya udah, sepuluh hari aja." aku tersadar dari lamunanku, kala mendengar suara bang Daeng.


"Jangan nyusahin aku, Len! Kau susah bangun. Kalau ada instruksi dadakan pun, males aku naik turun liftnya." itu adalah penolakan dari kak Raya.


"Ya udah, ya udah. Buat malam ini aja dulu." bang Daeng berjalan ke arah ruangan lain.


Mungkin ia ingin mandi, lalu menunaikan sholat ashar.


"Ok." kak Raya langsung bertelepon ria dengan seseorang lewat telepon kabel yang tersedia di kamar ini.


"Dadah Canda...." kak Raya tertawa mengejekku.


"Nih, biar gak hamil." kak Raya melemparkan satu butir pil kecil, dalam kemasan plastik zip.


Kemudian, ia berlalu pergi meninggalkan kamar ini.


Aku memutar-mutar obat ini.


Sampai saat ini, aku belum hamil. Namun, haruskah aku mengkonsumsi ini?


Sebenarnya, bang Daeng menginginkan keturunan dariku tidak?


Aku meragu, karena se*s terakhir kali sebelum aku haid kemarin. Bang Daeng menumpahkan cairannya di atas punggungku, saat posisi d*ggy style.


Baiknya bagaimana?


...****************...

__ADS_1


Galau kan? 😩


__ADS_2