Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD42. Cinta, sayang atau suka


__ADS_3

Ternyata itu tamu di kamar bang Lendra.


Terdengar bang Lendra membukakan pintunya, menyambut tamu tersebut. Percakapan singkat pun terdengar di telingaku.


Tepat sekali, dia adalah orang yang mengantarkan dokumen palsu milikku.


"Shtttt...." aku menoleh ke arah pintu.


Pintu kos milik kak Anisa, sengaja tak aku tutup rapat. Agar bau makanan yang tengah aku makan ini, tidak membuat kamar ini bau bumbu.


Kepala bang Lendra muncul, dengan senyum manisnya.


Dia sangar, terlihat seperti galak. Tapi jika sudah tersenyum, dunia terlihat begitu lengkap karena tarikan bibirnya.


"Apa, Bang?" aku pura-pura tidak tahu, maksud kedatangannya padaku.


Ia mendorong pintu kamar ini agar lebih lebar. Lalu ia duduk di ambang pintu.


"Nih, dokumennya. Abang buatkan juga, ijazah D2. Buat penunjang, biar bisa dapat posisi sekertaris dua dan gajinya setara pekerjaan kau. Karena kalau cuma pakai ijazah SMA, nanti gaji kau paling UMK aja." ia menyodorkan map coklat padaku.


Aku menerimanya, "Pasti mahal aku gantinya." karena hal itu yang ada di benakku.


"Gak usah ganti, upah kemarin aja. Nih, sisanya Abang kasih uang jajan aja." ia memberiku seratus ribu.


Aku sebenarnya memang membutuhkan uang, untuk keperluan Chandra.


"Kalau diganti uang aja kek mana, Bang?" aku belum mengambil alih uang yang bang Lendra letakan di lantai ini.


"Maksudnya?" ia seperti bingung, ia menatapku dan uang pemberiannya bergantian.


"Maksudnya... Dokumen ini, aku hutang aja. Nah, upahnya aku minta uang aja. Uang saku aku udah habis. Aku butuh buat beli diapers, perlengkapan mandi Chandra, bedak biang keringat, sama minyak telon gitu-gitu. Aku pun udah mulai haid, pengaruh KB udah habis keknya. Mana kan, aku tak suntik ulangan. Awal bulan lalu, aku haid. Mungkin beberapa hari ke depan juga haid lagi, karena mau sampai ke dua puluh delapan hari. Aku butuh juga, buat beli pembalutnya. Soalnya, memang tak megang uang sama sekali." aku merogoh kantongku.


"Nih, sisa dibelanjain bang Dendi tadi. Aku cuma ada delapan ribu." ungkapku jujur.


Entahlah, aku sudah merasa akrab dengannya. Berkata jujur meski sensitif seperti ini pun, aku merasa biasa saja.

__ADS_1


Terlihat bang Lendra seperti tengah melamun, entah ia tengah memikirkan ucapanku tadi. Tapi yang jelas, ia hanya terdiam sembari menatap kosong Chandra yang tengah tertidur pulas.


Jika sudah tidur, Chandra memang tidak terganggu dengan suara orang mengobrol bahkan tertawa.


"Nanti ya? Tunggu Abang gajian." ia tersenyum lebar padaku, "Dua hari lagi paling. Rencananya pun, besok nanti mau ajak kau sama Chandra jalan-jalan. Mau belikan kau baju kerja, sepatu yang pantas dipakai kerja. Tapi orang yang antar tadi minta uang bensin, tiga ratus ribu. Enis udah request minta jalan malam ini, Abang cuma ada enam ratus sekarang. Entah cukup atau gak, buat ajak Enis jalan-jalan."


Tiba-tiba aku merasa tak enak hati.


"Maaf ya, Bang?" aku memandangnya seakan aku ingin menangis.


Namun, aku malah menegang saat tangannya terulur. Lalu mengusap pucuk kepalaku.


"Gak apa. Kalau ada, Abang pasti kasih. Kau pun wajar minta upah, karena udah beresin kamar Abang." ujarnya kemudian.


Aku hanya mengangguk, tertunduk menatap makananku yang belum habis.


Hanya nasi campur, untuk pengisi perutku malam ini. Dengan harga tujuh ribu, satu bungkus nasi porsi penuh, dengan lauk sepotong dadar dan sayur basah. Sepertinya ini daun singkong, yang dimasak dengan kuah yang sedikit.


Jika di pesantren dulu. Aku membeli nasi campur. Yang aku dapatkan adalah nasi ukuran perutku, dengan tambahan orek tempe dan bihun saja.


"Kau pasti masuk di PT tempat Abang kerja. Nanti besok, Abang taruh lamaran kau dengan referensi Abang. Syukur-syukur, tanggal tiga puluh nanti kau udah masuk kerja bareng Abang. Tapi ya itu, jangan harap bisa liburan di hari minggu. Karena Abang pun, sebulan tadi tak ada libur. Dapat libur cuma empat hari, tanggal tiga puluh udah masuk. Rencananya itu, mau ke Jambi. Cek keadaan di lapangan, macam biasa. Tapi paginya briefing dulu, kita diarahkan bagaimana-bagaimananya." aku menganggukkan kepala, saat ia tengah menjelaskan hal itu.


"Menurut Abang... Kira-kira berat tak tugas aku? Apa aku bisa sambil bawa Chandra." sebenarnya aku memiliki keraguan untuk itu.


"Yang berat itu asisten Abang, karena dia yang urus segalanya, kadang dia diminta untuk datang lebih dulu. Chandra kan bisa gantian Abang gendong, kalau Abang lagi tak ngobrol sama orang yang bersangkutan. Kalau Abang lagi ngobrol, kau lagi nyimak, Chandra bisa dioper ke asisten Abang, namanya Raya. Kalau kita lagi kerja, giliran dia yang free. Foto-foto, makan-makan, suka-suka dia lakuin apa. Kalau istirahat, atau pulang sih pasti bareng." jelasnya yang fokus padaku.


Aku memiliki satu pertanyaan dalam benakku, "Abang aman aja? Asisten sama sekertaris kemarin perempuan semua tuh." aku masih teringat akan nama sekertaris yang akan menikah itu.


"Aman lah. Memang mau diapakan Abang ini?" tanyanya yang mengundang tawa untukku. Wajahnya terlihat lucu.


"Ya maksudnya... Free se* kah? Atau apa kah?" aku sengaja tak menjelaskan lebih detail maksudku.


"Ohh... Aman-aman aja. Abang bukan orang yang hiper. Kalau butuh aja, itu pun gak nentu. Gak asal sama perempuan mana aja, Abang milih-milih." ujarnya dengan mengambil satu buah jajanan, yang masih berada di dalam plastik.


"Kok sama kak Anisa mau?" mulutku terkadang ngelunjak.

__ADS_1


Ia menoleh dengan tatapan kaget. Namun, sejurus kemudian ia malah terlihat biasa saja dengan senyum tipisnya.


"Abang suka sama dia. Tapi cuma suka."


Oh, jadi ini perasaan bang Lendra pada kak Anisa.


"Kalau cintanya?"


Sudah kuduga, mulutku ini memang terlampau tidak sopan.


Ia fokus untuk mengeluarkan jajanan, lalu ia memasukannya ke mulutnya.


"Gak tau. Belum pernah ngerasain namanya jatuh cinta. Dari dulu baligh, sampai sekarang. Cuma ngerasain suka-sukaan aja. Makannya gak pernah bertahan lama. Karena sekedar suka, pasti ada bosannya." ungkapnya terlihat santai.


Jika aku pada Ghifar disebutnya apa?


Lalu mengabdiku pada mas Givan, itu juga disebut apa?


Cinta kah?


Sayang kah?


Atau hanya sekedar suka saja?


"Kok bisa kek gitu?" aku terheran-heran dengan jawabannya.


"Bisa. Cinta datang, karena sering bersama. Abang gak pernah terlalu dekat sama perempuan. Di chat pun, gak pernah fast respon. Abang balas, kalau ada waktu aja. Sama Enis pun, kalau lagi ada di kos aja. Di tempat kerja, ya cuma sebatas kepentingan kerja aja. Waktu sekolah pun gitu, gak dekat sama kawan perempuan. Apa lagi, Abang bukan laki-laki yang famous di sekolah. Jadi ya... Memang gak ada yang dekat." ungkapnya dengan sesekali melahap cemilan.


"Memang kenapa sih, Dek? Takut sama Abang? Apa, Adek suka sama Abang?"


Aku menoleh dengan mata yang melebar. Ia terlalu percaya diri.


...****************...


Author lagi dilema.. dapat surat cinta terus dari NT.. mohon dukungannya, biar bisa selalu semangat.. tap ❤️, biar seneng gitu ternyata banyak yang nungguin novel ini.

__ADS_1


__ADS_2