
"Anu, Mah. Ardi pagi tadi ngajakin joging, tapi anak-anak tak ada yang jaga. Jadi dia pergi lagi, joging sendiri."
Aku berbohong.
Mamah Dinda manggut-manggut, "Suruh anak-anak ke Mamah aja, kalau kau mau masak. Kasian tak ada yang jaga. Nanti di rumah biar Giska yang jaga." mamah Dinda melirik anaknya.
"Ayo, Hadi. Kita ke Abu aja." Giska langsung mengajak anaknya untuk pergi.
Mamah Dinda menahan lengan anaknya, tawa kamu sudah berbaur saja.
~
"Mas...." aku sudah memantengi layar ponsel.
Anak-anak sudah pulas bersama, mereka tertidur di kamarku. Ibu dan Ria belum kembali, kemungkinan sore kata mamah Dinda.
"Apa, Sayang?" mas Givan pun menguap lebar.
"Mas tadi pagi aku dicium-cium coba sama Ardi."
Namun, ia malah tertawa renyah.
"Skill ciumannya okeh tak?"
Gendeng memang mas Givan ini.
"Bawah pusar aku rasanya geli betul, Mas." akuku kemudian.
"Itu rindu... Rindu jamahan." ia tertawa kembali.
"Ardi udah ramai ribut ngelamar katanya, Mas. Aku tak pengen buru-buru nikah, tapi aku tadi takut kebablasan."
Mas Givan membuang nafasnya, "Kau takut berzina?" tanyanya.
"Ya lah, Mas. Aku takut." aku masih teringat cerita guru pengajarku tentang hukuman seorang pezina.
"Tapi kau tak takut ninggalin sholat? Hukuman pezina sama ninggalin sholat, kan lebih berat ninggalin sholat."
Aku terdiam. Bukan maksud hati aku lalai dalam kewajibanku.
"Aku tau, ini bukan waktunya penghakiman. Hidup kau, di tangan kau. Bukan maksud memilih lebih baik berzina, dari pada tinggal sholat. Itu sama-sama bukan pilihan yang bagus." kalimat mas Givan berhenti beberapa saat, lalu menyambung kembali.
"Aku ngerasa pernah gagal berumah tangga. Aku sadar, mungkin itu karena aku sendiri juga. Aku milih lah, buat benahi kehidupan aku dulu. Aku pernah krisis ekonomi, ya aku buat sekarang stabil dulu. Tapi ngerasanya aku butuh pelepasan. Ya gimana? Zina lah terpaksa." lanjutnya kemudian.
"Kau selalu jajan perempuan, Mas?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya yang terlihat di layar ponselku.
"Tak selalu. Tak sesering macam bujang dulu. Kalau udah mumet betul, kalau udah tak ketahan betul, baru aku cari perawan. Tapi, lama aku tak pernah jajan lagi. Aku kecanduan perempuan yang aktif sekarang. Perasaan, enak perempuan yang aktif, ketimbang kesan pertama darah perawan." ia terkekeh malu.
"Jadi jajan yang jam terbangnya banyak, Mas?"
Ia menggeleng, aku bisa melihat gerakan kepalanya.
"Putri. Aku tak jajan, aku minta dia datang. Kau tau, Canda. Kadang, laki-laki juga pengen dipuaskan. Tak cuma dituntut, untuk bisa selalu memuaskan. Jujur, aku pernah gini ke Putri. Pusing aku, Put. O*al, kau di atas, aku males gerak. Dia nurutin itu, dia bisa ngelakuin sampai aku kl*maks. Kalau jadi istri, pahala luar biasa itu. Dari hari itu juga, aku males jajan perawan lagi. Enak yang kek Putri gini, dari pada perawan."
Apa ia tengah memuji pacarnya?
__ADS_1
Aku membuang nafasku perlahan, "Aku pernah coba kek gitu. Tetep juga jadi janda juga." aku tertawa sumbang di akhir kalimat.
"Bagus lah. Sering-sering aja. Mana tau, laki-laki kau nanti tak doyan jajan lagi."
"Aku tak punya laki-laki sekarang, Mas." tawa mas Givan begitu puas.
"Ya udah nikah berarti, karena kau takut zina. Kau berani ambil resiko, ya udah pertahankan gelar janda kau."
Saran yang tidak ramah.
"Tak ada yang lebih bagus kah saran kau, Mas?" tanyaku kemudian.
"Tak ada. Cuma itu saran untuk kau, karena cuma itu masalah kau. Dicium, panik. Ya udah berarti, nikah aja sekalian."
Benar juga.
Aku mengusap-usap daguku, "Tapi aku belum yakin, Mas. Aku tak tau Ardi betul cinta tak sama aku. Soalnya, dia tak pernah bilang itu."
"Kau pastiin itu dulu. Kalau kau udah tau, kau nikah aja. Sayang lulusan pesantren, masa iya berzina." ia tersenyum lebar.
"Aku nanyanya gimana?"
"Bisa-bisa kau lah. Tapi jangan pas lagi mesum, karena dia pasti bilangnya cinta." benar, semacam bujuk rayu.
"Okeh, siap."
"Udah dulu ya? Aku mau ada urusan." ia terlihat tengah berjalan, karena backgroundnya berpindah tempat.
"Ya, Mas."
Mas Givan sudah kecanduan Putri.
Aku kecanduan siapa?
Huh, gigit jari.
~
"Ya kan, kita nanti beli cincin dulu." bang Ardi tengah menggenggam tangan kananku, dengan aku bersandar pada dada sebelah kirinya.
Pukul lima sore, hari senin ini. Ia berkunjung kembali, selepas dirinya pulang bekerja. Tapi sepertinya, ia sudah pulang terlebih dahulu.
Ia sudah menggunakan pakaian sehari-hari. Celana chino pendek, dipadukan dengan kaos berkerah. Bang Ardi nampak manis, seperti pegawai yang berangkat pagi dan pulang sore.
"Abu..." Chandra menimbrungi kami, ia datang dengan wajah cemberutnya.
Kami tengah duduk di sofa tamu, yang berada di pintu belakang ini.
"Sini sama Adek Ceysa." bang Ardi mengusap anak perempuan yang ada di pangkuan kanannya.
Ceysa anteng dengan bermain ponsel.
Chandra berjalan menghampiri, lalu ia bersandar di dada kanan bang Ardi. Namun, Chandra duduk di sofa sepertiku. Tidak duduk di pangkuannya, seperti Ceysa.
"Cinta tak sih, Bang? Aku kok ragu." ucapku kemudian.
__ADS_1
"Cinta lah. Ngapain capek-capek ke sini sesering mungkin, kalau bukan karena cinta." ia memperhatikan layar ponsel yang tengah anak-anak mainkan.
"Ya mungkin karena hal lain." sahutku dengan mendongak, untuk melihat wajahnya.
"Karena apa? Abang malah tak dapat apa-apa." ia membuatku tertawa geli.
"Abang tambah besar sih sekarang." aku mengusap tangannya yang terjuntai ini.
"Masa? Baru digenggam sekali padahal."
Aku tertawa lepas, dengan menepuk pahanya.
"Bukan itu lah!" aku mendongak menatapnya.
"Ehh, apa memang?" tanyanya polos.
Pandanganku kembali pada tangannya ini, tanganku mengusap tangannya ini.
"Ini loh, kek jadi otot gitu." aku memainkan jemarinya.
"Masuk aja, lagi kumpul sama anak-anak." suara ibu.
"Assalamualaikum."
Hah???
Mataku melotot. Aku langsung menegakkan punggungku, kemudian melepaskan rangkulan bang Ardi. Aku dilanda kecanggungan.
Kenapa ia datang, setelah lama tidak ada kabar?
Aku pikir, ia lupa akan janjinya.
Aku mengatakan bahwa ia lupa akan janjinya, karena pemulihan tidak mungkin lebih dari tiga bulan lamanya. Itu sepertinya misi untuk menghilangkan bekas luka, bukan pemulihan.
Wajah kagetnya berganti dengan senyum samar.
"Mangge." Chandra turun dari sofa, ia bergegas untuk menghampiri seseorang tersebut.
"Pelan-pelan, Bang. Mangge belum sembuh." ujar seorang paruh baya, yang muncul di dari belakang tubuh bang Daeng.
Bang Daeng mengusap kepala Chandra, "Mangge gak bisa gendong Abang, maaf ya?" ia menundukkan pandangannya pada Chandra.
"Mangge kenapa?" Chandra seperti terheran-heran dengan manggenya.
"Duduk Dato, Bang Daeng..." aku bangkit, lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.
Ceysa masih anteng dengan ponsel itu. Ia seperti tidak terganggu, dengan kedatangan dua tamu ini.
Bang Daeng sampai meringis kesakitan, saat ia dibantu mangge Yusuf untuk duduk.
Ya ampun, ia masih sakit ternyata.
"Mereka siapa, Dek?" bang Ardi menarik tanganku. Ia bertanya dengan suara lirih.
...****************...
__ADS_1
Hayo 😣