
Jika kak Anisa dan bang Lendra saling suka, kenapa tidak berkomitmen saja?
Aku tahu, sedalam apa kak Anisa menggilai bang Lendra.
Toh, usia bang Lendra pun sudah matang untuk berumah tangga. Ia sudah tiga puluh tahun, sudah wajar untuk dipanggil ayah oleh anaknya.
"Abang tuh udah tua, nikah lah Bang." ucapku, saat ketegangan tadi dihiraukan oleh bang Lendra.
Ya, bang Lendra memilih untuk tidak menerima panggilan telepon itu.
"Belum punya hunian nyaman. Ngerasa belum mapan, ngerasa belum bisa bagi waktu. Karena pekerjaan nuntut Abang, untuk selalu siaga saat pengecekan langsung ke lapangan. Kek kemarin aja, dua puluh enam hari kerja. Kalau punya istri punya anak, gimana caranya Abang tetap bisa ngasih perhatian dan waktu ke anak istri? Sedangkan Abang sendiri lagi ada di kota orang, jam tidur, jam makan aja kadang gak ingat, apa lagi sekedar telpon istri anak di rumah makan belum."
Hei, dia hanya menjawab. Namun, membuat mataku berair.
Bukannya aku tersindir. Aku hanya merasa, apa mas Givan tak memiliki pola pikir seperti bujang yang satu ini?
Mas Givan yang setiap waktu bisa bertemu anak dan istrinya saja, ia tak bisa memberikan perhatian kecil. Saat ia tahu aku belum sempat mandi pukul lima sore. Ia hanya tahu caranya memarahiku, karena dianggap malas mandi. Bukannya ia mencari tahu alasannya, kenapa pukul lima sore aku masih belum mandi.
Rasanya, aku tak mungkin malas mandi. Saat melihat ipar-ipar yang lain sudah terlihat rapih dan wangi meski hanya memakai daster masa kini saja. Kalau saja anak tersayangnya mau diajak kompromi, mungkin aku pun tak mungkin mandi lewat pukul lima sore. Karena udara di sana terlalu dingin, aku tak mungkin mengambil resiko untuk menggigil, jika anaknya bisa ia pegang dan jaga sementara waktu.
Memang, ia mau untuk menjaga anaknya. Tapi itu hanya sebentar. Bahkan ketika aku tengah makan. Makanan belum habis, anaknya sudah ia serahkan lagi padaku.
Aku tertunduk, mataku terpejam mencoba menahan rasa pedas di indera penglihatan ini.
__ADS_1
"Pengen pas punya anak nanti, Abang ada waktu buat ngurusnya. Kasarnya, pengen tau bau kotoran anak sendiri. Karena, hanya ibunya yang tau bau itu. Abang yang jadi ayahnya pun, pengen tau juga. Terus, pengen gitu ditangisin pas mau masuk ke kamar mandi. Dipanggil-panggil terus, pas mamahnya anak-anak lagi telponan sama Abang. Abang beli galon, anak ngerengek minta ikut gitu. Belum lagi kalau lagi nyatu sama mamahnya anak-anak, anak Abang bangun, terus Abang panik."
Di akhir cerita akan angan-angan bang Lendra, kami tertawa lepas bersama.
Ia memandangku, "Eh, iya loh. Setiap orang tua, katanya pasti pernah ngerasain paniknya anak bangun saat tempat tidur keguncang." jelas bang Lendra.
"Ya, memang. Nanti lepas selesai, ayahnya turun lagi dari ranjang, buat tidur di bawah." tambahku, tetapi malah mendapat pandangan aneh dari bang Lendra.
"Aslinya gak begitu konsepnya, Dek." ujarnya dengan wajah kaku.
"Tubuh laki-laki tuh, kalau udah kl*maks itu lemas. Dia gak ada mikir buat turun ke bawah, atau ke kamar mandi. Dia hanya mikir, untuk mejamin mata aja. Normalnya langsung tuh laki-laki lelap di samping kau, kalau memang gak ada pekerjaan lain yang menuntutnya. Dalam cerita, laki-laki kl*mask empat atau lima kali dalam sekali main tuh. Itu keknya banyak bohongnya. Ya karena fakta itu, Dek. Hormon kebahagiaan lepas itu, pasti hanya rasa tenang dan nyaman yang ia rasa. Bukan pikiran mau ke kamar mandi dulu ah, atau mau tidurnya pindah ke bawah ah. Setangguh-tangguhnya laki-laki, keknya cuma dua ronde nyambung aja. Itu pun, rasanya pasti kek lepas semua sumsum tulang." kini aku yang hanya bisa terdiam, dengan mengingat setiap hubungan biologisku dengan mas Givan.
"Memang udah tak wajar keknya laki-lakinya, Bang. Istri pergi lagi, dia tak ada nahannya." pernyataan bang Dendi, membuatku semakin ingin menangis kencang saja.
"Tapi ganteng, Bang. Dari saudara yang lain, dia paling kinclong sendiri. Wajah tuh, kek Cindo kaya gitu. Kuning sehat, bersih, glowing." aku tak menyangka, ternyata kak Anisa memperhatikan mas Givan berlebihan seperti itu.
"Pas masih gadis, kau cantik bersih Dek. Pas bersuami, kok jadi jerawatan, mana kurus lagi. Pasti suaminya menang sendiri aja tuh." bang Lendra menirukan suara ibu-ibu yang suka bergosip.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa ucapannya seperti didasari oleh fakta? Bang Lendra seperti sudah berpengalaman berumah tangga.
Tiba-tiba bang Lendra menepuk pundakku. Aku menoleh padanya, mendapatinya tengah tersenyum manis padaku.
"Udah gini, kau harus bisa glow up. Bukan ngomong, bahwa kau ini jelek ya? Tapi percantik diri kau, biar mantan suami kau nyesel pas liat kau udah berubah drastis."
__ADS_1
Aku reflek mengangguk.
"Aslinya kau ini cantik, keknya. Tapi... Maaf ya?" aku harus memaklumi pendapat orang lain tentang diriku.
"Kau tak terurus. Janganlah pakai deodoran, kalau memang basah juga. Pakailah anti perspirant, yang nahan keringat di bagian ketiak kau. Terus, nanti kalau ada uang. Kau beli scrub badan, biar daki pada rontok. Yang bikin keringat kita bau tuh, karena sel kulit mati yang numpuk. Dulu Abang kek gitu pas kuliah, keringat leher aja sampai bikin mabok hidung sendiri. Tapi pas punya kerjaan, disarankan tuh sama kawan perempuan. Pakai ini, coba produk ini, Abang cari-cari aja yang cocok, yang pas di kantong juga. Terus, jadi bau badannya hilang permanen."
Aku harus bersyukur, karena kak Anisa tak mengusirku dari kamarnya ketika mencium aroma tidak sedap dari tubuhku.
"Aku mau kasih tau dia, Bang. Tapi aku takut dia tersinggung. Aku cerita masalah pompa air kos di sini ngadat, eh dia udah nangis aja. Luka batinnya di mana, tapi kena obrolan yang nyerempet sedikit, dia udah mewek aja." tambah kak Anisa kemudian.
"Aku sadar kok, Kak. Cuma aku tak punya modalnya aja." akuku sedikit malu-malu, meski mereka semua sudah seperti keluarga.
"Kalau hidung kita bau sendiri. Berarti tuh memang kita gak terawat, khususnya kulit ya. Bukan karena memang bawaan lahir udah bau badan." jelas bang Lendra kemudian.
Aku mengangguk, "Aku dulu, jangankan masalah lulur mandi atau deodorant. Meski aku hidup di pesantren, aku mampu buat beli sunscreen yang spf tiga puluh, empat puluh lima, lima puluh, aku pakai tergantung kebutuhan aku bakal ke luar kena panas berapa jam. Lipstik, tiap waktu sholat ganti warna. Meski hanya warna kalem aja, karena di pondok tak boleh mencolok. Masker mata, mulut, wajah, sampai masker p*yuda*a aku punya koleksinya. Bedak juga, tancap terus setelah punya wudhu. Dari reffil harga dua puluh ribu, sampai yang tiga ratusan aku mampu beli setiap kali habis. Setelah punya suami ini lah, memang harus banyak tabahnya." aku malah curhat tentang nasibku.
"Jadi, pernikahan itu bukan pelarian untuk mendapat kebahagiaan kan?" aku mengangguk, meski tak mengerti maksud bang Lendra menanyakan hal itu.
"Tuh, Nis. Jangan ngajakin nikah aja!"
Bang Dendi tertawa geli, melihat wajah masam kak Anisa saat disindir bang Lendra.
"Jangan......
__ADS_1
...****************...
Banyak hikmahnya 😊 Coba bacaan ini dipahami. Ada maknanya loh 👍😉