Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD433. Kambing jantan


__ADS_3

"Barter sama o**l aja. Aku tau, kau belum aman dipakai. Oke ya?" mas Givan mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, mungkin agar aku mengikuti.


Pasti lelah sekali mulut ini.


"Lama ya, Mas? Ada lima belas menit?" aku pernah melakukan variasi ini.


Berharap mas Givan cepat selesai. Namun, tetap harus dijepit di sarang juga. Mas Givan tak bisa kl*maks jika di mulut saja.


"Tak tau. Ayolah, Canda. Ya? Ya? Ya?" wajahnya memelas sekali.


"Ya udah, iya." sebenarnya aku setengah hati. Karena pasti nanti mulutku akan pegal.


"Asyik." mas Givan bertepuk tangan pelan.


"Ayo kita mulai, Canda." mas Givan menarik tanganku.


Penyiksaan dimulai. Demi uang sebelas juta untuk peganganku, mas Givan menuntut pelepasan yang membutuhkan proses dua jam. Lelahnya tangan dan mulut ini. Tapi terbayar lunas, karena aku langsung tertidur setelahnya.


Pagi harinya, aku kaget karena Zuhdi datang dengan mengantarkan kambing jantan yang bertubuh besar. Apalagi tanduknya itu, terlihat seram sekali.


"Suruh potong bapak kau aja, Di." ucap mas Givan, yang tiba-tiba muncul di belakangku.


"Memang tak dimasak?"


Anak-anakku mengerubungi, saat kambing tersebut diikat di pengait kunci pintu besi samping.


"Tak, potong aja langsung bagikan. Aku tak ada uang buat ngolahnya." mas Givan duduk di undagan tangga teras.


Apa itu kambing untuk aqiqah Ra?


Apa itu dari Zuhdi?


Zuhdi berjalan ke arah mas Givan, dengan merogoh saku celana tiga perempat tersebut.

__ADS_1


"Nih kembaliannya tiga ratus ribu. Minta empat setengah tadi, tapi ditawar jadi empat koma dua." Zuhdi menyodorkan uang berwarna merah pada mas Givan.


"Ya udah pegang." mas Givan hanya melirik uang itu.


"Tak usah lah. Tadi kau udah kasih lima ratus ribu ke Giska, masa aku ngambil juga?"


Ohh, jadi seperti itu ya suamiku?


Dia tak ada obrolan apapun, telah membagikan uangnya. Eh, tapi ini diluar kuasaku. Karena mas Givan tidak lalai padaku, mas Givan juga memberikan uangnya padaku.


Memang ada hukumnya dalam agamaku. Saat sang suami mencari nafkah, maka ialah yang berkewajiban memenuhi nafkah bagi istri dan anak. Namun, tidak berarti seluruh gaji suami merupakan milik istri. Istri memanglah berhak atas penghasilan dari suami, tetapi perlu digaris bawahi, ambillah secukupnya. Tidak dibenarkan untuk mengambil melebihi dari apa yang dibutuhkan. Seperti itulah, saat ustadzahku mengajarkan.


Tapi setidaknya, ia bilang lah. Mas Givan tetap sama saja seperti dulu dalam mengolah penghasilannya ternyata. Seperti permasalahan uang hasil toko material itu. Ia menyimpan dan menabung sendiri untuk membuat rumah kami, tapi aku jadi salah paham karena ia tidak pernah mengatakannya padaku.


"Ya itu kan buat Giska. Ini kan uang upah belikan kambing. Udah aja masukin ke kantong kau sendiri, Giska udah megang uang ini."


Heh? Mas Givan malah mengajarkan ilmu yang ia genggam pada adik iparnya itu.


Mas Givan mengangguk, "Pas lewat rumah ma Nilam nanti, tolong pinjamkan timbangan juga.


Pembagian daging aqiqah dalam kondisi matang atau siap saji bersifat pilihan. Pembagian daging aqiqah juga dapat dilakukan dalam bentuk daging segar sebelum dimasak sebagaimana keterangan dalam mazhab Syafi’i, seperti itu ilmu yang aku tahu.


Jadi mungkin mas Givan akan membagikan daging segar dengan berat rata, yang akan dibagikan ke fakir miskin dan para tetangga.


Semuanya wajib disedekahkan kepada orang fakir sebagaimana pandangan As-Syaubari. Seseorang boleh memilih antara menyedekahkan semuanya dalam keadaan mentah, atau menyedekahkannya sebagian dalam keadaan mentah dan sebagiannya dalam kondisi matang. Tidak sah menyedekahkan semuanya dalam keadaan matang. Sedangkan Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujarimi alal Manhaj memiliki pandangan seperti ini.


Makanya diusahakan ya, daging aqiqah jangan disimpan untuk diri kita sendiri. Aku tidak menjual hadits atau pandangan Islam, ini hanya sedikit ilmu yang aku bagi untuk kalian.


Barangkali memiliki keinginan untuk aqiqah anak, tetapi uang hanya cukup untuk membeli kambing. Tidak apa-apa membagikan daging segarnya saja, tapi kita tidak boleh menyimpannya di rumah untuk kita sendiri.


"Oke, nanti Giska juga aku suruh bantu-bantu di sini." Zuhdi berjalan menjauh.


Aku melangkah menghampiri suamiku, lalu aku duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mas.... Itu kambing untuk aqiqah Ra?" aku pura-pura tidak paham.


Mas Givan menyadari kehadiranku di sampingnya sepertinya. Ia menoleh, dengan alis yang menyatu.


Kemudian ia mengangguk, "Iya, Canda. Bagikan mentah aja, aku tak ada uang lain." jawabnya, dengan memperhatikan anak-anak kami.


Zio, Chandra, Key, Jasmine berbincang dengan tertawa kecil menunjuk kambing tersebut. Sedangkan Ceysa, ia berada di gendongan Shauwi yang melihat dari jauh saja. Ceysa takut dengan beberapa jenis binatang. Hanya kucing, yang ramah untuknya.


"Aku ada sebelas juta setengah itu." aku sudah menghitung keseluruhan uang yang mas Givan berikan.


"Ya udah pegang. Nanti sore kita keluar, beli pakaian Ra. Karena udah tak ada baju dia ini. Beli beras, kebutuhan dapur. Isi token lagi, biar tak sampai bunyi kek kemarin. Pusing, token habis pas tak ada uang. Sisanya buat kebutuhan kau, perawatan apa gitu yang terjangkau. Biar kau sedikit senang hati, beli juga perlengkapan apa gitu yang kau mau. Sisanya buat beli sayur, lain-lain. Sampai aku kasih pegangan lagi." mas Givan terlihat murung.


Pikirku, uang segitu cukup banyak.


"Tak apa kali, kalau kita masak dulu itu daging aqiqah." karena umumnya di sini seperti itu.


Pasti jadi omongan, jika kita membagikan daging mentah.


"Aku niatnya begitu, Canda. Biar tak terlalu repot, biar nanti setelah ini gak cari hutang lagi. Karena biasanya biaya masak, lebih besar dari biaya dagingnya. Takutnya, abis acara aku pusing nyari utang ke mana lagi. Sekarang kan, utang kecil-kecil yang buat pegangan kita sama makan kita kemarin udah terbayar semua. Kita buat sebulan ke depan ini aman, untuk biaya makan kita semua. Biar aku bisa mulai gerak lagi, untuk pikirkan uang belanja kau dan kebutuhan anak-anak. Giska juga dari awal minta uang ke aku, aku baru bisa kasih sekarang. Kasian, lagi keteteran betul. Zuhdi lagi dilema, karena dia harus merantau buat ngembangin usaha borongannya itu. Tapi dia bingung uang pegangan Giska di sini, mana Giska anaknya dua, Zuhdi tak tega biarin Giska ngurus anak sendiri."


Berarti, mas Givan sudah memikirkan segalanya? Maka dari itu, ia membaginya dengan bijak seperti ini? Oke, aku harus memahami bahwa mas Givan adalah orang yang bijak mengatur keuangan. Aku tidak boleh berburuk sangka, tentang ia memberi uang ke Giska itu. Itu adalah sebagian dari shodaqoh suamiku, dalam membantu adiknya yang tengah kesusahan.


Karena aku paham betul, bagaimana sayangnya para saudara laki-laki ini ke Giska.


"Makan gih, istirahat. Biarin bu Muna yang aktivitas kek biasa." mas Givan mengusap bahuku.


Aku selalu terharu, setiap kali ia bersikap manis.


Aku langsung memeluknya erat, kemudian menyandarkan kepalaku.


Ya Allah, semoga kami bisa tetap bersama menjalani ujian ekonomi kali ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2