
Aku sampai di rumah megah, dengan disambut wajah layu papah Adi. Beliau duduk di bangku panjang, di bawah pohon mangga yang penuh kenangan itu.
Aku menghampiri beliau, lalu mencium tangannya.
"Ngelamun aja sih, Pah?" aku buka suara, lalu duduk di sampingnya, memperhatikan mas Givan yang tengah membawa masuk satu persatu barang-barangku yang kemarin dibawa ke rumah sakit.
"Kangen mamah, tak pulang-pulang."
Hah?
"Gimana kalau ditinggal mati sama mamah, Papah keknya bisa gila. Lama tak ketemu aja, keknya hari-hari tuh sepi betul. Hidup, tapi rasanya tak hidup. Bosan, gini-gini aja." lanjutnya kemudian.
Lalu beliau menyeruput secangkir tehnya.
"Mungkin belum biasa aja, Pah." aku bingung ingin menimpali apa.
Beliau menoleh ke arahku sekilas, "Papah tak mau terbiasa tanpa mamah. Papah maunya direcoki mamah terus."
"Mungkin Papah bakal semangat, kalau liat VT punya tante Erni. Coba follow akun Tiktoknya, Pah. Seger benerrrrr, padahal wajahnya nampak udah matang." mas Givan duduk di sisi lain tempat aku duduk. Ia mengapit papah Adi, dengan menunjukkan layar ponselnya.
Aku melirik pada ponsel mas Givan yang ia tunjukkan itu.
Tubuh profesional mirip mamah Dinda. Hanya berbeda di bagian wajah saja. Tante Erni tersebut, terlihat begitu dewasa dan matang. Ya mungkin, seusia mamah Dinda.
Namun, jika mamah Dinda memiliki wajah judes dan baby face. Mamah Dinda tidak terlihat matang dan dewasa, tetapi terlihat seperti seumuranku. Ya, wajah-wajah tidak ramah senyum.
"Mamah kalau pakai baju seksi juga gitu, badannya sama juga. Beda mamah agak pendek aja." komentar dari seorang pasangan hidup mamah Dinda.
"Tapi aku tak pernah liat." timpal mas Givan.
Papah Adi menepuk pundak mas Givan, "Memang kau siapa? Mamah kan punya Papah, cuma Papah lah yang bisa liat."
Aku dan mas Givan tertawa geli.
"Aku kan anaknya ya." sahut mas Givan.
"Aku suaminya." tegas papah Adi.
"Aku anak tiri Papah." tiba-tiba suara mas Givan langsung menurun.
"Huuu...." papah Adi menyoraki mas Givan, "Kalau Papah anggap anak tiri, malas betul rasanya buatin sayur kacang, nyuapin ke mana-mana." lanjut beliau kemudian.
__ADS_1
Sayur kacang?
Mas Givan tertawa geli, lalu merangkul ayah sambungnya itu.
"Ghifar yang Papah lepas liarkan, malah kau yang buas. Ghifar dibiarkan hidup sama orang lain, sama tante Zuhra. Kau yang dari kecil di rumah aja, malah jadi mirip tingkah bapak kandung kau." papah Adi geleng-geleng kepala.
"Iya ya kenapa, Pah? Tapi sekarang aku udah baik hati, tapi sedikit sombong."
Aku tertawa kembali, melihat mas Givan menggurai papah Adi terus.
"Kau dari bocah, dari kenal Papah, memang udah sombong. Sombong kan, memang didikan mamah kau." papah Adi menjeda kalimatnya, "Jadi inget kau kecil, pas ngelamun gara-gara mau dikasih papah sambung." papah Adi terkekeh seorang diri.
"Aku mau dikasih papah sambung sama mamah nanti, katanya boleh punya papah dua juga. Tapi aku kasian sama papah Hendra, meski kata mamah, papah kandung aku cuma papah Hendra. Kata mamah juga, nanti papah sambung aku bobo di rumah sambil usap-usap punggung aku begini." papah Adi menirukan suara anak-anak, dengan mengusap punggung anaknya itu.
"Nanti gimana kalau papah Hendra pulang." lanjut papah Adi dengan wajah murung.
"Terus di mana terjadi ada papah Adi di situ." mas Givan menarik nafas lebih panjang, "Gimana kalau abang panggil abang, papah aja. Biar tak perlu cari papah baru." terang mas Givan dengan perubahan suaranya, "Ehh, tak taunya. Si abang ini yang minta dipanggil papah, malah jadi papah sambung aku." suara mas Givan normal kembali, ia terkekeh kecil.
Ohh, jadi seperti itu pendekatan mas Givan kecil dengan papah Adi dulu.
"Ohh, jadi papah dulu dipanggilnya abang sama mas Givan?" tanyaku, setelah mendengar semua cerita singkat itu.
Papah Adi menoleh padaku dengan mengangguk cepat, "Papah dulu bujang, meski udah waktunya nikah. Om Haris waktu ketemu papah lagi itu, dia udah duda. Papah masih bujangan aja, mana baru pulang dari bui." papah Adi menarik nafasnya, "Makanya minta dipanggil abang, karena merasa belum berkeluarga dan belum punya keturunan."
"Tak tau sekalinya berkembang biak, malah selalu bikin hamil istri." beliau tertawa sumbang.
"Nanti nih, Pah. Kalau aku beristri, mau nambah satu anak lagi, terus udah. Biar di sebelah rumah Chandra itu, bangun rumah satu keturunan lagi. Udah empat aja, tapi jaraknya pengen jauh gitu. Nanti, kalau Zio udah sepuluh tahun, baru aku punya anak lagi. Jadi, nanti aku punya kesibukan di masa tua." mas Givan menunjuk bangunan yang masih dibangun tersebut.
"Memang jadi sama Putri? Papah malas kali ditanya keuchik, kenapa Putri tak pulang-pulang."
Jadi, Putria masih berada di rumah ini?
"Aku udah tak sama Putri, Pah. Dari aku selesaikan balik saham itu, aku udah putus sama Putri. Aku tak mau nikah sama perempuan pembangkang, aku mau perempuan yang nurut., yang murah juga maharnya." mas Givan terkekeh kecil di akhir kalimat.
Karena mas Givan adalah tukang suruh yang sempurna, makanya ia tak mau disuruh oleh istrinya kelak.
"Novi tuh, mau tak sama kau?" papah Adi menunjuk perempuan muda berambut blonde, yang tengah menyapu di bagian teras rumah.
"Dari kecil udah akrab, aku tak enak dadakan ngajak nikah. Aku tak er*ksi juga sama perempuan, yang udah aku anggap adik sendiri." jawab mas Givan.
Nah, loh. Mas Givan tidak bisa bereaksi dengan family sendiri. Tapi, Ghifar malah begitu tinggi pada Kinasya. Mereka berbanding terbalik.
__ADS_1
"Memang pernah nyoba?" tanya papah Adi.
Aku hanya diam, sembari menyimak.
"Aku sering liat Novi pakai baju minim. Kalau nengok dia di rumah aku aja, Novi cuma pakai hot pants sama tanktop aja. Aku biasa aja, karena memang kek ke Giska gitu loh Pah."
Padahal mas Givan adalah penjahat k*l*min. Tapi ia bisa seperti itu, pada perempuan muda yang ia anggap adik sendiri.
Apa benar-benar Ghifar ini menyimpang?
Atau, mas Givan yang menyimpang?
"Canda, sini masuk. Istirahat dulu! Aku udah siapin kamarnya." seru Novi, ia masih memegang sapu rumah.
"Tuh, sana ikut Novi. Tinggal di sini aja dulu, bantu Papah urus Gavin sama Gibran." ujar papah kemudian.
"Iya, Pah." aku turun dari bangku panjang ini.
"Kuat tak jalannya?" tanya papah Adi, ia memegangi tanganku saat aku hendak turun tadi.
"Kuat lah, Pah. Tadi abis ngemall dulu." mas Givan yang malah menjawabnya.
"Ya udah, sana rebahan dulu." pinta papah Adi kemudian.
Aku mengangguk, kemudian melanjutkan langkah kakiku dengan menggenggam ponselku dari bang Daeng ini. Aku tak pernah berganti ponsel, ini masih ponsel yang bang Daeng berikan.
"Aku tadi ngajakin Canda rujuk, Pah. Tapi katanya, mau rujuk sama...." suara mas Givan terdengar samar di telingaku, karena jaraknya sudah cukup jauh.
Ternyata, ia mengadu pada papah Adi.
"Sini Canda, aku bantuin." Novi mendekatiku.
"Aku bisa kok." aku tersenyum ramah.
"Di kamar Giska aja, Canda. Udah minta izin sama Giska, udah aku benahi juga."
"Makasih ya?"
"Iya, sama-sama. Anak-anak lagi di rumah ibu semua. Bosen keknya mereka ini, lama di rumah aja. Tak pernah rekreasi, tak pernah jalan-jalan."
Aku berjalan beriringan bersama Novi.
__ADS_1
Aku hanya bisa menghela nafasku, saat terlihat wajah.......
...****************...