
"Gimana, Bu?" aku mengikuti ibu yang menunjukkan sofa tamu kami, untuk tempat kami berbincang kali ini.
"Givan sama Putri itu gimana sih, Ndhuk? Kok Ibu gak suka loh liat mereka sering ngobrol di jalan. Givannya juga, keknya ngeladenin Putri terus. Diomongin tetangga loh, Ndhuk. Ibu malu sendiri." terang ibuku lirih.
Aku memijat pangkal hidungku. Aku pun tidak mengerti permasalahan mereka, mas Givan pun tidak menjelaskan titik terangnya padaku. Sedangkan, saat kami berkomunikasi. Kami membahas tentang kami dan anak-anak saja, aku pun tak pernah terpikir ingin membahas Putri.
Padahal, saat mas Givan belum pulang bekerja. Aku sudah memiliki rencana ingin menyidang mas Givan. Tapi, saat mas Givan sudah kembali. Aku malah direpotkan mengambilkan makanan untuknya, dengan Chandra dan Ceysa yang ingin makan juga.
Kehidupanku hanya berisi anak-anakku dan suamiku saja.
"Ya beberapa hari yang lalu tuh, Bu. Mau diberesin sama mamah Dinda, tapi kan Kin mau lompat dari balkon. Jadi tak jadi tuh kita bahas hari itu."
Ibu pun mengetahui, perihal Kin yang hendak lompat dari lantai dua rumah mamah Dinda.
"Biyung...." Kaf menarik-narik tanganku.
Aku menoleh ke arahnya. Kemudian, tanganku terulur untuk mengusap keringat di dahinya.
"Apa, Kaf?" Kaf gampang sekali berkeringat.
"Main ya?" Kaf terlihat begitu bosan.
Aku menunjuk Zio yang anteng bermain puzzle, di pintu tralis yang tertutup itu.
"Tuh, sama Zio." aku melihat ke arah wajah Kaf yang bosan itu.
Kaf menggeleng, "Sama Yasmin." Kaf tertunduk murung.
"Jasmine sekolah, Kaf. Nanti tuh bang Chandra sama kak Key pulang, Jasmine juga pulang."
Mereka bertiga berbeda sekolah.
Key di TK islami, yang dikenal sebagai TK terbaik. Chandra di TK kampung, bekas TK Gavin dan Gibran. Sedangkan Jasmine di TK dari yayasan komunitas wanita apa itulah, sekolahnya berada di dekat puskesmas Simpang Tiga.
Oh, iya. Sudah sekitar satu minggu, Jasmine diurus oleh Hala. Hala Hamidah, gadis dari Pintu Rame Gayo itu. Dia dipekerjakan oleh mangge Yusuf, untuk menjaga Jasmine ke mana saja. Karena istrinya tidak lincah mengejar Jasmine, karena usianya.
Kaf terlihat tidak berselera untuk main mainan itu.
"Sama kak Ria tuh, di depan tuh." aku menunjuk Ria dari sini.
"Ria.... Temenin Kaf main ini." seruku kemudian.
"Sini, Kaf. Jajan." sahut Ria, dengan melongok ke arah kami.
"Ikut...."
Aku dan ibu tertawa lepas, saat melihat Zio meluncur lebih dulu.
"Siapa yang diajak, siapa yang lari." ujar ibu dengan tawanya.
"Oh iya, Givan kasih jajan Ria beberapa hari sekali dua ratus ribu. Seneng dia, belanja online terus." ujar ibu kemudian.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah ibu. Aku bahkan tidak tahu perihal itu.
"Padahal Givan bener tuh, Ndhuk. Kenapa kamu dulu bisa cerai sama dia?"
Sesi curhat dimulai.
"Jadi, awalnya gini Bu......."
Hari itu aku mengobrol banyak dengan ibu, sampai Chandra pulang sekolah dan juga anak-anak bermain dan makan bersama. Aku banyak menceritakan kehidupanku pada ibuku. Beliau pun, cukup terkejut mendengar ceritaku.
Ibu tidak menyangka, nasib mempermainkan putrinya sendiri. Bahkan, sampai aku memiliki gelar janda dua kali.
Malam harinya, kami berkumpul di kamar dengan anak-anak. Key dan Kal yang di lantai atas bersama kak Ifa. Sedangkan Chandra, Ceysa dan Kaf berada di kamarku.
Entah ke mana perginya mamah Dinda dan rombongan, karena sampai tiba malam, mereka belum juga kembali.
Papah Adi sudah mendengkur di kamar bujang tanggung. Gavin dan Gibran pun, sudah terlelap bersama ayahnya itu.
"Canda...." mas Givan tengah bersandar di kepala ranjang, karena dirinya baru selesai makan.
Sedangkan aku, sudah hampir terpejam. Sayang saja, anak-anak belum terlelap. Aku sudah tidak tahan menahan kantukku, padahal aku sudah tidur siang kurang lebih dua jam.
"Pengen die*ut." mas Givan berucap pelan.
Memang hanya hal itu, yang belum pernah aku lakukan sampai sekarang. Jika masalah gaya, dari tiduran, telungkup, miring, nungg*ing, bergantungan, pernah aku lakukan semua.
Aku mengusap pahanya, "Aku ngantuk, Mas."
Deg....
Mataku melebar sempurna.
Memang kenyataannya seperti itu. Tapi setelah aku mendapatkan datang bulanku, aku akan meminumnya.
"Diminum kok, Mas." aku tak mau dimarahi olehnya.
"Sih ngantuk terus?" ia memainkan jemari kiriku.
Kaf masih asyik bergurau dengan dengan Ceysa, mereka berdua sampai tertawa renyah. Sedangkan Chandra, ia sudah hampir terpejam dengan menggenggam balok susunnya.
"Canda...." mas Givan merapihkan anak rambutku.
Aku melirik ke arahnya, kemudian sibuk memperhatikan anak-anak kembali.
"Nanti anak-anak tidur, aku ajari kau buat o*al ya?" ia mengusap-usap pipiku dengan jemarinya.
Lembutnya tutur katanya, jika ada maunya.
"Aku bisa." aku menjawab, tanpa melihat ke arahnya.
Tiba-tiba mas Givan merebahkan tubuhnya di sampingku, membuatku terpaksa bergeser agar ia tidak jatuh dari ranjang.
__ADS_1
Tangannya sudah merambat, k*cupan kecil pun aku rasakan di area tengkuk. Ia sudah tidak sabaran.
"Anak-anak masih main." aku sampai bergidikan.
"Huh...." mas Givan tiba-tiba bangkit.
Ia berjalan ke arah kedua anak itu, yang masih bersenda gurau di atas kasur angin.
"Tidur sama kak Key di atas yuk?" mas Givan mengangkat tubuh Ceysa.
Ia malah mengungsikan anak-anak itu.
"Ayah gendong." Kaf merengek.
Mas Givan berjongkok, lalu menggendong Kaf dengan tangan kanannya.
"Masya Allah, beratnya anak-anak Ayah." ujarnya dengan menaikkan lututnya lagi.
Mas Givan membawa dua orang anak itu, keluar dari kamar ini. Padahal aku sudah mengantuk, semalam pun mas Givan sudah mendapatkan jatahnya.
Dahulu mas Givan tidak sesering ini melakukan hubungan badan. Rutin, tetapi tidak begitu sering. Setelah rujuk kembali, ia ingin melakukannya jika ada kesempatan.
Sudah aku malas junub, malas cuci rambut. Sehari dibuat junub dua kali.
Kemarin aku lelah berjualan, sekarang aku lelah mend*sah. Otot-otot pun, rasanya begitu lemas.
"Pipis dulu gih." mas Givan sudah masuk, dengan langsung mengunci pintu kamarku.
Aku menghela nafasku, kemudian menurunkan kedua kakiku ke lantai. Dengan langkah lunglai, aku menuju kamar mandi.
"Heh!" aku terkejut saat pintu kamar mandi terbuka, ketika aku tengah buang air kecil.
"Mau pipis juga." mas Givan berjongkok persis di depan saluran air.
Aku baru tahu hari ini, bahwa ia kencing jongkok sesuai anjuran para nabi. Ia pun membasuhnya dengan benar, sesuai tata cara yang aku pahami.
Ia sudah berdiri kembali, "Kau kencing apa BAB?" mas Givan memperhatikanku.
"Pipis, belum cebok." aku langsung meraih selang air.
Mas Givan hanya mengangguk, kemudian keluar dari kamar mandi.
Pantas ya kamar mandinya tidak berbau, ternyata ia pipis jongkok. Dengan posisinya seperti itu kan, membuat air kencingnya tidak terciprat ke mana-mana. Benar-benar manusia yang tertib dan disiplin. Mamah Dinda pasti begitu benar-benar mendidiknya.
"Sini, Canda." mas Givan menepuk tempat tidur kami.
Baiklah. Ini kewajiban.
...****************...
Ayah minta apa katanya 😆
__ADS_1