
"Kenapa, Far?"
Tidurku terganggu telepon dari Ghifar.
"Aku kangen. Aku butuh teman ngobrol."
Aku melirik jam dinding, pukul setengah empat sore. Padahal kemarin dirinya sudah dimarahin papah Adi, tapi tetap saja dirinya menghubungiku kembali.
"Kita tak baik ngobrol di belakang Kin." aku harus bisa menempatkan diriku, apa lagi Ghifar memiliki niat untuk menikah lagi.
"Kau tak pernah bayangkan kah jadi aku?"
Harusnya aku yang minta dikasihani olehnya. Ada-ada saja Ghifar ini.
"Tak, hidup kau tak kurang apapun." inilah yang ada di pikiranku.
"Sehari dua puluh empat jam. Tapi, keknya Kin marahin aku lebih dari dua puluh empat kali sehari."
"Far... Kau ini laki-laki. Dengan Kin marah terus, berarti ada sesuatu yang tak cocok di hatinya. Jangan melulu sudutin Kin, coba introspeksi diri sendiri. Dia tak mungkin marah-marah tanpa sebab."
__ADS_1
Pola pikir bang Daeng yang mengajarkanku seperti ini. Ia dulu selalu mengatakan bagaimana aku, hingga suamiku bersikap seperti itu. Dengan kalimat tersebut, berarti ia memintaku untuk introspeksi diri.
"Kelak pun kau bakal tau sendiri. Memang sampai saat ini tak ada yang berpihak sama aku. Mereka semua belain Kin, seolah aku yang tak bisa ngertiin dia." Ghifar tengah begitu sensitif sekarang.
Aku menghela nafasku. Rasanya tidak baik berkomunikasi, bahkan curhat tentang rumah tangga masing-masing pihak. Apa lagi, aku dan Ghifar adalah lawan jenis yang dulunya saling mencinta.
"Apa motivasi kau, sampai begitu inginnya nikah lagi? Aku sih cuma nangkep itu dari kau, Far." aku mencoba mengerti dari sudut pandangnya.
"Aku butuh seseorang yang bisa diajak bercanda, aku butuh orang yang bisa ngilangin rasa capek aku lepas pulang kerja. Bukannya nambah beban, dengan aku harus urus ini dan itu."
Ohh, paham aku.
"Berapa lama kau butuh istirahat setelah pulang kerja? Tinggal kau bilang ke Kin." sahutku kemudian.
"Kau tak paham, Canda." suaranya menurun.
"Tak paham di mananya? Kau baru anak dua aja udah begitu, Far. Coba tanya papah Adi. Dia juga handle anak selepas pulang kerja. Aku masih ingat, papah Adi harus cari Gavin kalau dia pulang kerja. Papah Adi sering nyuapin Gibran, di sela waktu istirahatnya di rumah. Tak sekali aku tengok papah lagi mijitin bahu mamah, lagi mijitin kaki mamah di ruang keluarga. Beliau juga handle pakaian kotor, dia juga mampu jadi tempat keluh kesahnya istri dan anak-anaknya. Kau baru dua anak udah ngeluh ini itu, segala mau ambil alih Chandra, Aksa, Key. Jangan bikin aku jadi tersinggung, Far. Aku jadi tak enak hati sama kau, karena udah repotin kau."
"Tapi mamah ngertiin papah, Canda. Kin boro-boro ngertiin aku."
__ADS_1
Aku mengingat kebiasaan mamah Dinda dan Kinasya. Mereka sama-sama melayani suaminya di meja makan, mereka sama-sama mengutamakan kebutuhan suaminya.
"Kin tak ada kurangnya, Far." entah bagaimana aku harus menyadarkan otaknya.
"Keknya, kau cuma bosan aja."
Rasanya aku ingin menengok ke dalam layar. Ada orang lain, yang menimpali obrolanku dan Ghifar.
"Mamah...." Ghifar menyebut nama seseorang yang aku kenali.
Ya, kemarin papah Adi. Sekarang mamah Dinda. Yang membuatku tak enak, takutnya mereka bercerita pada Kinasya bahwa Ghifar bertukar pikiran denganku.
"Tiap malam kebangun, main HP, menyendiri. Apa sih yang kau cari?" aku bisa melihat mamah Dinda melongok ke arah kamera.
"Hai, Mah." aku tersenyum canggung.
"Kau.....
...****************...
__ADS_1
Apa yang akan terjadi 😳