Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD334. Kerumunan di teras toko


__ADS_3

Ternyata ada bangunan baru di sebelah ruko ini. Begitu ramai suasana lepas dzuhur ini.


Apa orang-orang tidak tertidur saat berpuasa?


Yang menambahku bingung. Banyak motor yang terparkir, dengan keranjang besi untuk membawa galon. Tempat pengisian air galon pun, terlihat tengah beroperasi. Namun, bukan cek Iyak yang bekerja.


"Duduk yang nyaman. Perlu ganjalan gak?" bang Daeng membantuku untuk duduk di kursi santai, yang entah milik siapa.


Aku menggeleng, "Begini aja, Bang."


"Itu loh kejutan buat Adek." bang Daeng menunjuk bangunan baru di samping rukoku.


"Sehat, Dek?" tante Bena berjalan ke arahku, aku segera menoleh dan tersenyum padanya.


Aku segera meraih tangannya, lalu menciumnya.


"Mendingan, Te." aku tersenyum ramah.


Om Edi tengah berbicara dengan mangge Yusuf dan perempuan yang mungkin seumuran dengan mamah Dinda. Mas Givan yang turun mendahului tadi, ia tengah berbicara sesuatu pada Zuhdi yang tengah menggendong Hadi.


Bang Ardi muncul, ia langsung berbaur dengan kakaknya itu. Anak-anak pun tengah bermain tanah di depan teras, dengan ibu dan Ria yang menyuapi mereka makan.


Banyak anak di sana, Jasmine pun ikut andil.


"Mudiknya ke sini ya, Te?" aku mengajak ngobrol tante Bena, yang duduk di bangku panjang tak jauh dari tempatku.


"Iya, cuma bang Adi yang tertua. Jadi, adik-adiknya pada mudik ke sini. Zulfa, Zuhra pun ada di sini, kan biar kumpul gitu." ungkapnya dengan tertawa di akhir kalimat.


"Wah, ramai dong. Tante datang sama siapa aja?" tanyaku kemudian.


"Sama om Edi aja. Om Edo baru sampai, Sekar ada di rumah bang Adi."


Oh iya, Sekar adalah anak tunggal om Edo. Om Edo menekuni bisnis ladang seperti papah Adi, tetapi ladangnya diolah menjadi ladang sawit. Istrinya telah meninggal dunia, lima belas tahun belakangan. Istrinya meninggal karena virus yang mematikan, saat masa pandemi berlangsung.


Sampai sekarang, om Edo belum menikah lagi. Ia pernah berkata, ia khawatir istrinya yang bercadar itu tidak bisa bertemu dengannya lagi di akhirat. Jika ia menikah lagi dengan perempuan lain.


Untungnya, Sekar adalah anak yang mandiri. Ia pun, besar dalam lingkungan pesantren. Bahkan, pendidikan terakhirnya di Al-Azhar Mesir. Sekar pun bercadar juga, persis seperti almarhum ibunya.


Sekar, seumuran dengan Giska. Namun, ia belum menikah.


"HEI!!!" Zuhdi berseru, dengan menyembunyikan adiknya di belakang tubuhnya.

__ADS_1


Ia pun menahan dada mas Givan.


Kilat amarah dan ketegangan, terlihat jelas di wajah mas Givan.


"Hei, Bang!" Ghifar langsung menghampiri kakaknya.


Ia merangkul kakaknya, lalu menarik leher kakaknya agar mas Givan tidak bisa menjangkau Ardi.


"An*ing kau, Bang!!!" makian pelan itu, terdengar lirih dengan sorot mata merah.


Bang Ardi terlihat marah pada mas Givan. Mas Givan pun demikian.


Namun, bang Daeng malah mendekati Ardi. Ia berbicara pelan, entah apa yang ia katakan. Tetapi, terlihat pandangannya penuh dengan penekanan.


Bang Ardi pun memperhatikan bang Daeng, dengan memberi anggukan beberapa kali.


"Lepasin, Far!!" mas Givan berontak.


"Ayo kita lapor ke mamah aja, dari pada kau berantem. Nanti lebaran, wajah kau tak glowing lagi Bang." Ghifar menyeret kakaknya pulang, dengan leher mas Givan yang terkunci di lengannya.


Aku terkadang merasa lucu, melihat interaksi mas Givan dan Ghifar.


Saat aku menoleh ke arah bang Daeng. Kerumunan sudah mengerubungi di sana, sampai-sampai Zuhdi dan bang Ardi tidak terlihat.


"KAU PAHAM, GAK?!?"


Aku dan tante Bena sampai tersentak kaget, mendengar suara yang tiba-tiba menggelegar itu. Itu adalah bentakan penuh penekanan dari bang Daeng.


"Ajarin tuh, Di! Kau Abangnya, kau lebih tau adik kau, segala kau bawa resiko berurusan sama keluarga mamah Dinda." bang Daeng menunjuk rumah mamah Dinda, "Ghifar udah bawa pulang abangnya ke sana. Udah pasti ngadu mereka. Adik kau begini, kau berani ambil resiko, segala dukung adik kau." suara bang Daeng cukup keras terbawa angin sampai ke telingaku.


Hadi muncul dari kerumunan. Ia cengengesan dengan berjalan ke arah saudaranya yang lain, yang tengah bermain tanah di tempat yang teduh itu.


Terlihat raut serius Zuhdi, ia sepertinya tengah menjelaskan sesuatu pada bang Daeng. Namun, tidak terdengar ke telingaku.


Aku menoleh ke arah tante Bena, karena tanganku disentuh olehnya.


"Berantem kenapa sih, Canda? Bulan puasa kok berantem? Apa gak pada puasa mereka?" tanyanya dengan fokusnya pada kerumunan itu.


Aku ingin memberitahu saja, bahwa memang bang Daeng dan mas Givan tidak berpuasa. Jika bang Daeng, karena memang tidak disarankan oleh dokter untuk berpuasa. Jika mas Givan, entahlah. Anak sulung mamah Dinda itu, memang berat jika diminta untuk berpuasa. Lima tahun aku hidup dengannya, mas Givan tidak pernah full berpuasa satu bulan. Apa lagi, saat dirinya menjadi pekerja kasaran seperti Zuhdi dulu. Istirahat siang, ia langsung kelabakan mencari air dan minta dibuatkan dua telor ceplok. Padahal, dari malam ia sudah niat puasa dan ikut sahur juga.


Satu dua lah, mamah Dinda dan mas Givan ini. Hanya mereka berdua di rumah itu, yang tidak bisa menahan dahaga dan asam lambungnya.

__ADS_1


"Perbedaan pendapat aja, Te."


Aku tidak mungkin mengatakan, bahwa mereka berkelahi karena memperebutkanku. Memang siapa aku? Menopang tubuhku dengan kakiku saja, aku tidak kuat lama berdiri.


"Bawa pulang dulu adik kau, Di!" om Edi yang berperut buncit itu, memberi penegasan pada Zuhdi.


"Udah tinggal aja dulu Hadi di sini." bang Daeng orang pertama yang keluar dari kerumunan itu.


Ia malah berjalan ke arah anak-anak yang tengah bermain dengan tanah.


Aku kembali memperhatikan kerumunan yang mulai bubar itu. Sangat terlihat jelas, sorot mata bang Ardi memerah penuh amarah.


Setelah itu, Zuhdi langsung menarik adiknya. Mereka menaiki motor milik Zuhdi, yang langsung berlalu pergi.


"Lah... Hadi ditinggal." ekspresi Hadi begitu menyedihkan, saat melihat motor tersebut semakin menjauh.


"Iya ya? Ditinggal, kasian!" bang Daeng memanas-manasi Hadi.


Sepertinya, ia sengaja ingin membuat Hadi menangis.


"Mangge batat!" Hadi memelototi bang Daeng, garis bibirnya tertarik ke bawah, jagoan yang ingin memiliki adik itu sepertinya siap menangis.


"Hadi batat juga!" bang Daeng malah menjulurkan li*ahnya, mengejek Hadi.


"Huh!" Hadi melangkah pergi menuju ke rumah mamah Dinda, dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke tanah.


"Huuu, wadulan! Lapor nenek!" seru bang Daeng seperti anak kecil.


Namun, Hadi langsung berlari cepat dengan tangisnya yang pecah.


Dasar, Nalendra.


Pasti Hadi melebih-lebihkan, ketika melapor ke neneknya. Aku jadi membayangkan, bagaimana hebohnya Hadi mengadu pada neneknya itu.


"Godain Hadi terus kau, Len! Neneknya galak juga." ujar mangge Yusuf, dengan berjalan ke arahku.


Lalu, wanita yang seumuran dengan mamah Dinda itu mengikuti gerak langkah mangge Yusuf. Ia duduk di samping mangge Yusuf, yang duduk di kursi plastik berwarna hijau.


Siapa ya dia?


Apa itu saudaranya mangge Yusuf?

__ADS_1


...****************...


Apakah kalian bisa membayangkan suasana di sana 😌 novel mana lagi coba, yang setting tempatnya begitu rinci 😜 🤣🙈🤭


__ADS_2