
Aku melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Dengan perlahan, aku pun bisa melihat dan meraba dada bidangnya.
"Aku harus gimana lagi?" aku berbicara lirih. Sebenarnya aku tengah pusing sendiri, memikirkan cara agar ia segera membalikkan tubuhku.
"Ikuti naluri aja. Adek memang butuh apa dari Abang?" ia menarik daguku, agar mendongak menatap wajahnya.
"Naluri Abang lah!" aku menepuk pelan dadanya.
"Dihhh... Siapa yang mau?" ia memasang wajah sombongnya.
Kok bisa ada laki-laki, pengantin baru, lalu diterjang haid. Lalu ai bisa menahan sampai hari ini? Untuk memastikan darah haidku benar-benar berhenti, aku menambah satu hari sebelum bersuci. Totalnya, kira-kira sekitar delapan hari.
"Kok Abang gitu? Itu nafkah aku." aku memukul pelan dadanya lagi.
"Kalau memang itu nafkah Adek, ya tuntutlah nafkah itu dari Abang."
Apa ia tengah menantangku?
__ADS_1
"Aku gak paham harus gimana." aku langsung murung.
Aku mendengar ia membuang nafasnya kasar, "Tujuan Adek nindihin Abang kek gini buat apa? Mau langsung telan*angin kah? Mau langsung masukin kah? Atau mau manasin Abang dan Adek sendiri?"
Aku ini benar-benar payah sepertinya. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi setelah ini.
"Jawab!" tegasnya kemudian. Namun, tidak menggunakan bentakan.
"Mau buka baju, terus mesra-mesraan. Terus kek waktu itu, gantian servis. Terus baru deh kek gitu-gitu." jujur, aku malu berterus terang seperti ini.
Sekarang pun, aku fokus melihat dadanya saja. Aku tak melihat wajahnya, aku takut dan aku tidak berani.
Aku hanya bisa menunduk, menolak untuk berpandangan dengannya. Tapi aku mendengar jelas setiap lontarannya. Bang Daeng ingin aku memiliki ilmu basic, untuk memuaskan dirinya. Hanya itu, yang aku pahami.
Aku pun merasa heran sekarang. Aku pernah berumah tangga selama lima tahun, tapi aku tidak mengerti caranya memancing gairah laki-laki.
"Uhhh." tubuhku terbanting pelan.
__ADS_1
Aku langsung dikunci di bawahnya. Sorot matanya menakutkan, ia seperti tengah marah padaku.
"Jadilah perempuan yang pintar nyetirin laki-laki. Biar gak kejadian jadi janda lagi, karena Abang laki-laki normal. Jangan sampai lengah, jangan kasih Abang kesempatan buat menikmati keindahan perempuan lain. Adek pegang uang yang Abang kasih, pergunakan untuk mempercantik diri. Adek paham, barang-barang apa yang Adek butuhkan untuk memantaskan penampilan Adek. Bukan Abang nuntut Adek selalu rapih, atau harus selera pakaiannya yang mahal. Tapi Abang pengen, Adek selalu terlihat menarik di pandangan Abang. Laki-laki itu suka keindahan, Dek. Alami, bukan berarti tidak dirawat dan dipoles. Abang paham, sepuluh juta gak cukup buat segalanya. Tapi ini untuk sementara waktu, sampai keadaan Abang stabil. Abang mohon pengertiannya tentang ini, Dek." ungkapnya dengan sorot mata yang membunuh tersebut.
Aku mengangguk cepat, karena aku tidak bisa berkata-kata lagi jika ia sudah seperti ini.
"Ughhhh..." aku merasa r*masan kuat di dadaku.
Kenapa ia tiba-tiba kasar seperti ini?
Ia bangkit, lalu ia begitu buru-buru melucuti pakaianku. Tanpa jejak giginya lagi, ia langsung menjulurkan lidahnya ke tengah-tengah tubuhku. Ia aktif di bawah sana, dengan kakiku yang terbentang luas.
Hari ini ia sedikit kasar, permainan lidahnya di bawah sana tidak mencerminkan kelembutan.
Apa ia tengah marah padaku?
...****************...
__ADS_1
Coba tebak? Daeng ini misterius betul sih 🤔