Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD344. Banyak pembangunan


__ADS_3

"Aku lagi di jalan, Mbak. Lagi ke rumah sakit, sama kak Ifa sama Key juga."


Rumah sakit?


Aku langsung panik, "Siapa yang sakit?"


"Kan Mbak yang sakit kan? Apa Mbak ada hotel, lagi healing?"


Usap dada pada adik yang bongsor, tetapi kocak ini.


"Iya, Mbak di rumah sakit. Kirain siapa gitu yang sakit lagi."


"Iya, Mbak. Bang Lendra naik helikopter, sama mamah, sama kak Kin juga. Mau ke hospital yang di Singapore katanya. Biar apa tuh, Kak?" Ria pun sambil berbicara dengan orang lain.


"Anu. Rekam medis gitu." aku bisa mendengar suara kak Ifa.


"Ah, iya. Mau lihat rekam medisnya bang Lendra, terus mau terbang ke rumah sakit lainnya. Rumah sakit yang bagus gitu, Mbak."


Sudahlah.


Aku lesu sekarang. Benar kan? Bang Daeng tengah sakit parah lagi.


"Helikopter apa pesawat?" tanyaku kemudian.


"Helikopter, parkir di belakang rumah bang Ghifar. Kan di belakang sana, masih kek lapangan besar."


Keren, keren.


"Helikopternya siapa, Dek? Perasaaan mamah Dinda tak begitu kaya deh."


Ya, jika dibandingkan dengan Rafi Ahmad. Mamah Dinda dan papah Adi bukanlah tandingan Rafi Ahmad.


"Kak Putri, Mbak. Kak Putri ada di rumah papah."


Rasanya, otak dan pikirku tidak sejalan. Belum lagi hati yang mulai memanas, dengan rasa kesal yang mengumpul.


"Chandra, Zio sama Ceysa sama siapa?"


"Chandra dibawa papah ke ladang. Zio main ke Hadi sama ibu. Ceysa dibawa bang Givan ke toko tadi sih. Ceysa rewel, Mbak. Nangis aja, minta ikut mangganya."


Huft, aku harus lebih sabar.


"Manggenya, Ria!" aku ngotot-ngotot pada ponsel ini.


Ria tertawa lepas, "Iya, Mbak. Dari semalam, Ceysa rewel aja."


Kapan ya kira-kira bang Daeng berangkat?

__ADS_1


Aduh, pikiranku mulai berkelana.


"Naik apa kau, Dek? Sampai mana?" tanyaku kemudian.


"Naik angkot, Mbak. Nyampe lampu merah. Tapi aku bawa chicken katsu aja, Mbak. Aku gak bawa empat sehat."


"Ya udah ati-ati."


"Ya, Mbak."


Panggilan terputus.


Aku menggenggam ponselku, dengan memandang langit-langit rumah sakit. Banyak pertanyaan bermunculan di otakku.


Aku tidak pernah tenang, jika sudah memikirkan bang Daeng.


Beberapa saat kemudian, aku sudah tidak kesepian lagi. Ada Key yang selalu nyerocos saja. Sulung mas Givan itu, tidak memiliki gigi depan sekarang. Gigi susunya mulai tanggal satu persatu.


"Biyung... Aku tuh doain Biyung terus. Biar Biyung pulang ke rumah lagi. Biar tetap punya Biyung, meski tak bobo sama aku lagi. Aku tak apa kok, yang penting masih punya Biyung. Aku suka kesel sama mamah, mamah nakal, rese, tukang ngeledek." Key bersedekap tangan dengan memutar bola matanya.


Anak ini sudah bertambah ganjen.


"Memang tak mau bobo sama mamah aja?" aku mengusap surainya yang berantakan.


Key belum terbiasa berkerudung. Mungkin saat itu sudah menginjak sekolah dasar, Key harus diberi penegasan untuk berhijab.


Key sudah terbiasa dengan keluarga dari ayahnya.


"Jadi ikut sapa maunya?" tanyaku kemudian.


Aku bangkit, lalu menerima sekotak makanan dari Ria.


"Kata ayah Givan, aku ikut Biyung. Kan, rumah untuk aku, Chandra sama Zio lagi dibuat tau. Terus, di ujung jalan itu. Dekat jamboe itu, lagi dibangun masjid. Rumah adek Ceysa pun, lagi dibuat lagi, di belakang rumah bang Chandra." ia membuat isyarat yang tidak jelas dengan jemarinya, "Kek gini loh, Biyung."


Aku mengangguk, meski sulit dimengerti.


"Rumah Jasmine juga dibuat."


Aku lekas menoleh, saat kak Ifa menimpali.


Baru tiga hari saja, sudah ada proyek besar-besaran di sana.


Aku mulai menyuapi Key, kemudian aku pun mencicipi chicken katsu yang Ria bawakan ini.


"Itu dari papah Adi semua kah, Kak?" tanyaku pada kak Ifa yang duduk di tepian ranjang.


Sedangkan Ria, ia sudah khusyuk bermain ponsel di spring bed single itu.

__ADS_1


Kak Ifa menggeleng, "Rumah Key, Chandra, Zio dari bang Givan. Masjid itu, dari bang Lendra. Jadi, dia beli tanah. Lalu sengaja diwakafkan untuk dibuat masjid. Nah yang di tanah lapang yang sama, tempat bang Givan buat rumah, bang Lendra bangunkan rumah untuk Jasmine dan Ceysa lagi. Karena rumah yang dekat ruko, itu buat ibu sambungnya bang Lendra. Tapi biasa. Pakai jual beli ke cek Adi, karena batas tanah kan sifatnya sensitif. Apa lagi, bukan buat cucu mahkota sendiri."


Aku memahami cerita versi lengkap itu.


"Di rumah ada siapa aja, Kak?" tanyaku kemudian.


"Ada Winda sama anaknya, Giska sama anaknya, ada Putri juga. Sementara waktu, Winda sama Ghava, juga Giska sama Zuhdi diminta tinggal di situ dulu. Suruh bantuin urus Gavin dan Gibran. Ceysa, Chandra, Zio, Ria, sama ibu sih biasa, bolak-balik terus."


Aku mengerutkan keningku, "Mas Givan di mana, Kak?" aku teringat akan mantan suamiku yang sudah memiliki rumah sendiri.


"Nah itu. Bang Givan udah punya rumah juga, tidurnya di rumah pak cek Adi terus. Mak cek Dinda sampai ngomel terus, katanya kalau rumah kosong nanti dihuni setan."


Apa ya alasannya mas Givan enggan menempati rumahnya sendiri?


"Terus rumah mas Givan ditempatin siapa, Kak?"


Saat aku masih berada di sana pun, rumah mas Givan tetap kosong.


"Pagi tadi sih, Novi diminta nempatin rumah itu. Bahkan, bang Givan sendiri yang bantu Novi pindahan. Gara-gara mak cek Dinda ngomel itulah, jadi bang Givan inisiatif nyuruh Novi nempatin." kak Ifa menarik nafasnya lebih panjang, "Bangun rumah anak-anak juga, entah bang Givan itu mau siapa yang nempatin. Anak-anak masih butuh pengasuh, mana bisa hidup mandiri sekalian ngurus rumah. Sampai papah curiga, katanya jangan-jangan dapat bagian dari uang koruptor ya. Kan sengaja dibangun tempat gitu, biar jejak uangnya gak ketahuan. Pencucian uang gitu lah, Canda."


Aku manggut-manggut mengerti. Masuk akal juga tuduhan papah. Namun, rasanya mas Givan tidak akan mau ikut andil dalam pencucian uang.


"Biyung... Coba telpon papa, aku tak mau pulang naik angkot lagi. Berhentinya dadakan, aku mual-mual." Key memegangi perut bagian atasnya.


Memang beda ya naik mobil pribadi dan angkot?


Dasar bibit orang kaya, memang sudah beda.


"Nginep aja lah, temenin Biyung. Biyung takut malam nanti sendirian. Tadi aja Biyung udah panik, dari pagi sampai siang tak ada yang nemenin Biyung." aku mengusap-usap pipinya.


Aku heran dengan keturunan mas Givan ini. Bukannya ia mirip ibu kandungnya, atau mirip ayah biologisnya. Tapi, ia malah mirip neneknya. Ya iya, siapa lagi kalau bukan mamah Dinda.


Urat judesnya, mata sipit panjang dan hidung kecil tetapi tinggi itu, seperti mencomot dari wajah mamah Dinda. Padahal, jelas mamah Dinda tak campur tangan saat pembuatan Key dulu.


"Ahh, iya Bang."


Aku menoleh cepat pada Ria. Ia tiba-tiba bangkit dan menempelkan ponselnya, sembari berjalan ke arahku.


"Iya, Bang. Ini nih Mbak Candanya." Ria mengulurkan ponselnya padaku.


...****************...


Siapa ya yang minta ngomong sama Canda?


Keponakan aku juga mirip ibu aku 😂 katanya pas hamilnya, kakak ipar aku suka dongkol hati sama ibu aku 😆


Denah lokasi

__ADS_1



__ADS_2