
"Eh itu rumah makan Sunda. Di situ aja ya?" mas Givan langsung berbelok ke arah parkiran tempat tersebut.
"Mas, aku mau lalab petai mentah ya? Boleh ya, Mas?" ungkapku cepat, setelah ia memarkir motornya.
Asal kalian tahu saja, alisnya menyatu dengan cukup lama. Ia memandangku begitu lama. Ia pun tak menjawab apapun.
Namun, senyumnya langsung terukir. Ia merangkulku dengan berjalan ke arah rumah makan tersebut.
"Asal pakai obat kumur ya? Minum yang banyak, minum vitamin B12 juga, biar pipisnya tak bau petai." ia mengusap-usap kepalaku.
Romantisnya sedikit. Tapi begitu menyentuh hatiku.
Aku baru tahu hari ini, kalau bau di petai bisa dilawan dengan vitamin tersebut.
"Jengkol juga ya, Mas?"
Mas Givan hanya mengangguk, karena ia sudah tersenyum dengan berbicara dengan pelayan rumah makan ini. Meski rumah tangga makan Sunda, pelayannya menggunakan bahasa Aceh tengah. Aceh Gayo ya sepertinya, bahasa yang mereka pakai.
Aku dan author tidak bisa, makanya author tidak pernah menariknya. Karena yang benar saja, masa iya setting di Aceh Tengah. Tapi bahasanya, menggunakan bahasa Aceh. Karena umumnya, Aceh tengah menggunakan bahasa Gayo.
Ah sudahlah, jangan dibahas. Author baperan soalnya. Maklum, wawasannya dan jam terbangnya kurang. Membuat authorku, menjadi penulis amatiran.
Dengan bahagianya, aku menikmati makanan serba mentah ini dengan ditemani suami yang senantiasa tersenyum. Ia juga ikut makan, ditambah dengan macam-macam sayur mentah kesukaan mas Givan lainnya.
Jengkol yang aku makan mentah ini, jengkol kecil yang berwarna masih hijau. Menurut mas Givan, jengkol kecil ini disebutnya jering di daerah Cirebon. Entah jika di macam-macam daerah, pasti memiliki sebutan tersendiri.
Aku baru merasakan hari ini nikmatnya makan dengan lalaban. Pantas saja, mas Givan selalu lahap jika makan dengan lalaban.
Kebahagiaanku bertambah, karena aku singgah di butik dan toko kosmetik juga. Aku sekarang memiliki lima lipstik, untuk aku ganti setiap waktu sholat.
Pulangnya pun, kami singgah dulu di tempat mie ayam bakso ceker. Bahagia sesuai porsinya. Karena hanya ini porsi kebahagiaanku.
~
Sungguh aku tidak mengerti, kenapa rumah mamah Dinda begitu berantakan? Padahal anak-anak, diungsikan ke rumah tante Shasha.
Satu prasangka jelek mas Givan, yaitu rumah dimasuki pencuri.
"Dek.... Salah paham aja ini, Dek." papah Adi berjalan cepat ke arah kamar.
Namun, pintu tertutup sempurna sebelum papah Adi masuk.
Beliau menatap kami dan anak-anak yang baru datang. Dari netranya, aku bisa menangkap ekspresi kebingungan.
Apa mereka bertengkar?
Tapi karena hal apa?
__ADS_1
Kenapa terlihat begitu fatal?
Aku berpikir ini begitu fatal, karena rumah begitu acak-acakan. Pot bunga hias yang berada di dalam ruangan pun, sampai tumpah dengan tanah yang berceceran.
"Kenapa, Pah?" tanya mas Givan, pandangannya fokus ke arah ayah sambungnya.
"Ke kamar yuk?" aku menggiring ketiga anak ini.
Chandra, Hadi dan Ceysa. Dari cerita tante Shasha, Kaf sudah dijemput oleh Ghifar.
"Biyung.... Di kamar luas aja, sama kak Key." tutur Chandra dengan menarik-narik bajuku.
Meski Chandra dipanggil abang oleh kakaknya, tapi ia memanggil kakaknya juga dengan sebutan kakak.
"Dek bobo Yayah." Ceysa malah berlari kembali ke mas Givan.
"Sama Biyung dulu, Nak. Nanti Adek Ces Yayah ajak bobo, Yayah mau mandi dulu ya?" mas Givan mengusap-usap pucuk kepala Ceysa dengan tersenyum manis.
"Dek atuk, bobo Yayah." Ceysa merengek dengan menjambak rambutnya.
Sepertinya, Ceysa tidak tidur siang.
"Sini, gendong sama Yayah." mas Givan mengangkat tubuh mungil itu.
Mas Givan meluruskan pandangannya padaku, "Urus dulu Hadi sama Chandra, Canda. Ajak mereka ke atas aja." perintahnya mengalun dengan nada lembut.
Untungnya aku sudah makan. Aku tinggal memandikan dan mengisi perut anak-anak saja. Seperti biasa, jika makan ramai-ramai anak-anak terlihat lahap. Key, Chandra dan Hadi makan sampai berebut. Kak Ifa sampai tertawa saja.
"Kak, papah sama mamah berantem kah?" tanyaku, setelah selesai menyuapi mereka bertiga makan.
Kak Ifa mengangguk samar, ia menaruh telapak tangannya lurus di dekat bibirnya.
"Berantem, gara-gara HP. Tadi aku di halaman belakang sama Key. Ada keributan gitu, aku langsung bawa Key ke atas aja." suaranya terdengar bisik-bisik.
Sekalipun suaranya berbicara normal juga, sepertinya tidak akan terdengar ke telinga mereka yang berada di bawah. Ya, beginilah jika niat berghibah.
Jadi, ponsel ya yang membuat mertuaku sampai menghancurkan tata letak barang-barang di rumah? Sound sistem yang menggantung di sebelah televisi saja, sampai jatuh dengan isinya yang berantakan.
"Perempuan lain kah?" aku sedikit ragu sebenarnya. Karena rasanya tidak mungkin saja.
Papah Adi begitu mencintai istrinya.
"Keknya sih. Soalnya setelah masak tuh, mak cek Dinda manggil Hala ke rumah. Feeling aku sih, keknya orang tersebut dari daerahnya Hala. Pak cek Adi kan urus ladang Ceysa di Pintu Rime Gayo, Hala kan asli Pintu Rime Gayo juga. Kau mikir ke situ tak, Canda?"
Aku manggut-manggut, dengan mengusap-usap daguku. Sebenarnya tidak mengerti, tapi akan aku pikirkan.
"Agak-agak tak yakin sih, Kak. Soalnya kan, papah ini bucin kali loh sama mamah."
__ADS_1
Srekkkk.....
Hufttt... Hampir saja serangan jantung. Aku kira tadi mas Givan, ternyata itu si bungsu yang paling ganteng.
"Kakak Ipar, lauk pauk berantakan semua. Piring-piring pada pecah, aku belum makan nih." wajahnya terlihat memelas.
Aku melambaikan tanganku padanya, "Sini masuk."
Gibran mengangguk, kemudian ia mulai menginjak kasur seisi ruangan ini.
"Dari mana tadi? Bang Gavin mana?" tanyaku, setelah Gibran duduk di sampingku.
"Aku dari meunasah. Bang Gavin diajak ayah Jefri dari siang. Katanya liat-liat pondokan di daerah sini dulu, mana tau cocok." ujarnya dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur ini.
"Kak, bilang mamah dong. Aku juga ikut ke pesantren aja sama bang Gavin, aku tak mau di sini sendiri. Aku tak ada kawan main, Kak." anak usia sebelas tahun ini, sudah memiliki dada yang terlihat lebar.
"Nanti tetep SD loh, Dek. Tapi, namanya MI."
Gibran mengangguk, "Ya tak apa, yang penting jangan di rumah sendirian. Tak ada teman seumuran. Aku tak mungkin main sama Chandra, sama Hadi apalagi." Gibran membuang nafasnya perlahan.
Aku mengangguk, "Ya udah, nanti Kakak sampaikan ke mamah ya? Sekarang mau makan apa?" tanyaku kemudian.
"Ketoprak sih, Kak. Tadi aku bilang bang Givan, katanya minta sama Kakak Ipar aja di atas." ujarnya dengan menarik kaki Key.
"Abang....." Key tertawa geli.
"Key di atas aja sih siang tadi, Abang tak ada kawan." sepertinya, ucapannya dari hati.
Ditambah lagi mamah Dinda dan papah Adi berantem, pasti Gibran merasa bertambah stress di rumah ini.
"Jagain anak-anak ya? Kakak mau belikan dulu." aku bangkit dari dudukku, dengan membawa mangkuk plastik ini.
Memang keadaan dapur begitu kacau. Aku belum sempat membereskan, karena anak-anak sudah minta makan tadi.
"Jangan pedas, Kak."
"Ya." aku melanjutkan langkahku menuju pintu.
Aku hanya menaruh mangkuk kotor di dekat wastafel, kemudian keluar dari pintu samping rumah. Rumah pun begitu sepi, lampu-lampunya pun belum menyala semua.
Ke mana perginya mas Givan dan papah Adi? Ceysa juga tidak ada suaranya.
Tidak jauh pedagang ketoprak di sini, di ujung jalan gang rukoku. Namun, aku malah mendengar suara mas Givan lamat-lamat. Aku melirik keadaan sekitar, semampu ekor mataku saja.
Sudah gondok saja hatiku, melihat sendal mas Givan berada di sebelah rukoku. Kalian pasti tahu, ruko siapa itu.
...****************...
__ADS_1
Ruko mangge Yusuf, atas nama Ceysa Ayanda Mamonto 😑 Memang ada apa di ruko itu, Cendol?