Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD312. Resiko usaha


__ADS_3

"Banyak lagi, Mah. Aku tadi cuma nyebutin yang terburuk dan yang teringannya aja. Bisa juga karena faktor, program diet yang salah, asupan diet yang berkurang atau dalam bahasa kitanya decreased dietarty intake. Penggunaan enema, cairan yang disuntikkan ke saluran pembuangan untuk membersihkan pencernaan. Bisa juga karena obat pencahar, lexative. Tapi menurut aku, Canda ini tak mungkin ngelakuin program diet ekstrim kek gitu. Menurut aku sih, bukan karena faktor yang baru aku sebutin ini. Canda menderita hipokalemia, karena aktivitasnya berjualan itu. Yang pertama, karena berkeringat berlebih. Yang kedua, mungkin karena kekurangan magnesium. Jadi, asupan Canda kemarin kurang terjaga. Terus gimana lagi katanya, Mah?"


"Pengobatan di sini dulu, sekitar tiga hari atau seminggu. Kalau udah mendingan, Canda boleh dibawa pulang. Cuma harus rutin periksa secara berkala, sampai stabil keadaannya." terang mamah Dinda dengan mengusap kepalaku.


"Nanti aku bantu asupan yang menunjang, Mah. Bisa minta tolong fotokan hasil tesnya tak, Mah?"


Tentu bukan tes semester yang dimaksud. Tes darah mungkin ya? Karena aku tidak paham juga apa tes yang dimaksud.


"Iya, Dek. Nanti Mamah kirim." sanggup mamah Dinda kemudian.


"Ya udah, Mah. Assalamualaikum." Kinasya menutup panggilan telepon itu.


"Wa'alaikum salam." mamah Dinda menggulirkan layar ponsel Ghava. Lalu menaruhnya di atas nakas.


Kemudian, beliau menatapku begitu sendu.


"Kau jangan sakit-sakitan coba, Dek! Mamah kan udah kasih peringatan di awal, tapi kau tak pernah mau dengar. Gini nih, kalau anak yang tak nurut ke orang tua." mamah Dinda mulai memarahiku.


"Maaf, Mah." aku menggenggam tangan kiri beliau.


"Maaf! Maaf! Udah tak guna lagi!" mamah Dinda memalingkan pandangannya, serta menarik tangannya.


"Jadi pedagang makanan itu capek. Ngolah bumbu, siapin bahan-bahan, belum masaknya. Udah gitu, belum layanin pembeli. Mana kan, kita harus cuci piring dan alat-alat yang kita pakai setelah berjualan itu. Ditambah ada anak, kau mesti ngeladenin anak kau. Memang, Mamah ada usaha jualan makanan kek kau?" ia menoleh ke arahku, "Tak ada tuh." beliau menjawabnya sendiri.


"Ghavi aja kan, coffe shop. Apa memang dia jualan? Cuma nyeduh kopi dari awal buka usaha. Menu tambahannya sekarang, bukan makanan berat. Kue balok isian cream kopi, puding kopi, terus olahan kopi lainnya. Itu pun, pakai pegawai. Dari awal, tak pernah benar-benar jualan makanan sendiri. Udah tuh, selain itu tak ada usaha makanan lain." mamah Dinda bersedekap tangan dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Dulu-dulu, paling Mamah usaha jualan pakaian. Tapi lebih dominan kerja sama nulis, ketimbang nekunin bisnis itu. Karena capek, ditambah lagi harus ke sana ke mari sendiri. Orang buka usaha itu, harus dipikirkan dulu resikonya." mamah Dinda melirikku, "Bukan resiko laku tak lakunya, atau basi. Tapi badan kita kuat tak? Kau harus tau kondisi diri kau sendiri. Kasarnya, kau udah susah nih. Jangan sampai bikin tambah susah diri kau sendiri karena sakit."


Mamah Dinda membuang nafasnya, "Kalau udah mentok usaha makanan, kau mampu jualin satu kilo bahan olahan. Ya udah tuh, kau tutup kalau habis. Bukan terus-terusan nambah bahan, karena dagangan kau laku keras. Terus kita kan fisik manusia. Sekolah aja, ada liburnya Dek." pandangan mamah Dinda cukup menakutkan, "Kau jualan, tak ada libur-liburnya. Ya memang, kau butuh untuk makan. Pembeli pasti ada, karena mereka pun butuh makanan juga. Tapi tak gitu konsepnya berjualan, Canda! Kecuali, kau ada pegawai." mamah Dinda menekankan kalimatnya di akhir.


"Kau seneng, dagangan kau laku, uang jadi banyak, kebutuhan kecukupan semua, bahkan kelebihan. Tapi...." mamah Dinda mengacungkan jari telunjuknya, "Masanya kau sakit, uang tabungan hasil jualan kau habis buat pengobatan kau."


Aku hanya bisa diam. Karena yang diucapkan mamah Dinda, tidak salah. Benar-benar tepat, dengan pemahaman yang mudah.

__ADS_1


Kenapa aku selalu seperti ini?


Bahkan, dari awal aku tidak pernah memikirkan resiko untuk kesehatanku sendiri.


"Orang tuh minta pendapat, jualan apa ya Mah? Gitu." mamah Dinda menirukan suaraku, "Bukannya langsung main buka lapak, terus ramai promosi, bahwa kau jualan makanan."


Aku seperti tersadar, akan semua tindakanku.


"Kau yang ngerasa awam, amatiran, tak punya pengalaman apa-apa tuh, ya cerita, tukar pikiran, buka mulut kau. Bukan langsung mutusin, bahwa kau mau jualan makanan, karena makanan yang kau buat itu enak."


Aku terisak, aku tertekan terus-menerus disadarkan.


Sungguh, aku menyesal.


Aku menggenggam tangan kiri beliau, "Mamah, aku minta maaf." ucapku kemudian.


Mamah Dinda melirikku.


Sejurus kemudian, beliau langsung memelukku.


Aku mengangguk dalam dekapan beliau, "Iya, Mah. Aku janji, tak kek gitu lagi." ujarku kemudian.


Mamah Dinda melepaskan pelukannya, "Jangan stress, biar keadaan kau cepat pulih." beliau tersenyum samar.


"Mah.... Gimana Ceysa? Lendra ada ngabarin belum?" aku masih memegangi tangan beliau.


"Kenapa sih dengan Lendra? Jujur sama Mamah, kau masih berharap kah?"


Aku langsung diam.


"Kau tertarik betul, dengan topik pembicaraan tentang Lendra." tambah mamah Dinda.


"Aku...."

__ADS_1


Aku ragu untuk mengatakannya.


Beberapa bulan lalu, duniaku begitu tertarik dengan sosok Ardi. Ia tampan, rupawan, manis dan selera humornya bagus.


Hanya saja, sikapnya pada anak-anakku kurang mengenakkan. Menurutku, dia belum terbiasa dengan adanya anak.


Ya memang, pasti seperti itu. Karena statusnya bujang, boro-boro ia paham caranya mengasuh anak.


Ditambah lagi, pembohongan yang ia berikan.


Aku merasa, tidak pernah menduakan laki-laki. Tapi, aku masuk ke hatinya Ardi dengan status orang ketiga. Secara tidak langsung, aku merusak hubungannya dengan Aini.


Harapanku, angan-anganku, impianku bersama bang Ardi. Rasanya lenyap begitu saja, saat Aini mengakui bahwa hubungannya kandas dua bulan yang lalu. Sedangkan saat itu, hubunganku dengan bang Ardi sudah lewat dari tiga bulan lamanya.


Aku paham, aku yang dipilihnya, ketimbang Aini. Tapi, cara aku masuk ke hatinya sudah salah. Aku hadir, saat dirinya masih dimiliki oleh wanita lain.


Aku takut, suatu saat keadaan membalikkan posisiku. Aku takut, malah aku diduakan oleh bang Ardi. Karena jejak petualang cintanya seperti itu.


Berbeda dengan kasusnya bang Daeng. Ia menikahiku, karena ia mencintaiku. Meski, itu berat dan berisiko untuknya, karena ia memiliki sejumlah rahasia besar di belakangku. Ia tetap mengambil keputusan untuk menikah denganku, karena ia takut kehilangan cintanya.


Ditambah lagi, bang Daeng begitu meratukanku. Ia mengerti caranya mengasuh Chandra, yang jelas Chandra adalah anak tirinya.


Kenapa aku selalu membedakan antara satu laki-laki, dengan laki-laki lainnya?


Meski aku paham, matahari dan bulan akan bersinar saat waktunya tiba.


Ya, aku menarik kalimat itu. Karena pasti semua orang, juga laki-laki yang aku sebutkan tadi. Mereka semua, pasti memiliki sisi baik dan buruknya. Mereka pun akan menjadi yang terbaik untuk pasangan mereka, saat waktunya tiba.


"Kau masih cinta sama Lendra, Canda?"


Lamunanku buyar seketika.


...****************...

__ADS_1


Mau rebut bang Lendra, takut gak sebanding 🙈 mau rebut papah Adi, sadar diri bukan tandingan mamah Dinda 😢 aku tetap mempertahankan sematan istri angkat aja untuk papah Adi 😂🤭


__ADS_2