Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD369. Ceysa dan ayah sambung


__ADS_3

"Yayah....." Ceysa berlari lebih dulu, menghampiri laki-laki yang menentang beberapa kantong belanjaan tersebut.


Lagi dan lagi. Aku diingatkan sosok ayah kandung Ceysa, saat ia datang dari pekerjaannya yang cukup jauh.


Ya Allah, aku merindukannya.


"Hei, si Unyil masih inget Yayah ya rupanya?" mas Givan langsung mengangkat tubuh mungil Ceysa.


"Jajan, Yah. Alan-alan." Ceysa menunjuk ke luar pagar.


"Iya, besok ya? Kita CFD." mas Givan berjalan ke arahku.


Ia memberikan kantong belanjaannya padaku, kemudian menggandeng dan mengajak anak-anak untuk masuk.


Tepuk jidat sudah. Aku sudah tidak bebas lagi.


Saat aku masuk, anak-anak begitu girang bergurau dengan mas Givan.


"Kal bobo sini aja ya? Udah malam, tak ada yang anter. Nenek udah kecapean tuh." mas Givan menunjuk ibunya dengan dagunya.


Mamah Dinda sudah santai rebahan, dengan tanpa mengenakan hijab. Yang artinya, beliau sudah tidak mau diganggu lagi.


"Kau kan tau Ifa pulang kalau sabtu sore. Ajak lah mereka ke kamar kau semua sana. Kek yang iya, segala ngajakin Kal nginep." mamah Dinda melirik anak sulungnya.


"Nanti aku pompa kasur angin." mas Givan melepaskan jaketnya, kemudian kemejanya.


Bau khasnya langsung semerbak, sepertinya ia belum mandi. Entah ia banyak berkeringat lagi.


"Ayah mandi dulu ya?" mas Givan mencium pipi Key.


"Ajak bang Chandra mandi juga tuh, Yah."


"Besok lagi, besok beli kolam renang yang Key minta tuh. Yang ditiup kah? Ya?" mas Givan masih menciumi anaknya yang mirip neneknya itu.


"Iya, Yah. Yang besar, biar saudara aku bisa ikut renang semua." Key sampai merentangkan kedua tangannya.


"Aku Bumblebee, Yah. Optimus Prime yang ada topengnya juga." Chandra langsung menyerobot untuk duduk di pangkuan ayahnya.


"Iya, iya. Besok kita cari di CFD ya? Kalau tak ada nanti Sh*pee COD aja." mas Givan mengusap-usap rambut gondrong Chandra yang diikat.


"Nana! Dek uduk nana?!" Ceysa mengusir kedua kakaknya yang menempel pada ayahnya tersebut.


Mas Givan tertawa geli, "Adek Ces mau apa?" mas Givan mengisengi Ceysa, ia mempertahankan kedua anaknya itu untuk duduk di dekapannya.


"Dek uduk Yayah." Ceysa bahkan sampai menarik tangan mas Givan yang mampu ia raih.


"Yayah nasi lengko aja, jangan nasi uduk lagi." mas Givan mengerjai Ceysa.


Aku bisa melihat mata bang Daeng yang mekar sempurna dalam indra penglihatan Ceysa. Begitu polosnya mata itu menatap bingung mas Givan.

__ADS_1


"Jangan ngerjain Ceysa, Van! Udah lagi adem dia jarang nangis." seru mamah Dinda, tanpa memalingkan fokusnya pada televisi.


"Iya, iya. Sini, Adek Ces duduk Yayah juga." mas Givan menarik Ceysa, untuk menyelinap di antara kakaknya itu.


"Dek ta buba, Yah." Ceysa mendongak, jemari kecilnya menyentuh jakun mas Givan.


"Sempit, Adek Ceysa." Key bangun dari belenggu ayahnya tersebut.


Key memilih untuk duduk di atas pangkuanku ini.


"Adek mau berubah jadi apa? Bang Chandra mau berubah jadi autobot ya, Bang?" mas Givan menunduk, lalu mengusap-usap rambut Chandra.


"Buba! Buba nah! Mamam, uket." Ceysa mengisyaratkan jarinya yang masuk ke mulutnya.


"Mamam?" mas Givan menaikan sebelah alisnya.


Aku sudah menahan tawa di sini.


"Iya, Yah. Buba nah." jelas Ceysa lagi.


Ia bangkit dari pangkuan ayahnya, lalu ai nyelonong begitu saja ke kamar paman bungsunya yang terbuka lebar.


Tak lama, Ceysa muncul dengan membawa boneka berbentuk seperti cup minuman.


"Boneka boba itu." ungkap mas Givan, dengan menunjuk Ceysa yang menggendong boneka berukuran sedang itu.


Ceysa mencomot bulatan hitam di bagian bawah boneka, yang berbentuk seperti bola-bola kecil tersebut.


"Dek mamam buba." Ceysa memasukkan hasil comotan yang tidak ada rupanya itu ke mulutnya.


Mas Givan tertawa begitu lepas. Ini adalah tawa paling membahananya, setelah beberapa tahun aku mengenalnya.


"Boba, Ces. Buba, buba. Yayan tak paham." mas Givan masih tertawa lepas saja.


"Iya, Dek au Yah." Ceysa tidak peduli, meski dirinya ditertawakan.


"Es boba?" mas Givan mengulurkan tangannya, kemudian membawa tubuh Ceysa dalam dekapannya kembali.


"He'em, uket Yah."


"Apa lagi ini, Ya Allah?" mas Givan melepaskan tawanya lagi.


"Givan! Kau berisik betul lah! Mamah tak fokus nonton televisi." mamah Dinda bangkit, lalu berjalan ke arah kamarnya.


"Nek... Ikut." Kal berlari menuju neneknya itu.


"Bobo sama bang Gibran tuh, Kal." mamah Dinda menunjuk kamar Gibran dan Gavin yang masih terbuka.


"Sama Nenek." anak yang duduk di bangku PAUD itu merengek pada neneknya.

__ADS_1


"Ada kakek udah pulas, Kak jangan berisik ya? Nanti dimarahin."


"Ya, Nek." Kal langsung nyelonong masuk, begitu pintu dibukakan oleh mamah Dinda.


"Yah, uket buba." Ceysa masih membahas tentang boba saja rupanya.


Siapa ya yang mengajarkan tentang minuman boba pada Ceysa?


"Uket apa, Ces?" mas Givan menunduk memperhatikan wajah Ceysa yang berada di pangkuannya.


"Uu etan, buba." Ceysa sampai mengatakan kata demi kata, agar mas Givan mengerti.


"S*su ketan boba, Yah." ujar Chandra yang sudah menguap lebar.


"Ohh, s*su ketan boba? Adek Ces mau?"


Ceysa manggut-manggut, "Ya, au."


"Ya udah, besok ya? Kalau Adek Ces udah makan. Yuk masuk, istirahat dulu. Bobo dulu, Yayan mau mandi." mas Givan mengajak Ceysa dan Chandra masuk ke kamar.


"Tunggu sini, Key." aku meninggalkan Key, untuk mengambil kasur angin, yang disimpan di lemari tamu.


Aku mengambil dua kasur tersebut, berikut pompanya juga. Aku langsung mengembangkannya di kamar, dengan Ceysa dan Chandra yang sudah menghuni ranjang utama itu. Mereka sudah terlelap, menuggu ayahnya selesai mandi.


"Biyung, bikin susu dulu. Terus baru bobo, Biyung." Key sudah mengantuk juga, matanya pun sudah terlihat layu.


"Okeh." aku keluar dari kamar, untuk membuatkan susu Key di dapur.


Aku memastikan seluruh pintu rumah tertutup rapat, sebelum kembali ke kamar dengan segelas susu hangat.


Hanya di hari minggu saja, Key diurus olehku. Karena pukul empat sore di hari sabtunya, kak Ifa sudah dijemput suaminya.


"Ini, Key." aku memberikan pada Key yang menungguku.


Gemericik air pun, masih terdengar begitu jelas. Mas Givan sudah biasa mandi dengan waktu yang relatif lama, makanya ia bisa glowing merata.


"Makasih, Biyung." Key memberikan gelasnya padaku, dengan tubuhnya yang langsung mengguling ke tempat tidur ini.


Aku lebih memilih untuk membiarkan Key terlelap sendiri, karena seperti itu kebiasaannya sekarang. Aku pindah ke ranjang utama, tepat di sebelah Ceysa tertidur.


Aku khawatir Ceysa jatuh dari ranjang. Apa lagi, dengan keadaan tubuhnya yang begitu kurus seperti sekarang ini.


Mataku sudah mulai nyaman, dengan posisi miring menghadap ke kanan.


Aku pun mendengar kunci lemari yang diputar, aku pun mendengar pintu lemari yang ditutup kembali.


Aku sudah mulai akan berada di titik nyaman. Sebelum, sebuah tangan besuhu sedikit sejuk tersebut mengusap tanganku begitu lembut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2