Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD419. Terkuak


__ADS_3

Alhamdulillah.


"Kau cuma perlu paksa papah tetap sama kau. Dengan kek gitu, kau bisa tau papah ini masih sama ibu Bilqis atau tak. Kalau papah di sana sendirian, dia bakal bisa lebih bebas. Bukan apa-apa, kasian beliau udah tua. Kalau tak terkendali, bukan dosa aja ya beliau dapat, tapi pasti merugi di masa tua nanti." aku sudah membayangkan papah Adi wafat tanpa ada seorang pun yang tahu, karena beliau tinggal sendiri.


Giska mengangguk, "Aku chat bang Adi dulu, untuk minta jangan antar papah ke rumah abusyik langsung."


Pintar.


"Ma.... Tak ada jajanan kah? Nanti Eunceysa lapar." seru Hadi, yang membuat kami hilang fokus.


"Bentar ya? Ma ambil dulu." Giska bangkit dari duduknya.


"Sini, Fandi biar sama aku." aku mengulurkan tanganku untuk mengambil alih anak yang gempal ini.


"Nih, duduk aja ya? Jangan berdiri, apalagi diajak jalan-jalan. Kasian perut kau, Kakak Ipar."


Aku hanya mengangguk, dengan Giska yang berlalu ke dapur. Manisnya anak ini, seperti ayah dan ibunya.


Eh, tiba-tiba aku teringat dengan jenis kel*min anakku. Berjenis kel**in apa ya dia? Karena setiap aku USG, aku dan dokter tidak pernah membahas perihal jenis k*la*in.


Selang beberapa jam. Aku banyak berbincang dan berpindah tempat. Kini, motor Mio itu datang dengan membawa panutanku. Papah Adi terlihat kaget, saat aku memajang senyum terbaikku.


Mungkin beliau sudah menaruh curiga, dengan adanya aku di sini. Karena hanya aku, yang selalu merecokinya tentang rumah tangganya.


"Kakek....." sapa Ceysa begitu girang.


"Hallo, Cantik. Kakek mandi dulu ya?" papah Adi malah tidak naik ke teras Giska.


Ia berjalan memutar, menuju ke belakang rumah Giska.


Huft, papah Adi ini.


"Minta teh manis, Dek. Kunang-kunangan, dongak terus cat plafon." Zuhdi merapatkan matanya.


"Ya, Bang." Giska meninggalkanku di bangku teras, dengan Fandi di pangkuanku.


Sedangkan Zuhdi, ia duduk di tralis kayu dekat tangga teras. Ya, rumahnya tidak menggunakan tralis besi. Melainkan tralis kayu. Rumahnya saja, full kayu.


Aku mendengar grasak-grusuk, bahwa Giska diminta menyiapkan makanan untuk papah Adi. Aku membiarkannya dahulu, sengaja mencari waktu yang tepat.


Sampai akhirnya, "Papah tuh ngerasa dikejar-kejar kau terus, Dek." ucap papah Adi, dengan bertolak pinggang di ambang pintu.


Bibirnya basah, sepertinya dirinya benar-benar baru selesai makan.

__ADS_1


"Nitip anak-anak ya, Pa? Aku mau mandi dulu." Zuhdi pamit meninggalkan tempatnya.


Oh, jadi sedari tadi ia menjaga anak-anak. Padahal ada aku di sini. Aku jadi merasa seperti patung.


"Ya." papah Adi memberi jalan, dengan dirinya keluar dari dalam rumah agar Zuhdi bisa melewati pintu.


Rumah Giska memiliki jalan seukuran mobil pick up, persis di depan rumahnya. Hanya saja, di kanan kiri jalan tersebut adalah rumah tetangga depan Giska. Yang rumahnya, membelakangi rumah Giska. Ya, rumah Giska ini seperti jalan buntu. Namun, jika untuk kendaraan motor. Ada jalan setapak yang bisa dilalui motor, melewati sekeliling rumah Giska. Tergantung selera saja ingin lewat mana.


"Sini duduk, Pah." aku menepuk tempat di sebelahku.


"Kakek jajan." Ceysa langsung menengadahkan tangannya ke arah papah Adi.


Aduh, anak ini. Seperti kurang ajaran sopan santun dari orang tuanya. Tapi bagaimana lagi, namanya juga anak-anak. Aku sudah mengajarinya, hanya saja ia tetap seperti itu.


Papah Adi terkekeh, kemudian mengusap kepala Ceysa.


"Nanti ya? Kakek belum punya uang." ujar papah Adi kemudian.


Ya ampun, semengenaskannya ayah mertuaku ini. Ia sampai tidak memiliki uang. Tapi kenapa beliau menolak uang dari Ghavi, beliau malah memilih untuk bekerja.


"Papah tak malu, teungku haji kok kerja kasaran?" tanyaku, dengan memperhatikan beliau dari samping.


Beliau tengah menciumi Ceysa. Meski bukan cucu kandungnya, tetapi terlihat keakraban di antara mereka.


Meski sakit, Hadi tetap saja beringas. Hanya saja, ibunya yang gembar-gembor agar dirinya jangan terlalu lelah.


"Papah tak bujuk mamah? Mamah itu baik loh, Pah. Aku yang hanya menantu aja, mamah begitu telaten ngurus aku." semoga beliau sadar, bahwa istrinya bak malaikat.


Ya tergantung situasi dan kondisi juga sih. Karena, beliau juga bisa cosplay menjadi malaikat maut.


"Ya, tau. Tapi keknya kesalahan Papah terlalu jauh, Papah merasa tak mungkin dimaafkan mamah. Makanya, Papah lebih milih ikutin alurnya mamah." suaranya sedikit lirih, ya mirip-mirip seperti berghibah.


"Papah kok over thinking gitu. Memang apa kesalahan Papah?" mungkin aku terlalu ikut campur.


Aku sadar, tetapi jiwa kepoku meronta-ronta.


"Papah pernah bawa perempuan itu tidur."


Nafasku tercekat di leher. Mataku memanas, dengan li*ahku yang mendadak kelu.


"Papah sadar, Papah paham kebablasan. Tapi posisinya itu, tak tau kalau dia segelan."


Heh?

__ADS_1


Apalagi ini?


Ada apa dengan dunia lansia?


Aku jadi teringat kasus kakek-kakek tujuh puluh lima tahun yang menderita penyakit Sipilis, HIV dan Hepatitis yang aku lihat di berita pagi tadi.


"Keadaannya gimana? Bisa Papah ngomong gitu?" suaraku sampai bergetar.


"Abis podcast di Belawan. Namanya anak studio, apalagi itu di luar provinsi kita. Minum dulu sini, gitu kan kata produsernya."


Aku mengangguk, mencoba mendengarkan cerita papah dengan tenang.


"Toleransi Papah terhadap alkohol itu buruk. Istirahat kan Papah di studio itu. Tapi di kamar yang sama, Papah juga disandingkan Bilqis yang mabuk berat. Terus ya udahlah. Cepat gitu kejadiannya."


"Berapa kali Papah pakai dia?" tanyaku terbata-bata.


"Satu kali, itu pun tak sampai selesai. Cuma kek nyicipin aja gitu, penasaran aja, setelah tahu rasanya begitu, ya tak dilanjutkan. Cuma terlanjur berdarah aja."


Kok ada ya laki-laki begini?


"Kenapa tak dilanjutkan?" aku memperhatikan ke arah anak-anak.


"Kek misalkan makan permen, terus tahu rasanya itu masam. Pasti kan langsung dilepeh, karena tak suka masam. Kek gitu lah ibaratnya."


Aku manggut-manggut, meski tidak mengerti apa hubungannya permen dan perempuan. Tapi ya sudahlah, biar ini jadi beban pembaca untuk memikirkan saja. Aku bertugas mengorek saja, bukan menjabarkan. Pening sudah kepalaku, jika menjabarkan yang tidak kau mengerti.


"Ibu Bilqis asli orang mana, Pah?" tanyaku kemudian.


"Keturunan Lampung-Bali. Tapi ayah tirinya orang Aceh katanya, jadi dia sama ibunya jadi orang Aceh."


Oh, dia bukan penduduk asli sini ternyata?


"Terus mamah sama Papah gimana setelah podcast itu?" aku ingin tahu sekali cerita dari sudut pandang papah Adi.


"Tak baik-baik aja. Mulutnya mulai tajam, aku jijik, aku jijik. Padahal, Papah tuh pakai pengaman waktu sama Bilqis itu. Mamah pun, kan tak tau juga."


Benarkah?


Bolehkah aku percaya?


"Terus?" aku masih menantikan cerita beliau secara detail.


...****************...

__ADS_1


Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung penduduk daerah yang dimaksud. Ini hanya cerita dan karangan author saja 🙏🙏🙏


__ADS_2