Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD385. Klise kejadian


__ADS_3

"Ini versi yang aku tau. Kata Giska, awalnya mulanya pak wa ini sering ke Pintu Rime Gayo. Sekitar empat bulanan lah, sejak kalian pindah ke Kalimantan. Pak wa ini, handle lahan Ceysa."


Oh, iya-iya. Aku sedikit paham. Sepertinya, papah Adi mengenal selebgram itu dari pekerjaannya mengurus ladang Ceysa itu.


"Terus?" aku memperhatikan wajah Novi dari samping.


Ia cantik sekali. Jika anakku perempuan, semoga memiliki paras cantik ala Turki seperti Novi.


Padahal aku perempuan, tapi aku begitu mengagumi kecantikan Novi. Karena memang ia benar-benar cantik. Dari seluruh keluarga besar papah Adi dan mamah Dinda, hanya tante Bena dan Novi yang paling cantik.


"Terus pernah tak pulang juga pak wa ini. Aku diminta nginep di rumah mak wa sama pak wa. Pak wa telpon langsung ke aku tuh, Kak. Biar aku mau nemenin mak wa di rumah."


Apa papah Adi tidur bersama selebgram itu juga?


"Terus Nov?" aku makin penasaran.


Namun, Novi malah mengedikan bahunya.


"Aku kurang tau pasti. Cuma sebatas itu aku tau, karena aku kan nempatin rumah bang Givan. Ke sana kalau diminta datang buat cobain masakan mak wa aja. Tak diminta datang, ya aku di rumah anteng. Aku capek kerja soalnya." Novi membenahi anak rambutnya yang keluar dari hijabnya.


"Terus kejadiannya gimana? Memang tak ada saksi kah?" kasus istri tabrak suami, sepertinya jarang terjadi.


Tapi, aku paham bagaimana tabiat mamah Dinda. Ia ratunya kejam, tapi masuk akal.


"Ada saksi. Kata Giska aja, yang nelpon dia itu polisi. Tapi kata Zuhdi, tak usah buka kasus. Ini murni masalah keluarga aja katanya. Jadi polisinya disalamin aja sama Zuhdi, amplopin tanda terima kasih gitu. Soalnya nih, kecelakaannya lumayan parah. Aku jadi ketar-ketir tentang keadaan mak wa. Pak wa aja sampai tak sadarkan diri, apalagi mak wa yang sengaja menabrakkan diri gitu. Kan pasti keadaan fisiknya punya luka itu, Kak."


Benar. secara tidak langsung, mamah Dindalah yang menabrakkan diri pada mobil suaminya.


"Kok bisa separah itu?" tanyaku kembali.


"Aku kurang tau versi aslinya. Tapi katanya sih, mobil Sigra ini mau puter balik, kan otomatis pelan tuh. Nah, katanya tiba-tiba dari belakang itu Xpander putih melaju cepat. Si Xpander putih, langsung rem mendadak setelah nabrak. Nah, si Sigra ini kek loncat gitu nah. Kau paham kan, mobil berhenti tiba-tiba diseruduk kenceng? Jadi kek loncat gitu nah." Novi menjelaskan, dengan mengisyaratkan kedua tangannya yang seperti mobil berbaris.

__ADS_1


Ya, aku mengerti klisenya.


Aku mengangguk, "Banyak yang liat kah?" tanyaku kemudian.


Mamah Dinda tidak takut dihakimi.


"Banyak sih tak, tapi ada yang tau. Nah setelah itu tuh, mamah Dinda turun katanya. Jalan ke mobil Sigra itu, sambil main HP. Mungkin pas itu juga, mamah Dinda tengah telpon ambulance. Kan posisinya Deket itu dari rumah sakit itu, kek gang di belakang rumah sakitnya lah."


Apa mamah Dinda tidak sepenuhnya tega melakukan hal itu pada suaminya? Apa ia melakukan hal ini, agar suaminya jera?


"Papah Adi masuk ke mobil ambulance pun, mamah Dinda bantu naik. Cuma kata saksi mata, mereka kira pengemudi Xpander ini mau tanggung jawab ke rumah sakit. Eh, ternyata mamah Dinda malah hilang kabar sampai sekarang." lanjut Novi dengan gelengan lesu.


Mah, semoga hati mamah baik-baik saja. Semoga fisik mamah pun, tidak terluka sedikitpun.


"Berarti, dengan mamah turun dari mobil. Mamah juga bantu papah sampai ke ambulance, berarti fisik mamah tak luka dong ya?" aku menyimpulkan ini sendiri.


"Nah itu. Kata saksi dan supir ambulance juga, pengemudi Xpander tak ada luka. Padahal hantamannya kuat loh, Canda. Nih, aku ada foto bagaimana bonyoknya mobil Sigra di bagian belakang." Novi menunjukkan sebuah foto, di dalam layar ponselnya.


Aku harus mendengar cerita versi papah Adi dan mamah Dinda juga. Aku tidak boleh mendengar cerita katanya-katanya seperti ini. Karena belum tentu benar.


Akhirnya, kami sampai di rumah sakit tujuan. Kami langsung menuju ke kamar inap papah Adi. Aku ingin mengetahui kondisinya saat ini. Laki-laki panutanku, yang selalu ada untukku dan keturunanku.


Begitu pilu, melihat air matanya sampai membanjiri wajahnya. Beliau pun sampai dioksigen. Sepertinya, belia kesulitan bernapas.


Ada Ghifar, Ghava, Ghavi, Icut dan Giska yang menggendong bayi juga. Anak-anaknya sampai mengumpul seperti ini.


"Pah..." aku mendekati brankar beliau.


Papah Adi menggeleng samar. Ia sepertinya kesakitan, atau menolakku agar tak mendekatinya.


"Sini duduk, Kak." Icut menarikku, lalu membawa ke sofa panjang yang terdapat di ruangan ini.

__ADS_1


Novi berbisik-bisik pada Ghifar, kemudian Novi keluar ditemani oleh Ghava. Mau ke mana mereka?


"Gimana keadaannya, Cut?" tanyaku dengan menyentuh tangannya.


Wajah putih Icut pun, sampai begitu merah. Apalagi hidungnya, sepertinya ia banyak menangis.


"Besok pagi operasi pemasangan baut sama piringan katanya. Cukup parah, papah pun kesakitan luar biasa. Tadi baru aja anestesi, tapi papah tetep aja nangis terus. Papah tak mau ngomong apa-apa. Jadi bingung sendiri tuh." Icut sampai menggaruk kepalanya yang terlapisi hijab.


"Apa yang dipasang baut?" aku sudah memikirkan bagaimana kesulitannya papah bernafas.


"Tulang rusuknya. Di bagian ini nih, kek lembut betul gitu loh. Kek tak ada tulang-tulang, memar juga." Icut menunjuk dada kanannya sendiri.


Ya Allah, aku langsung sesenggukan tak tertahan. Bagaimana ini? Apa papah akan mampu mengayomi kami semua, sampai mantap dengan pikiran dewasa kami? Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak.


"Tiga tulang yang patah. Untungnya, tak sampai nusuk organ dalam atau pembuluh darah. Tapi begitu pun, papah sampai susah nafas." Icut menyodorkan segepok tisu padaku.


"Katanya berapa lama bisa pulih, Cut?" aku ragu menanyakan hal ini.


"Enam minggu, tulang bisa aman kembali katanya. Itu pun, kalau pemasangan baut dan piringan dulu. Ambil opsi ini, karena cukup parah dan sakitnya luar biasa. Gunanya pemasangan itu, biar ngurangin rasa sakit buat papah. Soalnya bisa tuh nyatu sendiri, karena cuma patah, bukan remuk. Tapi butuh waktu yang lama, belum lagi penanganan yang serius."


Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana tersiksanya papah saat ini. Belum lagi tidak adanya kabar tentang istrinya.


Saat papah Adi sudah dioperasi besok. Aku berencana menyusun rencana dengan anak-anak papah Adi. Aku akan mengajak salah satu di antara mereka, agar mau mencari mamah Dinda di alamat yang tadi mas Givan sebutkan.


Jika mas Givan memiliki feeling, bahwa mamah Dinda ke sana. Berarti, kemungkinan besar beliau memang di sana.


Sepertinya, itu adalah satu-satunya tempat yang paling nyaman untuk mamah Dinda menurut mas Givan.


Tapi bagaimana, jika anak-anak papah Adi malah membenci ibunya sendiri? Karena telah melukai ayahnya ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2