
"Pindah semalam." Kin menjawab dengan raut wajah sedih.
Aku langsung panik, "Pindah ke mana? Dibawa ibu Bilqis kah?" aku menggoyangkan lengan Kinasya.
"Ke rumah kakeknya lah, apa itu sebutannya?" Kinasya mengibaskan lengannya yang aku cekal.
Abusyik kah?
"Kan udah almarhum." rumahnya saja kan digunakan Ghavi sebagai gudang gabah.
"Memang." Kinasya duduk di sofa tamu, kemudian menyicipi masakanku.
"Terlalu alot, mending tak masak Kakak Ipar."
Ekspresiku sekarang adalah, 😑.
"Jengkolnya tuh digeprek dulu lah. Coba sering-sering baca cookpad, dari pada baca novel. Pandai masak nanti, bukan pandai nangis aja."
Aku tidak pernah membaca novel. Aku tidak suka buku yang tidak ada gambarnya. Apalagi, full berisi tulisan semua seperti novel. Aku hanya tokoh utama yang diperbudak oleh author.
"Baca novel nanti pandai lah, dapat wawasan, mengerti sudut pandang dan pendapat seseorang. Karena semua yang menurut kau benar, itu belum tentu benar untuk mereka." aku duduk di sofa seberang Kinasya.
Kinasya hanya manggut-manggut, dengan masih memakan jengkol masakanku itu. Masak ini pun atas izin mas Givan. Mas Givan malah meminta untuk dimasakkan sambal saja. Sarapan pagi, ia memakan daun kemangi yang dicocol sambal. Sambal selera mas Givan tidak terlalu pedas, wajib membuang bijinya ketika aku mengulek. Harus ditambahkan gula dan terasi juga.
Sesederhana itu selera makannya, meski aturan hidupnya begitu ruwet. Mamah Dinda malah tidak selera melihat hasil masakanku. Mamah Dinda memilih untuk membeli sarapan di luar bersama Key. Tetap Key cucu yang paling dekat dengan mamah Dinda. Key mengadu atau menceritakan hal apapun, tetap pada neneknya.
Key bahkan mengerti, bahwa aku adalah ibu sambungnya. Key juga mengerti, bahwa Fira adalah ibu kandungnya. Yang sering membuatnya bingung dan bertanya-tanya, adalah kenapa ayahnya tidak bersama mamahnya. Key juga sering bertanya, kenapa Ceysa bisa disebut adiknya Jasmine dan anaknya mangge Lendra. Ditambah lagi, kenapa Zio bisa jadi anak ayah.
Bukan kami merahasiakan. Tapi mas Givan sengaja membuat Key mengerti keadaan, sebelum Key paham akan segalanya.
Mungkin masa itu pun Key memperhatikan sekelilingnya. Ia bahkan penasaran, kenapa meme Tika bisa tinggal bersama bapa Ghavi. Sedangkan, meme Tika sejak awal bersama dengan papa Ghifar.
Sebuah pernikahan dan syukuran saat pernikahan Ghavi, tidak mampu membuat Key paham bahwa manusia bisa hidup bersama karena tali pernikahan. Ditambah lagi, pertanyaannya banyak muncul karena daddy Van bisa tinggal bersama mamah Fira tapi Key tidak memiliki adik.
__ADS_1
Key begitu kebingungan, jika sudah memikirkan susunan dan kedudukan keluarga. Bahkan ia kemarin bingung, tentang dirinya dan Ceysa itu siapa. Ditambah lagi, kenapa Zio menjadi adiknya, padahal mamah Fira dan daddy Van tidak memiliki adik untuknya.
Mungkin yang ada di pikirannya, yang memberinya seorang adik adalah figur mamah. Key tidak mengerti, bahwa figur ayah bisa juga memberinya adik satu darah.
Jika Key mulai pusing seperti itu, mas Givan hanya menekankan agar Key minum air putih dan makan minimal tiga kali sehari agar cepat besar dan pandai. Mas Givan enggan menjawab. Ia pun mengatakan alasannya. Ia khawatir anak-anaknya bentrok, saat memahami bahwa mereka terlahir dari ibu dan berbeda dengan kelakuan ayahnya yang menghamili banyak wanita. Mas Givan khawatir Key membenci figurnya, karena memberinya adik yang berlainan ibu.
Makanya mas Givan memilih agar Key mengerti keadaan dengan sendirinya. Agar pemikiran anak-anaknya tidak membentuk dendam, karena kesalahan orang tuanya. Key dibiarkan bebas bersama saudaranya pun, semata-mata agar tali persaudaraan mereka kuat dengan sikap saling melindungi. Key menjadi cucu tertua dan bisa mengayomi saudaranya yang lain.
"Aku ke papah Adi dulu ya?" aku bangkit dari sofa ini.
"Sore aja, atau pas dzuhur. Papah Adi kerja sama Zuhdi."
Hah?
"Kok boleh? Tulang papah masih rawan, Kin."
"Aman aja. Kerja pun tak yang banting tulang juga. Papah ngecat di ruko katanya. Ruko deretan depan terminal itu."
Ya Allah, papah Adi. Segala bekerja, padahal anak-anaknya mampu jika hanya memberinya makan. Aku yakin, di antara anak papah Adi tidak ada yang keberatan. Tapi bisa saja terjadi, karena keputusan papah yang berat meninggalkan ibu Bilqis itu.
"Mana ada! Meski aku sama Ghifar tak bebas berhubungan, aku mana ada ngusir." aku terkekeh mendengar jawabannya.
"Malahan malam itu, sebelum papah mutusin pulang ke rumah abusyik itu. Ghavi jemput papah di sini, minta papah tinggal di sana. Tapi papah tak mau, karena Ghavi kan sering keluar kota. Papah tak akrab sama Tika, masa iya kan menantu urusin mertua laki-laki katanya. Kalau aku atau kau yang urus sih, kata papah tak masalah." aku masih berdiri di dekat sofa, dengan menyimak ucapan Kin.
Memang menantunya baik semua pada beliau. Tapi jika dilihat dari mataku, papah Adi terlihat sungkan pada Tika dan Winda. Dengan Kinasya pun jarang mengobrol, setelah Kinasya pindah ke rumah mereka sendiri. Hanya mungkin karena dirinya tinggal di rumah Kinasya saja, membuatnya akrab kembali dengan Kinasya.
Ya bisa dibilang, mungkin aku menantu agresif yang sering mencari cara agar mengobrol dengannya. Mau bagaimana lagi, aku tidak punya ayah. Aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Aku pun baru merasakan rasanya disayang oleh ayah seperti ini. Maka dari itu, aku benar-benar tidak bisa jika untuk memilih untuk berpihak ke satu orang tua saja.
Aslinya, aku memihak mamah dan papah juga. Hanya saja, aku sering kesal dan jengkel dengan sikap mereka saat rumah tangganya tidak jelas ini.
"Terus Ghavi ngomong apa?" tanyaku kembali pada Kinasya.
"Cuma bilang, terserah papah aja. Terus Ghavi kasih amplop, keknya itu uang. Tapi papah nolak, katanya besok kerja sama Zuhdi. Eh iya, jam delapanan Zuhdi datang buat antar papah ke rumah abusyik."
__ADS_1
Satu pertanyaan yang muncul di benakku. Giska anak perempuan satu-satunya, kenapa ia tidak memaksa papah Adi untuk tinggal di rumahnya? Apa karena masih ada Aini dan Ardi?
Ah, aku harus keluar sarang agar tahu dunia luar. Karena paling jauh, aku hanya main ke ruko ibu setiap harinya.
"Ya udah, nanti sore aku ke rumah abusyik." aku memutar badan, kemudian langsung menunju ke pintu.
"Biyung.... Mau ikut main ke kak Key."
Aku menghentikan langkahku, saat sudah sampai di ambang pintu.
Kal di sana. Ia baru turun dari tangga lantai dua.
"Izin dulu ke Mama." aku melirik ke arah Kinasya.
Kinasya mengangguk, "Adiknya diajak, Kal. Nanti Kaf nangis, kalau tak ada temannya." Kinasya bangkit dan berjalan ke arah anaknya.
"Mama aja yang anter Kaf." Kal berlari ke arahku.
"Ya udah. Mama mau nyetrika soalnya, tak bisa nemenin Kaf main." seruan Kinasya sepertinya dari dapur.
Menyetrika ya?
Kapan terakhir aku menyetrika?
Aku bahkan tak pernah lagi menyetrika, jika tidak menjelang lebaran. Ya, aku hanya menyetrika baju lebaran. Mas Givan pun memilih untuk menyetrika kemejanya sendiri.
Mungkin nanti aku akan minta setrika uap portabel saja. Karena jujur, aku paling tidak bisa menyetrika. Apalagi, pada baju yang memiliki banyak model jahitan. Aku pasrah bajuku kusut.
Aku menggandeng tangan Kal, untuk bermain ke rumah Key. Jam segini, Key sudah masuk ke rumahnya sendiri. Dengan alasan, ia takut hitam. Kulitnya putih cenderung kuning seperti mas Givan. Begitu pas, dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berisi.
Setelah mengecek keadaan anak-anak, aku memilih untuk mengajak Ceysa tidur siang. Mas Givan entah pergi ke mana lagi, ia tengah sibuk dengan ini itu dan segalanya. Aku hanya memiliki tugas untuk mendoakan rezeki dan keselamatannya saja, plus mengurusnya ketika di rumah.
Setelah bangun tidur nanti, aku berencana ke rumah Giska. Setelahnya, aku akan mengajak Giska untuk menjenguk papah Adi.
__ADS_1
Oke, ditunggu episode selanjutnya ya? Jangan berpaling, karena tengah penyelesaian konflik.
...****************...