Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD429. Mulut ember


__ADS_3

"Tak apa, Kakak Ipar. Biar aku bantu. Rileks aja, karena ditahan pun bakal tetap sakit." Kin membantuku, untuk belajar miring ke kiri dan kanan.


Jika tidak belajar miring, punggungku capek. Namun, belajar miring rasanya begitu sakit.


"Udah aja." aku sampai sesenggukan, tidak tahan dengan rasa sakit ini.


Lukaku seperti dibuka hidup-hidup. Meski perawat mengatakan harus belajar dan aman saja, tetapi ini tetap menyakitkan.


"Mas Givan..... Udah aja." aku mengeratkan genggamanku pada tangannya.


"Sabar, Canda. Biar kau ada kemajuan, rileks. Biar nanti bisa ASIin Ra tanpa nopang dia." mas Givan mengusap keringat yang ada di dahiku.


"Tinggal miring kiri ya, Bu? Tapi silahkan rileks dulu." aku sekarang dalam posisi menghadap langit-langit kamar kembali.


"Mas.... Tak mau punya anak lagi. Udah aja lima aja, ngelahirin tiga anak aja sakit kali." aku menangis sambil berbicara.


"Iya, Canda." mas Givan tanpa sungkan mencium dahiku di depan banyak orang.


"Semangat, biar ada kemajuan." mas Givan tersenyum menenangkan.


Aku mengangguk samar. Mas Givan benar, aku harus ada kemajuan. Biar aku bisa dengan nyaman mengASIhi Ra, kemudian aku bisa boleh pulang juga.


Dengan ulangan beberapa kali, akhirnya aku dilepaskan oleh perawat itu.


"Jahitannya sakit kali." aku masih mengadu apa yang aku rasakan pada suamiku.


"Sabar, Istriku." mas Givan duduk di kursi dengan mengusap-usap kepalaku dan mengipasi bagian perutku, meski terlapisi baju.


"Tapi tak dijahit luka luar itu." lanjut mas Givan.


"Dilem ya, Bang?" timpal Giska.


Mas Givan mengangguk, "Ya, jaman sekarang luka luar dilem. Katanya sih, biar bekasnya bisa hilang gitu." mas Givan masih memberikan angin sejuk dari kipas tangan itu.


Aku baru merasakan diratukan oleh raja Fir'aun ini pasca operasi.


"Nyembuhinnya juga lebih cepat, Bang." timpal Kinasya, ternyata ia baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Begituan boleh setelah seminggu kah, Kin?" tanya mas Givan yang membuatku shock.


"Eh, mana ada! Jangan bikin kau jadi duda, Van." tegas papah Adi cepat.


Mas Givan terkekeh, "Ya, aku nanya makanya ini. Soalnya malu nanya ke perawat atau ke dokternya."


"Kalau untuk itu, tergantung kondisi Kakak Iparnya juga Bang. Boleh setelah enam minggu, selesai nifas lah. Tapi Kakak Ipar punya keluhan tak? Masih sakit tak, masih nyeri tak. Kalau tak ada keluhan, ya diperbolehkan. Tapi, itu pun setelah mendapat anjuran dokter setelah cek up terakhir Bang. Untuk posisi, disarankan spooning. Jangan sampai dari depan, apalagi kaki dibuka lebar. Nanti bisa dadakan sakit, Bang."


Jujur aku risih, jika membahas tentang se*s di depan keluarga seperti ini.


"Sembuh totalnya berapa lama, Dek? Biar kan, Canda aman gitu." tanya papah Adi dengan memperhatikan Kinasya yang tengah mengelap tangannya dengan tisu kering.


"Luka luar, sembuh sekitar dua minggu. Luka yang nampak di perut itu nah, dia sembuh sekitar dua mingguan. Jahitan di lapisan otot dalam, nyatu sekitar satu bulan. Untuk nyatukan tujuh lapis kulit yang dibedah itu, ya sekitar enam bulan."


"Ya Allah....." suara mas Givan begitu menyedihkan.


Gelak tawa menyahuti, sepertinya mereka paham apa yang ada di pikiran mas Givan.


"Dulu kau berapa lama memang waktu Chandra lahir, atau pas sama Nadya itu?" tanya Zuhdi, dengan menggendong anaknya.


Benar, jika ia mengatakan bahwa mulut laki-laki lebih ember ketika mengobrol tentang perempuan.


"Ish, Papah dulu waktu Ghifar tiga puluh satu hari. Kau berani betul belum sebulan, udah dikawin lagi." papah Adi geleng-geleng.


"Waktu itu darah udah bersih. Aku udah kek orang gila, otak udah mesum aja. Biasanya rutin, tiba-tiba harus libur lama." mas Givan tanpa segan menceritakan tentang kami.


Ya memang benar. Tapi saat itu pun, mas Givan penuh kehati-hatian dan juga keluar di luar. Setelah masa nifas akan habis, malah darah nifasku keluar lagi. Aku tidak mengerti hitungannya. Yang terpenting, aku tidak hamil saja saat itu.


"Aku dong." Ghifar mengusap dadanya sendiri.


"Malah aku yang gatal, karena kelamaan." timpal Kinasya, yang membuat kami tertawa bersama.


Bagaimana ya jadi Ghifar? Sepertinya, ia tahu beres. Ya maksudku, ia yang malah dibuat kl*maks oleh istrinya. Tidak seperti aku, atau pada umumnya para istri.


Sampai malam pun tiba. Papah Adi memilih menjagaku dan bayiku ini, dengan mas Givan dan Ria yang pulang sementara. Mas Givan tengah mencuci pakaiannya, yang ia bawa ke sini. Ia pun mengambil beberapa pakaian untukku.


Mas Givan mengatakan, paling lambat pukul sepuluh malam. Ia akan kembali ke sini lagi. Sekarang, baru pukul delapan malam. Aku hanya ditemani oleh papah Adi saja.

__ADS_1


"Pah.... Gimana sama mamah?" aku mencoba menarik perhatian beliau, dari siaran televisi.


Si kecil Gembul sudah tertidur, ia bahkan tidak dibedong dan tidak memakai baju hangat langsungan. Ia hanya berdiapers, dengan baju kancingan yang terlihat kekecilan. Namun, tetap dihangatkan dengan kain yang seperti mantel tidur.


"Papah udah jujur pas kau baru berangkat ke rumah sakit itu. Papah cerita banyak dan detail ke mamah, berharap mamah bisa paham dan mengerti dengan alasan Papah. Papah pun minta maaf dan mohon ampun ke mamah kau."


Serius?


Pasti masa itu papah Adi begitu tegang.


"Tanggapan mamah gimana, Pah?"


Papah Adi mengedikan bahunya, "Datar aja. Tapi ya kek biasa gitu loh, mau diurus. Jadi tak tau, mamah kau marah atau tak. Mulutnya diam soalnya, ini udah di fase yang bahaya. Papah sih belum tanda tangan surat cerai itu, karena suratnya dipegang mamah kau."


Jangan salah kira ya? Mamahku itu, adalah ibu mertuaku. Lalu ibu kandungku, adalah ibu Ummu. Memang papah Adi sering sekali menyebut mamah Dinda dengan mengatakan mamah kau.


"Kalau jadi cerai?" kau was-was sendiri.


"Papah pasrah. Tapi kalau memang mau kembali, Papah ajak mamah nikah lagi. Soalnya keknya kita udah terlalu lama pisah. Udah jalan enam bulan, Papah pun tak ada kasih nafkah lahir batin ke mamah kau. Ya, nikah siri gitu. Kalau buku nikah kan, memang masih yang lama."


Mungkin, agar rasanya seperti pengantin baru saja.


"Terus ibu Bilqis gimana, Pah? Aku ingat dia masih sering bertamu ke Kinasya cariin Papah." aku mengusap keringat yang membanjiri dahi anakku.


Setiap ia menangis, mas Givan langsung panik. Kami belum tahu cara menenangkan Ra, kecuali dengan memberinya sufor dalam dot.


Mau bagaimana lagi? Aku kesulitan memproduksi ASI.


"Masih ngejar Papah. Jadi ingat kek masa bujang, perawanin anak gadis orang. Sampai tak mau diputuskan, ternyata kejadian lagi di masa tua." papah Adi geleng-geleng kepala.


"Pah, apa tak pernah bujuk dia buat operasi hymenoplasty?" aku teringat dengan beberapa dari kami yang pernah menjalani operasi itu.


Hymenoplasty, sederhananya adalah membuat jaringan baru yang rusak dan memperbaiki selaput dara yang sobek.


Jika vaginoplasty, adalah pembedahan pada bentuk bagian luar. Diperindah kulit itu, agar terlihat estetik.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2