Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD46. Vaginoplasty dan hymenoplasty


__ADS_3

"Abang ngatain aku?" sewotku memberikan delikan tajam padanya.


"Iya. Montok!" ia tertawa begitu renyah, sembari melihat padaku.


Aku mengira-ngira bentuk tubuhku. Menunduk dan memperhatikan bentuk pahaku, yang tertutup oleh kaki Chandra.


"Pinggangnya besar, perut datar." ia memberiku tatapan genitnya.


Ia sungguh menggoda jika seperti ini.


Ingat, Canda. Kau masih berstatus sebagai istri orang.


"Paha besar, ke betis turun kecil. Kaki mulus, rambut bergelombang."


Dadaku berdegup kencang, kata-katanya terlalu frontal.


Aku merasa malu, lantaran Raya berada di mobil ini.


Ini pujian atau pelecehan?


"Wajarlah, aku ngeluarin anak satu secara normal. Pinggang besar karena udah melar." protesku, agar pias di pipiku tersamarkan.


"Oh gitu?" ia selalu mentertawakanku.


"Ok sip. Lepas mapan nanti, mau cari istri janda beranak aja. Yang pinggangnya lebar karena udah melar." lanjutnya kemudian.


"Gak begitu lah konsepnya." tambah seseorang dari bangku belakang tersebut.


Bang Lendra melirik spion tengahnya, "Kek apa dong? Aku suka yang pinggangnya besar, pasti enak di do*gy-nya. Pasti pegangannya kuat, gak mudah lepas."


What???


Aku paham itu posisi apa. Aku selalu menolak posisi ini, aku takut mas Givan melakukan hal di luar nalar.


Aku pernah mencoba posisi tersebut, sama sekali tidak ada rasa enak. Pinggulku amat nyeri, terlalu dalam dan sangat menyakitkan. Belum lagi mas Givan selalu memainkan part belakang, terkadang melebarkannya. Saat aku menoleh pun, pandangan fokus pada part belakangku.


Aku benar-benar tidak percaya diri. Lebih-lebih, aku takut dis*domi. Bayanganku penuh dengan hal buruk, karena aku teringat saat pertama kali kesucianku direnggut oleh mas Givan.


"Kalau janda beranak kan longgar?" celetuk asisten bang Lendra tersebut.


Apa Raya memiliki masalah denganku?


Apa aku mengambil posisinya?


Atau aku saingannya untuk mendapatkan bang Lendra?


Kenapa secara tidak langsung, ia mengataiku?

__ADS_1


"Tenang, bisa vaginoplasty sama hymenoplasty. Gak usah susah-susah, yang penting sabar nunggu siap pakai." ungkap bang Lendra dengan melirik kembali ke spion tengah.


Apa itu sejenis perawatan kulit?


"Apa itu, Bang?" aku tertarik untuk mengetahuinya.


"Itu, Dek... Hmm...." ia seperti kesusahan untuk menjelaskannya.


"Apa, Bang?" sahutku penasaran.


"Operasi v*gina, otot-otot v*gina yang lepas bakal disatukan. Kelebihan jaringan mukosa, bakal diangkat. Jaringan mukosa itu, lapisan kulit dalam. Kalau hymenoplasty, sama juga. Cuma dia.... Bedah baru, buat bikin jaringan selaput darah yang udah koyak. Jadi, dia bakal perawan ting-ting lagi. Ada juga labiaplasty, tapi menurut Abang itu gak terlalu pengaruh. Itu semua ada di salah satu rumah sakit di Samarinda." aku manggut-manggut, mendengar penjelasannya.


Aku baru tahu, ternyata permak bagian sensitif sudah ada di Indonesia. Bahkan, selaput darah yang menandakan bahwa seorang wanita masih suci bisa dibuat ulang.


"Kalau mau nanti kalau kau ada uang, Abang temani. Biar suami kau nyesel, biar kau pun berpuas hati karena mampu memua*kan suami baru kau." ia tersenyum amat manis padaku.


"Itu semacam operasi plastik ya, Len?" tanya asisten bang Lendra, kepalanya muncul di tengah-tengah kursi kami.


"He'em. Penyembuhannya paling tiga mingguan, tapi baru boleh berhubungan kembali kalau udah tiga bulan." jawab bang Lendra kemudian.


Kenapa ia paham tentang ini?


Apa pendidikannya mengarah ke arah medis?


"Berapa biayanya, Len?" sepertinya asisten bang Lendra penasaran tentang ini, sama sepertiku.


"Ohh, Venya tuh yang suka datengin kau kalau lagi kerja itu kan? Yang kata kau, dia nikah sama tentara itu." Raya itu sepertinya betah berada di posisi menyempil seperti ini.


"Iya. Vaginoplasty, aku yang bayar. Yang hymenoplasty, dia bayar sendiri. Jadi aku kurang tau berapa-berapanya." kepalaku dipenuhi teka-teki, saat bang Lendra tidak menjelaskannya secara gamblang.


"Venya siapa, Bang?" aku bersuara kembali.


"Hmm... Dia, mantan pertama Abang. Tapi memang sering bareng, seru-seruan, nyamperin Abang sebelum dia nikah. Putus nyambung sama Naura pun, ya gara-gara Venya ini. Pikirannya luas, Venya ini. Dia gak berpikir, lepas putus jadi musuh. Jadi, lepas putus pun masih kek pacaran. Liburan bareng, waktu di Bali pun bareng dia." aku mengklaim bahwa bang Lendra adalah orang yang terbuka.


"Dia nikah sama tentara, kan ada tes keperawanan ini itu. Sedangkan kan, keadaannya dulu udah habis sama Abang. Jujur, dia takut ditinggalkan. Jadi dia lebih milih jalur medis, biar bisa tetep nikah sama pacarnya." gamblang memang.


Luar biasa pengorbanan perempuan untuk mendapatkan pujaan hatinya. Ia terlanjur rusak pun, setengah mati perempuan itu berusaha memperbaikinya.


Aku selalu menyesal ketika mendengar cerita seperti ini. Karena aku malah melewatkan kesempatan, saat Ghifar berjanji untuk tetap menikahiku. Namun, aku malah menolaknya. Membuat dirinya trauma, membuat diriku hidup dalam kesengsaraan cinta.


Harusnya, aku tidak perlu menjadi janda jika menerima Ghifar saat itu.


Sayang sekali, aib keluarga dan pikiran bibiku yang kolot membuatku tak mendapatkan cinta yang semestinya.


Aku masih mengingat ketika.....


***

__ADS_1


"Ya Allah, Ndhuk...." bibi Hana memelukku, saat aku selesai bercerita tentang kejadian yang sebenarnya.


"Aku cinta sama Ghifar, Bi." aku tetap berharap, bahwa aku bisa bersama dengan Ghifar.


"Apa Ghifar nerima keadaan kamu? Kamu terlalu kotor buat dia. Lagian, mau Ghifar ataupun Givan. Kami bakal tetap jadi menantu bu Dinda." ucapannya terdengar ambigu di telingaku.


Apa maksudnya ia menarik nama Givan?


Aku yakin, bibi Hana paham pandangan mata bingungku.


"Tuntut pernikahan sama Givan. Meskipun inisial nama, orang kampung kita pasti tau bahwa anak perempuan keluarga kita yang udah ternodai. Bibi yakin, kalau udah rumah tangga Givan pasti ngerti. Laki-laki pasti ada berubahnya, kalau udah punya istri."


Aku menangis terguncang. Ujian apa ini?


Kesucianku direnggut kakak kekasihku. Aku diminta untuk meninggalkan laki-laki cinta pertamaku.


Cinta pertamaku, harusnya ayahku. Tapi sampai aku sebesar ini, tidak ada laki-laki manapun yang aku panggil ayah. Aku tidak pernah merasakan figur seorang ayah.


Harus aku apakan perasaanku pada Ghifar? Laki-laki yang aku usahakan setengah mati. Aku rela keluar dari pesantren, berharap bisa berumah tangga dengannya. Pendidikan akan aku korbankan, kala ia mengatakan mampu menikahiku tahun depan. Karena aku paham keadaannya, yang kekurangan materi. Aku rela hidup sederhana, asalkan dengannya.


Laki-laki yang sedikit bertutur. Tetapi sekali berucap, ia langsung mengambil keputusan untuk menikahiku tahun depan. Si pendiam, yang aktif bergerak ketika tidak ada orang. Kemesuman yang mampu ia tekan, hanya untuk mengajarkanku, tidak untuk merusakku. Laki-laki yang penuh misteri dan daya tarik, meski dirinya tidak tampan. Si manis yang tak bosan aku pandang.


Harus aku lepaskan, hanya untuk b*j*ngan yang merusakku.


"Terima ini semua, Ndhuk. Biar nanti Givan Bibi nasehatin. Kamu jangan takut, kalau dia berani mukul kamu. Bibi langsung jemput kamu di sana."


Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Air mataku bagai badai di tengah laut.


Rencana dan harapanku kandas begitu saja.


Meski aku akan menikah secepatnya. Jelas itu bukan dengan orang yang menjanjikanku tahun depan.


Dari semua percakapan yang mampu aku pahami. Bahwa Ghifar terlalu suci untukku. Aku terlampau kotor untuknya.


Tidak pantas, jika orang sebaik dan sebersih dirinya. Harus mendapatkan istri, yang ternyata sudah cicipi oleh kakaknya sendiri.


Aku cukup tahu diri.


Aku tidak pantas bersanding dan mengarungi rumah tangga dengannya, Teuku Ghifar.


***


...****************...


Yang belum tahu tentang bibi Hana ini. Coba baca Belenggu Delapan Saudara.


Nah, yang berencana mau rombak. Nanti bareng sama Canda ya?

__ADS_1


__ADS_2