Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD150. Resiko


__ADS_3

"Bukan aku nanya warisan. Cuma mau tau aja, punya usaha apa gitu sampai rumah kek istana?" aku memperjelas pertanyaanku, agar bang Daeng tidak salah paham.


"Peti mati, tapi udah punya pasar luar negeri sendiri. Jadi ya, bisa dibilang usahanya udah sukses. Gak cuma buat kebutuhan rakyat Indonesia, tapi udah di lempar ke luar negeri juga."


Aku sempat kaget, saat bang Daeng mengatakan peti mati.


"Mahal kah, Bang? Kek meubel gitu kah?" aku membayangkan peti mati yang aku lihat di sosial media.


"Yang paling murah itu satu juta setengah. Kek papan aja gitu, terus di dalamnya di lapisi kain busa tipis yang satu juta setengah itu. Ya, bisa dibilang kek meubel. Tergantung model, ada harga, ada rupa." terangnya kemudian.

__ADS_1


Aku ingin mempertanyakan ini, tapi aku takut ia tersinggung. Tadi saja, ia kira aku menanyakan perihal warisannya.


"Dato udah wanti-wanti, jangan ada yang pindah agama. Tapi mangge bawa ammak masuk Islam, jadi langsung dicoret dari daftar keluarga. Kan otomatis, wasiat, warisan, gak ada tuh yang sampai. Memang, masih dianggap keluarga. Hari meninggal ammak malah diperingati setiap tahun dengan cara Islam, tahlil kalau gak salah. Dicoret dari daftar keluarga, tapi masih nganggap keluarga." terangnya kemudian.


Oh, rupanya seperti itu. Agama itu memang kuat. Mau mereka Islam, Kristen, Budha, mereka pasti memiliki pendirian yang teguh untuk agama masing-masing.


Aku teringat akan teman bermainku di kampung. Ada Siti, ada Rengganis, ada Fandi, ada Eko. Mereka teman bermainku dari kecil, sampai aku harus pergi untuk menuntut ilmu di pesantren.


"Ada lain, ada Tiwi sama kakaknya Jeni itu. Kakaknya Jeni itu kembar, Vani sama Vano. Ya berlima itu lah. Tapi yang memang best friend betul, cuma Dikta ini. Karena dia tetangga depan rumah dato, hujan badai juga pasti main bareng karena rumah kita dekat. Ibunya Dikta kena serangan jantung, pas tau cucunya wafat tuh. Bapaknya kecelakaan di jalan, tapi itu pas Dikta masih hamil. Memang agak mengerikan, tapi itulah adanya. Bisanya Dikta stress itu karena konflik yang bertubi-tubi ini. Diusir orang tua, bapaknya meninggal, dapat tekanan dari para tetangga, dapat tekanan dari keluarga Abang. Kan masa itu, Dikta ini gak boleh keluar rumah. Cuma Abang temen ngobrol dia, karena cuma Abang yang dia kenal akrab di rumah itu. Makanya kelak nanti sih, istri hamil, istri nifas, Abang mau jaga psikisnya bener-bener. Jangan sampai dia stress, jangan sampai dia punya tekanan dari keluarga. Sebelumnya Abang tuh gak mau-mau nikah, karena mikirin masa depan Dikta. Nanti Dikta gimana? Apa kelak ada yang cinta? Apa kelak ada yang mau sama dia? Giliran Dikta udah nikah, Abang malah mikirin diri Abang. Gimana caranya menata hidup, gimana caranya bisa mapan. Takut terus bawaan Abang. Takut gak bisa cukupin Adek, takut gak bisa ini itu, takut, takut, takut pokoknya. Karena segala sesuatunya ini, pasti ada resikonya. Dari kecil, Abang udah dihadapkan dengan resiko perbuatan. Main-main kek gitu, se*s kan, bakal jadi hamil. Kalau udah hamil, harus jadi orang yang bertanggung jawab. Badan tuh boro-boro seger. Pas di Polsek aja, mereka terheran-heran karena anak kecil kek Abang bisa hamilin. Pantas aja polisi saat itu nanya, pakai karet gak, atau pakai kantong plastik. Abang baru pahamnya sekarang." tawanya begitu renyah.

__ADS_1


"Memang Abang gak ditahan?" tukasku kemudian.


"Gak, Abang masih enam belas tahun masa itu. Gak bisa ditahan, karena masih anak-anak."


Aku manggut-manggut mengerti, hidupnya penuh tekanan ternyata. Pantas saja, segala sesuatu ia memikirkan resiko.


...****************...


Hidup itu bukan pilihan sebenarnya 😳 rupanya hidup itu adalah resiko 😌

__ADS_1


__ADS_2