
"Ka... Aku keteteran bawa dua anak gini."
Esok harinya, ia menjemputku kembali. Ia sampai ke rumah papah Adi, untuk meminta izin membawaku dan anak-anak berkunjung ke rumahnya.
Aku kira, ia akan datang lusa. Ternyata, esok harinya ia langsung meluncur kembali.
"Tadi bawa stroller baby kan? Kau bisa dorong Ceysa, aku bisa gendong Chandra." ujarnya sembari mengemudi.
Aku duduk di belakang, sedangkan ia duduk di depan. Ia seperti seorang supir.
"Biyung... Mau mana?" Chandra sudah berusia tiga tahun. Masalahnya satu, ia tidak pandai menyambungkan kalimat.
"Ke rumah Om Raka. Liat ikan." aku ingin Chandra tidak terus-terusan bertanya. Semoga jawabanku, bisa membuat hatinya puas.
"Om, mau mana?"
Aku ingin menggetok kepala Chandra saja rasanya.
"Kita mau main ke rumah Om, Chandra. Liat ikan di sana, Om punya akuarium besar ada ikannya." Raka menjawab Chandra, dengan melihat spion tengahnya.
Chandra manggut-manggut di kursinya. Ia duduk di kursi yang bisa dilepas pasang, yang didesain untuk mobil. Ia aman di kursinya, yang memiliki sabuk pengaman itu.
Bagaimana rupa Chandra sekarang?
Aku ingin memberitahu kalian semua. Bahwa penampilan anakku itu seperti bocah nakalan.
Entah apa yang mas Givan pikirkan. Ia memintaku, agar tidak mencukur rambut anaknya. Sampai masanya ia datang di hari lebaran.
Aku sempat curiga, saat ia membawa Chandra pergi. Mas Givan pun perginya bersama teman sebayanya, yang jelas bukan bagian keluarga papah Adi. Bukan juga Zuhdi.
Saat pulang, Chandra memiliki ikat rambut di belakang kepalanya seperti koleksi Tuyul dan Mbak Yul. Rambut bagian kanan dan kiri di atas telinganya dipangkas habis, sampai ke bagian belakang kepala.
Lalu, rambut di bagian atas kepala dibiarkan panjang. Kemudian, rambut tersebut disatukan dan diikat pas di bawah pusaran kepala.
Anaknya baperan, cengeng. Malah penampilannya dibuat sangar seperti itu.
Ya memang sih, pantas-pantas saja.
Mas Givan pun mengatakan, mumpung Chandra belum sekolah. Jadi bebas mau cukur yang bagaimana saja.
Bebas sih bebas. Tapi biyung yang panik juga akhirnya.
Jika setelah keramas, Chandra akan terlihat seperti perempuan. Intinya, rambut Chandra harus selalu diikat.
"Itu, mbem." Chandra menunjuk kendaraan yang berlalu lalang.
Ia banyak menunjuk, sampai akhirnya aku ikut pulasnya saja.
Ternyata cukup lama perjalanannya.
Hingga sampailah kami di rumah bak istana. Aku teringat bangunan di Makassar, jika melihat rumah ini. Bedanya, rumah ini memiliki cat yang berwarna emas. Terlihat lebih mewah.
"Udah ngecesnya?" ia membukakan pintu untukku dengan senyum mengejeknya.
"Tak jadi kita nikah!" ketusku dengan menurunkan satu kakiku.
"Jangan dong. Aku udah mantengin foto kau aja tiap hari."
Aku langsung mendelik tajam.
__ADS_1
"Mau kau apakan foto aku? Jangan-jangan, mau kau santet ya?" aku sudah mantap berdiri, tinggal menunggu Chandra keluar saja.
Raka berjalan memutar, ia mengedipkan matanya genit.
"Mau aku pelet." ungkapnya kemudian.
Aku sama sekali tidak tergoda padanya.
Huh, buat kesal saja.
Ia menggendong Chandra, aku mengekorinya dari belakang. Aku merasa seperti terulang kembali, masa-masaku saat dibawa untuk dikenalkan pada keluarga besar bang Daeng. Di rumah datonya, tempat yang menjadi sejarah secuil kejujurannya.
"Tuh, banyak penghuninya. Anak yang mana, yang kau maksud?"
Aku menegakkan kepalaku, "Kok banyak anak?" aku kebingungan di sini.
Raka menunjukkan papan nama yang berdiri di sisi kanan bangunan rumahnya, "Tuh."
"Itu asrama kecil yang didirikan mamah aku. Yang tinggal di sini, mereka yang yatim piatu terus saudaranya tak mampu nampung. Ada sekitar tujuh belas anak, satu pengelola tinggal di situ, dua pengasuh anak-anak. Tak ada yang bayi, jadi mereka cuma butuh pengawasan aja."
Ia menarik pergelangan tanganku, "Yuk masuk. Kenalan sama anak-anak. Coba, anak mana yang kau maksud."
Aku menuruti tarikan tangannya.
Chandra heboh sekali, saat melewati tumpukan mainan yang tersusun di pojokan.
"Umur mereka antara lima tahun, sampai tiga belas tahun."
Kami mulai memasuki bangunan, yang terlihat seperti kotak saja itu. Sepertinya, bangunan ini beratap beton. Atau memang ada rencana membangunnya lagi.
"Ayah..." anak-anak mulai berlarian ke arah kami.
"Abu..."
"Bapak..."
Raka langsung mengusap-usap kepala mereka, "Udah pada jajan belum?" tanyanya dengan menurunkan Chandra.
"Waaaaaa....." Chandra langsung bersuara melengking, tangisnya langsung lepas.
Ia menoleh ke arahku, dengan mengangkat tubuh Chandra kembali.
"Chandra susah bersosialisasi sama orang baru, Ka." aku memberitahu fakta tentang keturunan mas Givan yang paling beruntung ini.
"Iya sih, aku baru tau." ia mencium pipi Chandra.
"Mereka manggil aku, sesuai panggilan mereka ke ayahnya dulu." lanjutnya, dengan melangkah mendahului.
"Pada jajan belum?" tanya Raka, pada anak-anak yang berlarian.
"Udah." seruan mereka seperti taman kanak-kanak.
Raka tersenyum padaku, "Anak mana yang kau maksud, Canda?" ia merangkul pundakku.
Aku menggeser posisiku, agar terlepas dari rangkulannya. Aku tidak nyaman, berkontak fisik dengan laki-laki asing.
Aku mengedarkan pandanganku, melihat kesibukan anak-anak di sekitar sini. Aku mengingat rupa, anak yang pernah memanggilnya ayah.
"Aku lupa, anak yang mana yang panggil kau ayah masa itu. Tapi dia anak perempuan, masa itu keknya usianya empat tahun. Mungkin sekarang, dia udah berusia enam tahun." tuturku perlahan.
__ADS_1
Raka manggut-manggut, "Itu kah? Soalnya cuma dia yang selalu minta ikut. Dia anak orang kaya, tapi keluarganya ngelempar dia ke sini lepas orang tuanya meninggal. The real sinema Indosiar." Raka menunjuk gadis kecil yang masih menggunakan seragam merah putih.
Aku mengingat kembali rupa anak yang dulu pernah ia bawa. Memang sepertinya anak itu, yang Raka bawa masa itu.
"Yuk ke mamah." ia menggandeng tanganku kembali.
Aku menarik tanganku sendiri.
Jika dulu, aku selalu berusaha menggandeng bang Daeng. Hari ini, aku baru merasakan tidak nyamannya digandeng.
"Di mana mamahnya?" tanyaku kemudian.
"Di halaman belakang keknya."
Tak lama kemudian, kami sudah berada di depan ibu Trisnawati. Ia seorang diri di rumah ini, pantas saja ia membuat asrama kecil untuk menghalau rasa kesepiannya.
Untungnya mamah Dinda dan papah Adi masih memiliki Gavin, Gibran, Key dan kak Ifa di rumahnya. Beliau pasti tidak kesepian, seperti ibu Trisnawati ini.
"Hei, Canda. Akhirnya main juga." ia menyambutku hangat.
"Hai, Cantik." beliau menoel pipi Ceysa.
"Arghhhh....." tirex langsung keluar.
"Maaf, Mah. Anak-anak aku tak ada yang jinak. Mereka susah bersosialisasi, yang besar baperan, yang kecil doyan teriak-teriak." ungkapku dengan mengusap-usap rambut Ceysa yang bervolume tebal ini.
"Tak apa, Canda. Mari duduk. Silahkan ngobrol-ngobrol, Mamah mau ambil minum sama cemilan dulu." ia mengusap lenganku, lalu berlalu pergi.
Aku duduk di kursi rotan, yang memiliki busa ini. Ini kursi santai, begitu nyaman aku duduki.
Aku melepaskan gendonganku, menurunkan tubuh Ceysa. Aku membiarkannya untuk bergerak di sekitar sini. Di usianya satu tahun, Ceysa sudah bisa berjalan.
Chandra pun diturunkan oleh Raka. Chandra sudah celingukan mencari keberadaan mainan favoritnya.
Aku meraih tas jinjingku. Lalu mencari perbekalan agar Chandra anteng.
Taraaaaaa....
"Ini, Bang." aku membawa balok susun berjumlah lima biji.
Tak melulu banyak, satu pun yang penting ia menggenggamnya. Balok susun sudah seperti empeng menurut Chandra. Tidur pun, ia membawanya.
Ia sudah cengengesan, Chandra begitu bersemangat berjalan ke arahku.
"Macih ya?" ia sudah duduk di dekatku, dengan mainannya.
"Makasih ya, gitu Bang. Abang harus pelan-pelan ngomongnya." aku merapihkan ikat rambut Chandra.
Ia seperti seorang anak mafia, dengan penampilan sangarnya ini.
Aku kembali memperhatikan Ceysa, ia tengah bersandar pada meja dengan memperhatikan wajah Raka. Ceysa sering seperti ini, jika bertemu orang baru.
"Ini, silahkan diminum." ibu Trisnawati datang, dengan senampan minuman dan cemilan.
"Jadi ngerepotin ya, Mah." aku tersenyum canggung pada beliau.
"Tak juga. Oh iya, Raka udah bilang belum tentang anak-anak kalian nanti."
Aku mengerutkan keningku. Lalu aku melempar pandangan pada Raka yang tengah tersenyum pada Ceysa.
__ADS_1
...****************...
Anak-anak? kalian? 🙄