Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD154. Rahasia banyak anak


__ADS_3

Gelak tawa langsung bersahutan.


"Iya, bener-bener. Kok pandai sih, Kak?" tanya host bertopi kupluk.


"Iyalah, pandai. Kan penulis, Bodoh!" host berkaca mata melemparkan barang kecil seperti kulit kacang ke arah host bertopi kupluk.


Mereka tertawa kembali. Hadeh, memang isinya tawa semua. Mata bang Daeng pun sampai berair.


"Jadi, anak dari istri lain ini yang nomor berapa Kak?" tanya mereka pada mamah Dinda.


"Oh, itu privasi ya. Maaf." mamah Dinda menangkup tangannya di depan dada.


Dua host pun mengangguk, "Katanya ada anak angkat juga?" lanjut host berkacamata.


"Ada satu, tapi diasuh kakaknya. Kita mau ada proyek pekerjaan di luar negeri, tapi orang tua kandungnya gak kasih izin kita buat bawa dia sampai ke luar negeri." terang mamah Dinda.


"Susah nanti mereka kalau mau nengokinnya." tambah papah Adi.


"Kenapa ambil anak, Kak? Kan anak udah banyak." itu adalah pertanyaan yang realistis.


"Bang Adi pengen anak perempuan. Aku cuma bisa kasih satu anak perempuan buat dia, menurutnya itu kurang." wajah mamah Dinda terlihat sendu, lalu ia melirik papah Adi sekilas.


Ia terlihat sekali tengah berakting di sini. Papah Adi pun langsung menyunggingkan senyum masamnya, ia pasti merasa dikambinghitamkan oleh mamah Dinda. Host pun memperhatikan interaksi mereka, lalu mereka tertawa geli.


"Dikambinghitamkan ya, Bang?" tebak salah satu host tersebut.


"Iya. Aku memang ada bilang, pengen anak perempuan lagi. Karena gadis-gadis aku udah pada besar, udah pada rumah tangga. Mereka udah beralih pada ngerengek ke suaminya, aku tak direngekin mereka lagi." terang papah Adi kemudian.


"Tuh, Bang. Cuma ngomong kan padahal, tapi aku langsung kasih tuh anak perempuan." mamah Dinda seperti menyombongkan dirinya.


Bang Daeng tertawa geli. Ini terlihat begitu lucu, apa lagi wajah mamah Dinda sesuai ekspresinya.


"Iya, iya. Adek terbaik kok." mataku langsung melebar, papah Adi mencium mamah Dinda di depan kamera.


Tapi ngomong-ngomong, kenapa tidak disensor?

__ADS_1


"Meukawen aku besok." ucap host berkacamata, dengan mengacak-acak rambutnya.


Ini lebih banyak komedinya.


"Ngomong-ngomong, tips biar banyak anak tuh gimana Bang? Istri aku hamil nih, setelah penantian tujuh tahun rumah tangga." host bertopi kupluk kembali mengajak ngobrol narasumbernya.


"Aku pun pengen nanya, KB terkuat selain steril ini apa?" kenapa sih papah Adi begitu terlihat menghibur? Tawaku dan bang Daeng sampai begitu menggema.


"Kenapa tak milih steril aja buat istrinya, Bang? Kan anak udah ada banyak juga. Malah khawatir nanti beresiko buat kak Dindanya." ujar host berkacamata, dengan memperhatikan mereka berdua bergantian.


"Takutnya aku tak umur panjang. Terus Dek Dinda kan masih muda, dia harus nikah lagi sepeninggalan aku. Kalau suami barunya nuntut keturunan, nanti gimana nasibnya?"


Ya ampun, aku tak menyangka papah Adi memikirkan tentang kehidupan istrinya jika ia meninggal lebih dulu.


"Jangan ngomong begitu coba, Bang!" mamah Dinda langsung bergelayut pada lengan papah Adi.


"Iya Abang ini, kan aku jadi takut tergoda kak Dinda." tambah host bertopi kupluk bermanja ria dengan host berkacamata.


Tawa pun tak bisa dihindari lagi.


"Udah, udah. Aku nangis nih nanti." host berkacamata sudah menutupi wajahnya dengan tangan.


Tawa samar terdengar, mamah Dinda pun menutup mulutnya.


"Jadi apa resepnya, Bang? Aku pengen punya tiga anak aja deh, tak perlu sampai sembilan." host bertopi kupluk mengembalikan topik pembicaraan mereka.


"Tak ada resep, sampai-sampai IUD dan implan pun jebol." jawab papah Adi kemudian.


"Eh, Kak. Ngomong-ngomong, bang Adi masih suka nongkrong sama kawan tak sih? Game online, atau mancing mania gitu?" topik pembicaraan sudah berubah kembali.


Mamah Dinda menggeleng, "Di rumah aja, liburan pun sama aku sama anak-anak juga. Nongkrong ke mana? Anaknya pasti ngikut." jawab mamah Dinda kemudian.


"Baru nih aku duduk, main HP. Si Gibran datang, anak yang paling bungsu. Papah... Minjem HP, aku mau unboxing mainan baru aku. Kakaknya Gibran juga datang, papah aku mau main Hay Day." tambah papah Adi dengan geleng-geleng kepala.


"Aku tak kasih anak-anak yang kecil HP pribadi. Kalau dia mau main HP, mereka pinjam sama aku atau papahnya." timpal mamah Dinda

__ADS_1


"Bang... Tak stress kah? Tak butuh hiburan kah? Aku paham loh, Bang. Ladang kopi ini pelik, apa lagi muter biar bisa jadi uang. Tak pernah terlintas pengen hiburan atau ngumpul bareng kawan gitu?"


Papah Adi mengangguk beberapa kali, "Hiburan aku... Se*s. Bukan maniak, hiper, atau rakus. Tapi memang hiburan aku ke situ. Hipertensi lagi kumat, main gitu, mendingan, terus bisa normal lagi tensinya selang satu atau dua hari."


Host saling beradu pandang, lalu mereka fokus kembali memperhatikan narasumbernya.


"Apa ini rahasia banyak anak?" tanya salah satu host.


"Aku tak tau kalau masalah itu. Tapi aku kalau ada beban pikiran, larinya ke istri. Bercanda kan kita, terus ya gitu deh." jawab papah Adi kemudian.


"Serius, Kak?" host berkacamata seperti terheran-heran.


Mamah Dinda mengangguk, "Iya, anak-anak yang udah dewasa juga udah tau kebiasaan papahnya. Kalau lagi mumet gitu, dia sehari bisa nambah sampai dua kali. Kalau jatah biasa, paling kasih libur selang sehari gitu. Tak melulu kita junub."


Tawa terdengar kembali, saat mamah Dinda mengatakan junub.


"Kuat, Bang? Di usianya sekarang? Ehh, maaf. Kan maksudnya, seumuran Abang kek gitu kan udah disebutnya paruh baya." host bertopi kupluk tidak bermaksud membuat papah Adi tersungging menurutku.


Pasti tabiat papah Adi yang tersinggung, diketahui oleh mereka.


"Aku bisa nyambung dua ronde tanpa wasit." aku dan bang Daeng tergelak begitu geli.


"Kami dulu pernah sehari delapan kali, pas punya anak yang kelima. Tapi itu sekali-kalinya, soalnya aku tak bisa bangun lepas itu." tukas mamah Dinda sembari tertawa sendiri, bukan main tawa dari yang lainnya juga.


"Waktu awal pengantin baru, belum nikah resmi itu dia nantangin. Aku bisa ngewujudin pas banyak anak itu, karena keadaan tak pas terus." mereka memang paling asik jika diajak ngobrol.


"Polosan itu, Bang?" tanya host bertopi kupluk.


Papah Adi menggeleng, "Aku pakai L*bido, yang diseduh kek jamu. Terus dek Dinda pakai K Pleasure Enhancing Gel."


"Nah, ini yang Abang beli waktu di Batam. Sini Adek Abang pakaiin, Adek malah gak mau. Kalau digunakan sesuai kebutuhan, pasti aman aja Dek." aku menoleh cepat pada bang Daeng.


...****************...


Catat mereknya, cusss cari di shopee 😂😆🤣😝

__ADS_1


__ADS_2