Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD341. Setuju rujuk


__ADS_3

"Aku ngajakin Abang rujuk." aku tersenyum manis padanya.


Mulutnya langsung menganga. Lalu bang Daeng tersenyum malu, dengan geleng-geleng kepala.


Bang Daeng seperti tengah salah tingkah.


"Mau tak?" aku mencolek lengannya.


Ia menoleh kembali ke arahku. Senyum manisnya masih begitu menggelitik kupu-kupu di hatiku.


"Awalnya kan, memang Abang ngajakin. Abang pasti mau lah." jawabnya kemudian.


Aku menggenggam tangannya, rasa panas tertransfer ke tanganku.


"Apa sih, Canda?! Kok geli Papah tengoknya!"


Aku segera melepaskan tangan bang Daeng. Aku yang malah malu sekarang.


Bang Daeng menarik tangannya, lalu ia menunjukku dengan ibu jari tangannya.


"Gak tau nih, Pah. Dari beberapa hari kemarin kek mau nyebrang, pegangan tangan terus."


Jika saja aku tidak ingat bahwa perutnya tengah sakit. Aku akan mencubit perutnya.


Aku melirik ke arah papah Adi. Beliau hanya geleng-geleng kepala saja. Aku sungguh tidak tahu, bahwa papah Adi sudah selesai berbicara dengan ponselnya. Jika begini, kan aku sendiri yang merasa malu.


"Iya, Givan sampai ngadu katanya dicuekin." papah Adi berjalan ke arah nakas yang dekat dengan brankar yang aku tempati.


"Mas Givan juga lagi sibuk, Pah. Aku lebaran aja, ngobrol cuma ngasih uang jajan aku aja, terus dia buru-buru pergi." ucapku kemudian.


"Iya, nanti juga dia gak sibuk lagi. Susah kalau bos tambang banyak utang tuh."


Aku dan bang Daeng tertawa lepas, mendengar ucapan papah Adi yang mengejek anaknya itu.


Papah Adi fokus pada ponselnya kembali. Lalu, ia segera berkomunikasi lagi dengan seseorang di seberang ponsel.


"Ya iya! Sapa kek, Chandra aja sekalian. Mabar bareng sama kau nanti. Di rumah aja juga, hobi begadang terus. Istri dokter, hobi begadang, gimana lah ini?!"


Aku dan bang Daeng saling memandang. Aku khawatir mengganggu konsentrasi papah Adi berkomunikasi, jika aku dan bang Daeng malah mengobrol.


"Ya udah. Ditunggu, biar Papah balik kalau kau udah di sini. Bawa stok jajanan buat anak mantan, yang kau klaim jadi anak kau itu. Diapers, kuota yang full, WiFi lelet di sini."


Benarkah Chandra akan dibawa menginap di sini?


"Mana? Mana?" papah Adi terkekeh geli.


Suara orang berbicara cepat di seberang telepon papah Adi, sampai terdengar di telingaku. Padahal tidak dispeaker. Sudah pasti, orang tersebut tengah marah-marah dengan suara lantang di sana.

__ADS_1


"Nuntut banyak-banyak kau! Percuma! Kau aja pulang pagi terus! Begadang terus! Pengen anak yang tidur normal, tepat waktu. Yaaaa, bagaimana Anda itu sih."


Aku dan bang Daeng masih terdiam, dengan memperhatikan papah Adi.


"Ya urus sendiri anak kau sana, bawa ke Kalimantan sana. Balik-balik bawa pasak bumi buat ,Papah." papah Adi terkekeh geli.


Sepertinya, beliau tengah berbicara dengan mas Givan.


"Ya udah sih?! Tak kau ya Ghifar. Anak banyak, buat apa besarin sampai sekarang? Ada Ghavi sama Ghava juga, tinggal bilang. Banyak alasan kau! Bilang aja tak mampu datang!" papah Adi seperti berbicara dengan temannya.


"Ya udah, Papah tunggu. Kasian mamah, tak ada yang angetin."


Tepuk jidat.


Bang Daeng sampai terkekeh geli, dengan geleng-geleng kepala. Kalian pasti tahu di mana titik lucunya. Lebih-lebih, ini bermakna seribu.


Papah Adi memperhatikanku bergantian dengan bang Daeng.


Ada apa?


"Kau nguping?!" itu lebih seperti menuduh.


"Iya, Pah." aku tersenyum kuda.


"Dasar!" makinya lirih.


Papah melirikku, lalu ia memperhatikan bang Daeng begitu lekat.


"Yang bersangkutan memangnya setuju?" tanya papah Adi.


Bang Daeng mengangguk, "Canda mau kok, Pah."


Aku kurang briefing dengan papah Adi. Sebaiknya, nanti aku akan memberitahu papah Adi. Aku mau rujuk dengan bang Daeng, semata-mata agar bang Daeng memiliki semangat untuk sembuh.


"Tapi Papah punya syarat."


Papah Adi melirikku. Aku hanya mampu mengerutkan dahiku. Benar-benar kurang briefing.


"Apa itu, Pah?" tanya bang Daeng langsung.


"Jangan jandakan Canda lagi. Papah pun nuntut kesembuhan atas kesehatan kau. Papah tak mau direpotkan kau bolak-balik rumah sakit, lepas kau rujuk sama Canda. Bisa dibilang..." papah Adi mengusap-usap dagunya, "Kau boleh rujuk, kalau kau udah sembuh." papah Adi kembali memperhatikan bang Daeng begitu tajam.


"Kau paham kan maksud Papah? Papah cuma tak mau, anak gadis ini janda ketiga kalinya." lanjut beliau kemudian.


Bang Daeng mengangguk. Terlihat, ia mengangguk lesu.


Apa kesulitannya untuk sembuh?

__ADS_1


Apa ia masih tidak memiliki semangat untuk sehat, agar hidup lebih lama lagi?


Sekali lagi, aku paham kematian adalah ketentuan. Namun, aku ingin dia hidup lebih lama lagi.


Aku menyentuh tangannya yang berpegangan pada tepian brankar ini, "Abang kenapa?" aku khawatir melihat keadaannya.


Ia menoleh ke arahku, kemudian ia menyunggingkan senyumnya.


"Abang gak tau harus berobat ke dokter mana lagi. Abang di Singapore pun di rumah sakit terbaik, di dokter spesialis terbaik di sana. Tapi apa nyatanya? Komplikasi ini itu, ada aja yang bikin gak sembuh-sembuh. Abang gak yakin bisa sembuh, tapi Abang takut mati juga."


Ini membuatku cengeng.


"Papah bantu cari informasinya. Yang penting kau semangat sembuh, kalau memang niat mau rujuk. Kau ngajak rujuk, dengan keadaan kau begitu. Ya, gimana?" papah Adi garuk-garuk kepala.


Ternyata, papah Adi satu pemikiran denganku tanpa dibriefing dulu juga.


Bang Daeng menarik sudut bibirnya pada papah Adi, "Makasih, Pah. Insya Allah, aku mulai ikhtiar lagi."


Semangatku pun bangkit, mendengar penuturannya.


Tiba-tiba, aku mendapat usapan di pucuk kepalaku.


Aku segera menoleh pada pelaku. Ternyata, papah Adi di sana. Ia tersenyum penuh tenang padaku.


"Kau pun yang sehat. Biar mampu hamil lagi, biar mampu urus anak lagi. Sekalipun orang tua kau sanggup ngurus cucunya, tapi secara tidak langsung kau udah dzolim ke mereka. Orang tua kau udah capek ngurus kau dari kecil, sekarang kau mesti berbakti ke mereka."


Ini merupakan sindiran keras.


"Ya, Pah." aku tak mampu menyahuti yang lebih dari ini.


"Kira-kira kapan aku bisa rujuk, Pah?" tanya bang Daeng kembali.


Papah Adi menarik tangannya dari pucuk kepalaku, ia memandang lurus ke arah bang Daeng.


"Kalau kau sembuh, Canda sembuh."


Berdosakah aku, karena meragukan kesehatan untuk bang Daeng?


Ia melewati tidak hanya satu kali operasi. Namun, keadaannya malah semakin menurun seperti ini. Bukannya lekas membaik, karena diberi tindakan cepat. Tetapi malah sebaliknya seperti itu.


"Aku harus mulai berobat di mana, Pah? Aku yakin, abses aku belum sembuh. Apa harus aku ambil tindakan operasi lagi nanti? Bukan operasinya yang aku takutkan, tapi efek setelah obat bius hilang. Aku cukup trauma ngerasain rasa sakitnya, Pah." aku bang Daeng lirih.


Ia pasti merasa berada di titik terendahnya sekarang. Pandangannya pun tertunduk lesu.


...****************...


Banyak yang menerka-nerka di sini 😣 Yang disemogakan, semoga tersemogakan.

__ADS_1


__ADS_2