Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD322. Lendra dan Givan


__ADS_3

"Mau bantu pakai itu. Memang bisa?"


Huft, aku kira ia mau bertindak cabul.


Ternyata, ia hanya membantuku memakai pakaian d*lam.


"Bang, aku mau jalan aja."


Bang Daeng hanya mengangguk. Kemudian, ia merangkulku.


Rasanya lemas sekali.


Jika tidak disangga oleh bang Daeng. Mungkin aku akan terjatuh.


"Jadi, kek gini masanya nifas? Jadi, ini pengulangan untuk Abang ngerasain bantu istri nifas?"


Aku memilih tidak menjawabnya.


~


Satu minggu kemudian, aku sudah cukup merasa baik. Namun, aku masih berada di dalam kamar.


Sore hari kemarin, hasil tes darah dan urinku keluar. Kaliumku tidak begitu rendah seperti awal, tetapi belum dikatakan normal.


Yang menjadi semua orang bertambah khawatir padaku. Karena, kaliumku terbawa oleh air seni. Jika terus-terusan seperti ini, keadaanku tidak akan membaik.


Lebih bahayanya lagi, ini mengancam nyawaku.


Aku tengah berjemur di balkon kamar. Memperhatikan manusia yang berlalu lalang di sekitar sini.


Sudah ada bang Dendi yang lewat. Papah Adi yang keluar dari rumah, mungkin akan ke ladang. Key dan kak Ifa yang berjalan menuju rumah Ghifar.


Namun, aku malah dibuat terkejut dengan kedatangan mobil keluarga yang berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah mamah Dinda.


Wow, rupanya si sulung datang.


Setelah ia keluar dari mobil, ia mematung dengan memperhatikan ke arah teras rukoku.


Ada apa ya kira-kira?


Beberapa saat kemudian, mas Givan melangkah masuk ke dalam halaman rumah.


Aku sudah rindu pada mas Givan yang baru. Aku ingin banyak bercerita dan mengadu.


Aku langsung memainkan ponselku. Kemudian aku bersiap menahan voice note ke kontak mas Givan.


"Welcome to Adi's Bird Family residence."


Aku langsung cekikikan sendiri, saat mendengarkan ulangan putaran suara tersebut.


Cukup lama. Mungkin mas Givan tengah membersihkan diri.


Drttt....


Aku langsung membuka pesan masuk tersebut.


🤣 Nanti ke sana, mau bobo dulu.


Pesan dari mas Givan.


Oh, iya. Pagi begini ia baru sampai, berarti ia sejak malam dalam perjalanan.


Ya, sudahlah. Aku tidak akan mengganggu ayahnya Chandra dulu.

__ADS_1


Gelak tawa terdengar begitu renyah. Aku langsung mencari sumber suara.


Ternyata itu di jalan.


Chandra tertawa lepas, ia berada dalam gandengan tangan bang Daeng.


Sedang bercanda apa ya?


Aku jadi ingin bergabung bersama.


Bang Daeng berjalan menuju kantor milik Ghavi.


Apa ia sekarang bekerja di tempat Ghavi kembali?


Berarti tiga hari lagi, sudah lebaran idul Fitri. Berarti, dua hari lagi rumah mamah Dinda akan ramai karena hari makmeugang.


Apa aku bisa berjalan ke sana? Untuk berbaur dengan anggota keluarga yang lain.


Beberapa jam berlalu, aku kini tengah makan siang bersama bang Daeng.


Entah apa motivasinya, makan dengan bersembunyi di kamarku seperti ini. Sepiring berdua, dengan porsi tumpeng.


Pasti ia berkata pada ibu, ingin mengantarkan makanan untukku. Namun, nyatanya ia membantuku menghabiskan isi piringku.


"Abang, aku belum punya baju lebaran."


Ia malah tertawa sampai tersedak.


"Kok ketawa?" aku memperhatikannya bingung.


Hubunganku membaik. Namun, kami tidak pernah membahas tentang hubungan kita. Hanya berbicara seperti kegiatan sehari-hari dan membahas tentang anak-anak.


"Kemarin Abang shopping sama Zio, sama ibu juga. Udah belikan buat semuanya, buat zakat sama fidyah juga."


Aku bagai celengan kosong.


"Baju aku model apa?" aku harus selalu berpikir positif dan happy.


"Eummm." ia seperti berpikir atau mengingat sesuatu, "Model daster."


Aku langsung memukuli lengannya. Bang Daeng pun, langsung tertawa lepas.


Ceklek.....


Langkah kaki terdengar mendekat.


Bang Daeng cepat-cepat menelan makanannya. Lalu, ia pura-pura menyuapiku.


Dasar, licik!


Aku malah dikambinghitamkan. Meski memang aku tidak berpuasa sekarang. Yang pertama, karena anjuran dokter. Yang kedua, karena aku tengah datang bulan.


"Pergi sana kejar b*bi! Biar ada kerjaan, alasan yang lebih membanggakan. Nitipin anak sama aku, kau malah suap-suapan. Sialan!" mas Givan mencambuk bang Daeng pelan, dengan kaos yang tersampir di bahunya.


Bang Daeng cekikikan. Ia malah tanpa canggung memakan nasi yang sudah berada di sendoknya, di depan mas Givan yang mungkin tengah berpuasa sekarang.


Apa mereka akrab?


Namun, aku yang canggung sekarang. Karena, kedua mantan suamiku ada di hadapanku dengan keadaan sama-sama bertelanjang dada.


Ehh, aku malah teringat sesuatu.


Bang Dendi pernah mengatakan sesuatu. Ya mungkin candaan, tapi aku malah takut terjadi.

__ADS_1


Ga*gba*g.


Di mana perempuan melakukan se*s, dengan lebih dari dua laki-laki di waktu yang bersamaan. Salome, istilah Indonesianya mungkin.


Aku jadi takut. Mana aku tidak bisa berlari lagi.


Bang Daeng ada di tepian ranjang, persis di sebelah kakiku yang selonjoran dengan menghadap padanya. Sedangkan mas Givan, ia berada di sampingku. Aku dan mas Givan sama-sama bersandar pada kepala ranjang.


"Mana anak-anak, Mas?" aku mencoba meredam kecanggungan ini.


Ia menoleh sekilas padaku. Namun, ia malah kembali mengoperasikan ponselnya.


"Di rumah mamah, diajak tak ada yang mau." jawabnya kemudian.


"Mas bawakan apa buat aku?"


Gelak tawa terdengar berbaur bersama.


"Adek gimana sih?! Tadi sama Abang, nanyain baju lebaran. Sekarang, nagih oleh-oleh sama Givan." ujar bang Daeng dengan tawanya.


"Selamitan memang dia, Len. Oleh-olehnya, uangnya, waktunya, diminta semua." mas Givan malah mengadu.


"Sama. Serakah dia." bang Daeng melirikku sebagai sindiran, "Diajakin rujuk, adem aja, gak ada respon. Tapi cemburu buta, nanyain Hala." ia cekikikan.


"Tau, nih. Aku sampai dijadikan cadangan. Kalau dia tak jadi sama kandidat manapun, minta rujuk aja katanya."


Mas Givan dan bang Daeng malah begitu puas mentertawakanku.


Aku langsung merebut sendok bang Daeng, kemudian menyuapkan sendiri ke mulutku dengan ekspresi kesal.


Namun, yang ada mereka malah lebih kuat tertawa.


Aku merengkuh lengan mas Givan. Lalu aku gunakan sebagai sandaranku.


"Aku jangan diketawain aja. Aku polos, aku tak paham apa-apa." aku memasang wajah memelas.


Bang Daeng sampai memegangi perutnya, karena tawanya yang membahana. Mas Givan pun, sampai terbatuk-batuk seperti Chandra yang tidak bisa mengontrol tawanya.


"Gak paham apa-apa katanya, tapi ny*pong bisa."


Hah?


Mataku membulat sempurna atas celetukkan dari bang Daeng.


Mas Givan seperti terkejut. Ia memutar tubuhnya ke arahku, membuat cekalanku pada tangannya terlepas.


"Ehh, iya kah? Coba lah, testi dulu! Soalnya kan, dulu kena gigi terus."


Bang Daeng dan mas Givan makin usil mengerjaiku dengan candaannya. Aku segera memukul mereka dengan bantal yang berada di pangkuanku.


Sayangnya, hal itu membuat mereka makin gencar mentertawakanku.


Kok begitu esktrim candaan laki-laki? Mereka bergurau, dengan wanita yang pernah mereka rasakan sebelumnya.


Jika perempuan, pasti sudah adu jambak. Ya, aku yakin itu.


"Iya, iya. Masuk aja. Canda gak bisa turun soalnya." itu suara ibu.


Ibu mengajak siapa?


"Assalamualaikum..." sapa orang tersebut, yang sudah berada di depan ranjangku dengan parcel buah yang begitu besar.


...****************...

__ADS_1


Wa'alaikum salam


Jeng, jeng, jeng....


__ADS_2