Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD223. Ke dokter kandungan


__ADS_3

"Ayah...."


"Yayah Iyan."


Chandra ikut melompat-lompat saja, saat laki-laki yang menggendong ransel itu memasuki halaman rumah. Senyum mas Givan langsung lenyap, saat seruan Chandra lebih dominan.


"HEH!" mas Givan langsung memberi Chandra pelototan tajam.


"SIAPA YANG NGAJARIN YAYAH IYAN YAYAH IYAN?!" bentaknya dengan mencekal lengan Chandra.


"Hei! Apa-apaan kau!" bang Daeng berseru dari depan garasi.


Mas Givan menggulirkan pandangannya pada bang Daeng, lalu ia menatapku tajam. Sorotnya kembali ke pada Chandra.


Lihatlah, anaknya sampai sudah merengek ketakutan.


"Ap, Yayah." Chandra langsung memeluk satu kaki mas Givan dan menangis tersedu-sedu.


Nyalinya sepertiku.


"Udahlah, Mas. Gitu aja marah." aku langsung jongkok di belakang Chandra.


Aku berniat membujuk Chandra, agar tidak melanjutkan tangisnya. Namun, aku sendiri lebih takut bang Daeng terpancing emosi. Ia sudah memperhatikan mas Givan dari jauh, sejak tadi.


Mas Givan langsung jongkok, lalu ia memeluk buah cintanya denganku itu.


"Yayah juga maaf ya? Yayah tak suka dipanggil Yayah Ziyan. Ini Yayah Abang, Yayah Kak Key, Yayah Adek Zio." mas Givan menarik anak gadisnya, lalu memeluknya erat bersamaan dengan ia memeluk Chandra.


Oh, jadi seperti itu menaklukkan amarah mas Givan. Ternyata, dengan cara memeluknya erat seperti itu.


"Yayah jajaj." ucap Chandra yang membuatku dan mas Givan terkekeh geli.


"Ayo, Nak. Ayo, Dek." bang Daeng ternyata sudah siap di atas motornya.


Chandra melepaskan ayahnya, ia hendak melangkah menuju manggenya.


"Siapa itu, Bang?" mas Givan mencekal tangan Chandra.


"Tutu, Khe." Chandra menunjuk manggenya.


"Khe?" mas Givan berlalih memandangku dengan terheran-heran.


Aku paham, mas Givan menanyakan perihal laki-laki itu padaku.


"Ayah sambungnya Chandra, Bang. Dipanggilnya mangge, Chandra biasanya khe aja." terangku kemudian.


Aku pun hendak melangkah ke arah bang Daeng. Namun, aku masih menunggu Chandra agar dilepaskan oleh ayahnya.


"Suami kau?" mas Givan bangkit, ia menggendong Key dan melepaskan Chandra.


Aku mengangguk, lalu membantu Chandra naik ke motor baru kami. Motor second bebek, seharga dua juta setengah dibeli bang Daeng dengan uang sisa yang ia miliki. Ia mengaku, gaji dan preminya sudah dikirim-kirimkan padaku, saat ia sudah mendapat surat paklaring. Ia pun sengaja tak menggunakan transaksi lewat ATM langsung, karena ia takut terlacak oleh Putri.

__ADS_1


Jadi, ia tak memiliki tabungan lain. Selain uang, yang ada padaku.


"Biyung... Nitip sosis Kanzler, jangan yang pedas." ujar anak TK nol kecil tersebut.


Aku menoleh pada Key, lalu menyunggingkan senyum manisku.


"Okeh." aku membentuk huruf O dengan ujung ibu jari dan telunjukku.


"Dek.... Jadi naik motor?" king di rumah ini muncul dengan menggendong Gibran.


Gibran tengah demam. Ia terlihat tidak bersemangat dan juga banyak merengek. Padahal, ia bukan balita lagi.


"Ya, Pah." aku sudah naik di jok belakang.


"Pakai penyangga belum?" tanyanya kembali.


"Udah, Pah. Di dalam baju, makanya kek gembung gini." aku mengusap-usap perutku.


Papah Adi mengangguk, "Ya udah, ati-ati."


Aku tersenyum, "Ya, Pah. Assalamualaikum." bang Daeng langsung menarik gas motornya perlahan.


Karena motor melaju begitu pelan, membuat kami baru sampai di tujuan sekitar empat puluh lima menit perjalanan.


Chandra pun, sampai terlelap.


"Udah daftar, Bang. Misal kelewat pun, bisa langsung masuk. Dokter langganannya mamah Dinda. Ini anaknya dokter dulu, waktu mamah Dinda hamil anak-anaknya yang besar." jelasku, saat kami sudah berada di ruangan tunggu.


"Silahkan." pegawai tersebut langsung menyunggingkan senyumnya.


Tak lama kemudian, nomor antrian berubah menjadi angka satu.


Sulap.


Padahal tadi antrian sudah berada di angka empat puluh tiga.


Aku langsung masuk, diikuti dengan bang Daeng yang tengah menggendong Chandra.


Aku diminta langsung naik ke atas tempat tidur, kemudian seorang suster langsung memberi gel di atas perutku yang sudah terlihat jelas.


"Trimester dua ya, Bu?" ucap dokter tersebut, yang mulai memutar-mutarkan alat USG di atas gel tersebut.


"Iya, Dok." jawabku kemudian.


"Wah... Udah keliatan nih jenis kelaminnya." terlihat janinku bergerak-gerak di atas visual yang terpasang itu.


Dokter perempuan tersebut menunjuk Chandra yang masih terlelap dalam dekapan ayah sambungnya itu, "Itu abangnya ya?" tuturnya begitu ramah.


"Iya, Dok. Baru dua tahun, udah mau punya adik." sahutku sembari membalas senyumnya.


"Lengkap nih, udah sepasang. Abangnya laki-laki, adeknya perempuan."

__ADS_1


Bang Daeng tersenyum bahagia, dengan mengusap-usap kepalaku.


"Alhamdulillah." ujar bang Daeng kemudian.


"Sehat, sempurna, tumbuh normal, rambut udah ada, berat badan sesuai bulannya. Bagus, bagus." dokter tersebut menyudahi acara memutar-mutar alat tersebut.


Ia berlalu pergi, disusul dengan suster entah asistennya yang datang untuk mengelap sisa gel yang berada di atas perutku.


"Silahkan, Bu. Konsultasi mengenai keluhannya, biar diresepkan yang sesuai." tuturnya ramah.


"Terima kasih." aku bangun, lalu membenahi pakaianku.


Banyak yang aku tanyakan. Salah satunya, mengenai aku yang lebih banyak tidur sampai sekarang. Ia mengatakan, tidak masalah yang penting aku melakukan olahraga kecil dengan rutin, dengan asupan yang cukup.


Yang membuatku canggung, bang Daeng malah menanyakan perihal hubungan badan.


"Mau langsung belanja ke supermarket kah?" bang Daeng menggandengku, saat kami berjalan keluar dari ruang dokter.


"Boleh." aku langsung menyetujui.


Setelah menebus resep dokter. Kami langsung meluncur ke swalayan terdekat. Letaknya di area kampus, cukup dekat dengan lokasi dokter kandungan tadi.


Pegawai supermarket dan SPG di sini, menggunakan pakaian pas badan pada umumnya. Namun, ada yang sedikit berbeda. Mereka menggunakan kemeja kerjanya seperti pakaian tunik. Panjang seragam SPG pun, sampai setinggi lutut. Lalu dipadukan dengan celana jeans pada umumnya. Itu adalah seragam para pegawai dan SPG wanita.


Tidak hanya supermarket. Minimarket berlogo biru dan merah pun berpakaian seperti itu. Kemeja berwarna merah atau birunya, sepanjang lutut.


"Dek... Ada pakaian juga. Beli, Dek. Buat anak-anak di rumah. Beli buat mamah, sama ibu. Sarung buat papah juga." bang Daeng langsung mendongak saja, melihat lantai dua yang terlihat dari tempat kami berpijak ini.


"Mamah Dinda tak suka baju kualitas mall, supermarket gini. Mamah suka baju di butik langganannya. Lagi pun, sarung papah Adi merek BHS. Kisaran ratusan ribu, sampai jutaan."


Untungnya Chandra sudah terbangun. Aku menggandengnya, meski ia berulang kali menolak cekalan tanganku.


"Mending Abang, Atlas, Wadimor, Gajah duduk." ujarnya dengan terkekeh.


Ia langsung berlari, kemudian menangkap Chandra yang sempat terlepas. Aku khawatir, Chandra ditabrak orang yang berlalu lalang.


Aku menghampirinya, "Abang kan bukan kelasnya. Atlas pun yang standar, mahal-mahal Abang pakai, paling yang seratus lima puluh ribu." ejekku padanya.


Ia berhasil menggendong Chandra, ia menoleh padaku dengan tertawa renyah.


"Celana Chino pendek aja, belinya yang promo sembilan puluh ribu dapat lima. Pas datang, barangnya kek karung beras." ucapnya lirih dengan kekehan pelan.


Memang begitu adanya. Aku kemarin terkecoh dengan harga promo, sampai tidak melihat lagi kualitas dan review produk tersebut. Sampai pada akhirnya, barang yang datang sungguh mengecewakan. Namun, bang Daeng tetap memakainya ketika tidur.


"Daeng... Ada di sini? Katamu, ko menetap di Banda Aceh?" sapa seorang wanita, yang langsung menyentuh lengan bang Daeng.


Logat bicaranya seperti dari daerah asal bang Daeng. Apa dia mantan pacar bang Daeng?


...****************...


Mantan 😆 paling gedeg yang namanya mantan pacar suami 😑 kalau liat mantan pacar sendiri, perasaan kok doi tambah menawan aja 😏 apa karena aku sekarang jadi mamak-mamak, jadi liat mantan masih bujang masih suka ngelirik sampai ekor mata 🧐

__ADS_1


__ADS_2