Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD372. Rencana KB


__ADS_3

"Aku takut Mas ngomong, kalau aku udah tak enak lagi. Aku tak pernah urus masalah itu, sejak selesai nifas waktu hamil Ceysa." ungkapku dengan tertunduk.


Entah, mas Givan akan menjawab apa.


Namun, daguku ditarik olehnya.


"Terus kau mau ngomong, makanya modalin aku dong kek Lendra. Iya? Gitu?"


Wajahnya menyebalkan sekali.


"Jangan harap ya, Canda! Operasi-operasi, bikin pikiran aku tak tenang aja! Laser wajah pun, tak bakal aku izinkan. Udah kau skincare normal aja, tak perlu nyakitin diri kau sendiri buat jadi pemenang di hati aku."


Aku tidak mengerti konsep pikirannya.


"Aku sayang kau, Canda. Kalau ada cara untuk muasin hati kau tentang diri kau, atau dengar alasan biar aku betah, tanpa nyakitin diri kau sendiri, aku bakal dukung. Tapi tidak dengan cara kau sakiti diri kau sendiri. Natural aja kau udah cantik, karena mak mau cantik. Pengen memperindah wajah, banyak skincare. Pengen bikin suami betah di rumah, nanti aku belikan set alat gym. Nanti sekalian aku belikan l*ngerie, buat kau nge-gym di rumah kita. Tak perlu operasi yang nyakitin diri kau sendiri, aku tak suka. Nanti yang ada, aku tak tega makan kau."


Sejak kapan ia memiliki hati selembut ini? Atau memang seperti inilah hatinya, tetapi hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja? Atau, cara penyampaiannya saja yang tidak tepat, lebih cenderung kasar?


Lalu kenapa l*ngerie digunakan untuk olahraga?


Meskipun otakku tumpul juga, aku tau lingerie tempat pakainya di mana. Aku jadi membayangkan bagaimana gemoynya aku, saat berolahraga dengan memakai lingerie.


Aku tertawa geli dengan pikiranku sendiri.


"Aku mau ngomong, aku tak percaya diri aja Mas. Aku ingat dulu Mas pernah bilang, kalau aku ini udah tak gigit lagi. Di mana waktu itu aku abis melahirkan Chandra, aku tak perawatan dan olahraga apapun."


"Memang aku dulu pernah ngomong gitu ya?"


Aku melongo saja mendengar sahutannya itu. Apa ia tidak sadar dulu, bahwa ia pernah mengatakan kalimat menikam itu?


Mas Givan terkekeh, lalu ia mengusap-usap pipiku dengan ibu jarinya.


"Maaf ya? Kalau aku dulu pernah ngomong yang tak enak di hati." tampannya sulung ini.


Untungnya saudara lainnya tidak bisa menandingi ketampanan mas Givan.


Eh, aku lupa. Gibran besar pasti akan menjadi keturunan yang tertampan.

__ADS_1


"Tapi sampai sekarang juga, ucapan Mas tuh suka bikin ganggu pikiran aku. Aku minta dipanggil adek aja, Mas tak mau." bibirku manyun lima senti.


"Cendol aja ya? Dilarang menyerupai panggilan istri seperti panggilan saudara perempuan, atau sama dengan panggilan ibu." wajah seriusnya patut diacungi jempol.


Aku langsung mencubit perutnya, tanpa basa-basi lagi.


Ia mengaduh, tetapi tertawa lepas.


"Fira itu dulunya jual diri sama aku, sampai akhirnya aku latah manggil dia adek. Terus kejadian lah terungkap dia duain aku sama Ghifar, padahal aku tak kurang-kurangnya jamin hidup dia. Keknya, bisa dapat mobil kalau jatah Fira dulu aku kumpulkan. Ngerasa bodoh aja gitu, aku tak mau manggil seseorang yang penting untuk hidup aku dek-dek lagi. Cukup Giska dan Icut aja, itu pun karena kebiasaan dari kecil."


Seperti itu singkatnya?


Tidak ada kaitannya sebetulnya, tapi mungkin sebutan itu merasa ia tersadar dengan kebodohannya.


"Aku tak mau Cendol, Mas. Mas kek aku apa aja?!" aku menyembunyikan wajahku di dadanya.


Mas Givan tertawa samar, ia mengusap-usap punggungku.


"Biarkan aku jadi diri aku sendiri ya?"


"Boleh juga aku jadi diri aku sendiri?" enak-enakan saja dia, bagaimana dengan kenyamanan hidupku.


"Silahkan, asal lima waktu jangan tinggal. Terus juga, nanti kalau udah di rumah sendiri. Jangan pas di sini, kau jelas-jelas nampakin kemalasan kau itu. Apa kata mamah sama papah, kalau menantunya males dan cuma pandai scroll HP. Nanti dibilang percuma aku punya istri, karena tak diurusin. Kelak nanti di rumah kita juga, kau wajib masak. Terserah kau mau makan masakan kau atau gak, yang penting masak untuk aku kalau di rumah."


Aku berpikir sekarang. Ia banyak mengatur sejak dulu itu, apa karena agar namaku tetap baik di depan mamah Dinda? Agar ia tidak dikatakan salah memilih istri? Lebih-lebih, disebut percuma punya istri.


"Anak-anak gimana? Zio gimana? Jasmine, Ceysa?" entah kenapa, empat anak itu terlintas di pikiranku.


"Liat sikon aja deh. Tapi kalau Zio, aku udah minta mamah carikan dua kerabat yang mau kerja sama aku. Buat jadi asisten rumah tangga, sama buat jadi pengasuh Zio. Rencananya nanti, anak-anak suruh nempatin rumah mereka sendiri kalau udah jadi. Key tinggal sama kak Ifa, buat tidur aja gitu. Siang sih, main ke sana ke mari. Jasmine sama mangge, di asuh ma Nilam. Tapi jatah bulanan, aku yang urus. Karena perusahaan Lendra, dialihkan ke tangan aku semua semua. Karena mangge Yusuf tak nyanggupin, di luar keahliannya katanya. Mangge mungkin bantu masalah ladang aja. Memang atas nama anak-anak, tapi anak-anak belum bisa mikul beban perusahaan masing-masing. Jadi mau gak mau, aku handle dulu. Kata mangge juga, silahkan alihkan dananya dulu buat nutup hutang-hutang aku. Mumpung anak-anak masih kecil, kebutuhan hidupnya masih belum seberapa. Nanti kan, gampang diganti rinciannya. Dengan pakai uang Lendra dulu kan, aku cuma bayar pokoknya aja nanti. Terus Zio ya nanti sama pengasuhnya, dia tidur sama pengasuhnya di rumah barunya. Ceysa sama Chandra ya sama kau ya! Memang kau mau jadi TKW ke Taiwan kah? Anak-anak mau kau lempar semua. Aku paham ya, kau tak bakal mampu handle banyak anak. Makanya aku carikan pengasuh mereka."


Aku tertawa sampai ngik-ngik.


Aku menggenggam tangannya, dengan masih tertawa lepas.


"Gemes betul sama kau. Entah apa isi kepala Lendra, sampai bela-belain mau ngerujuk kau."


Aku langsung mencubit tangannya yang sedari tadi aku genggam.

__ADS_1


"Mas aja kenapa mau?!"


Ia tertawa renyah, bukannya mengaduh karena cubitanku.


"Yang pertama, karena amanat. Yang kedua, karena nurut, entah di belakang ngebatin atau gimana. Yang ketiga, karena kasian terus. Perasaan oon betul, segala dibohongi Ardi. Cinta sih tak seberapa, bisa aku usahain move on." ia malah membusungkan dadanya.


Susah jika wataknya sudah sombong dari benih.


Ia tertawa geli, saat aku masih saja cemberut.


Namun, tiba-tiba ia memeluk leherku.


"Karena sayang dong. Tak tega serapuh ini jualan seblak." ia mengunyel-ngunyel pipiku.


Aku langsung berontak. Kemudian mencubitinya, memukulinya, hampir-hampir kugigit juga. Aku kira ia serius, eh ternyata dalam rangka mengisengiku juga.


Ia menahan tanganku, "Serius, serius. Mas sayang sama Cendol." ia membingkai wajahku, kemudian menciumi seluruh wajahku.


Aku memundurkan wajahku, lalu meliriknya sinis.


Jenis apa mas Givan ini? Tidak jelas tokohnya di novelku ini.


"Yuk, ke bidan." ia bangkit dari duduknya.


"Kalau KB pil aja gimana?" aku mengenakan hijab panjang lagi.


"Kita konsultasi aja dulu sama bidannya. Tapi dengan Zio testing kan, keknya benih aku tak masalah lagi ya? Sampai sekarang pun, aku jaga pola makan. Tak alkohol kek dulu, bahkan tak balik rokok juga." mas Givan bercermin di depan lemari.


"Apa hubungannya sama KB?" aku menyenggol tubuhnya dengan pinggulku, agar ia memberiku tempat untuk bercermin.


Plak.....


Aku melongo saja mendapat perlakuannya yang mengejutkanku. Lima tahun aku hidup dengannya, baru kali ini aku mendapat......


...****************...


Ditampar kah? KDRT kah? Lapor mamah Dinda cefffaaaattttt.

__ADS_1


__ADS_2