Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD432. Perjuangan yang tidak sia-sia


__ADS_3

Kamu terdiam, dengan saling memandang satu sama lain. Terutama mamah Dinda, yang menatap tajam suaminya.


"Abang maunya gimana?" tanya ibu Bilqis lirih.


"Aku tetap sama istri. Dari awal juga, opsi ini yang aku ambil. Cuma, aku takut sama ancaman kau. Kalau benar-benar aku dipenjara, pasti keadaan rumah kacau balau. Pasti anak-anak tak ada yang ngarahin untuk begini atau begitukan ladang dan usaha lain."


Menurutku, papah Adi hanya panik saja. Beliau pernah dipenjara dan beliau tidak menginginkan kembali rasanya penjara.


"Dengan kita tak lanjut, hujatan tentang kau pun pasti hilang." tambah papah Adi.


Ibu Bilqis memandang mamah Dinda dengan ragu, "Dua minggu aku ke sini lagi."


Apa ini tandanya ia mau untuk hymenoplasty itu?


"Buat apa?" tanya papah Adi.


"Buat operasi itu." ia menjawab lirih dengan menunduk pasrah.


"Biar aku ke tempat kau. Taruh aja kartu nama kau di sini." mamah Dinda melihat ke arah meja tamu ini.


Ibu Bilqis mengangguk. Ia meletakkan sebuah kartu kecil dari dalam tasnya, kemudian ia memeluk tasnya kembali.


"Saya permisi. Maaf, udah bikin kacau keadaan. Tapi kalau Saya tak dirugikan pun, Saya tak akan nuntut sampai sedemikian rupa." ungkapnya lirih, dengan memandang mamah Dinda dan papah Adi.


"Ya, Saya pun minta maaf atas perlakuan tidak mengenakan Saya pada kau dan juga karena tingkah suami Saya."


Apa berbarengan dengan ucapannya, mamah Dinda memutuskan untuk kembali bersama suaminya?


Atau ini masih clue yang harus dipecahkan lagi?


"Iya, saling memaafkan aja." ibu Bilqis bangkit dan tersenyum samar, "Saya permisi."


"Ya, silahkan." mamah Dinda melirik dan mengangguk.


Kini, tinggal pandangan sengit yang mamah Dinda arahkan pada suaminya. Aku takut Ra kena sawan neneknya. Pintarnya sih oke, tapi sifat yang jeleknya ini.


"Di mana surat cerainya, Dek?" tanya papah Adi sumringah.


"Di nakas."


Seiring jawaban itu, papah Adi langsung bergegas pergi. Kenapa papah Adi terlihat senang ya? Apa aku melupakan beberapa ucapan di episode sebelumnya?


"Ngeng........" Ra sudah bersuara kembali.


"Jangan ngang-ngeng-ngang-ngeng aja, kau mau nanti lagu Thailand kah?" mamah Dinda membelai wajah Ra.


Tubuh Ra tidak surut, ia malah bertambah gemuk. Sekarang, ia sudah sembilan kilo. Bayi satu bulan berbobot sembilan kilo. Padahal ia cuma ASI aja, sufornya dihentikan ketika ASIku mulai lancar.


Tangisnya menggema kembali. Dasar anak ini, sepertinya ia menyukai suasana tegang. Saat tegang tadi, ia malah anteng tidak bersuara di dekapan neneknya. Sekarang senyap, malah menangis.

__ADS_1


"Tidur gih, Canda. Kelonin anak kau." mas Givan bangkit, dan berjalan ke arah mamah Dinda.


Mamah Dinda masih belum diperbolehkan untuk berjalan.


"Nanti sih, Mas. Masih pagi ini." aku sakit pinggang, karena sering diminta rebahan dengan menemani anaknya itu.


"Suami kau capek ini, Canda. Dari jam dua, anak kau mewek terus." mas Givan menimang anaknya yang disandarkan di bahunya itu.


Siang malam, memang Ra selalu bersama mas Givan. Meski baru satu bulan, ia bahkan pernah dibawa ke toko material dan mengantar sopir ke tempat bongkar kayu. Ra besar di jalan, karena ia sering dibawa mas Givan keluar untuk mengecek pekerjaan.


Karena mau bagaimana pun, suamiku tetaplah tulang punggung keluarga.


"Cantik anak kau itu, Van. Key kalah deh keknya, tapi ampun rewelnya. Bentar-bentar nangis, mesti aja diayun begitu. Apa dia tak tau kah, kalau bobotnya itu berlebih?"


Ucapan mamah Dinda, mengundang tawa untukku dan mas Givan.


"Besar nanti sih, pasti langsing lah Mah." ucap mas Givan, yang masih mengayunkan anaknya yang bersandar di bahunya itu.


"Ini kah, Dek? Kok beneran udah ditanda tangani?" wajah papah Adi terlihat panik.


"Memang udah." jawab mamah Dinda.


Aduh, mamah Dinda benar-benar menginginkan perceraian untuknya.


"Boleh Abang sobek? Tadi Adek kasih pilihan untuk sobek atau tanda tangan." papah Adi berdiri di sisi kaki mamah Dinda yang sakit.


"Boleh, terserah mau diapakan."


Kertas yang berhiaskan materai itu disobek menjadi dua.


"Jadi maaf Abang yang untuk malam itu, diterima kah Dek?" papah Adi menyentuh bahu istrinya.


"Hmm." mamah Dinda hanya menjawab dengan gumaman.


"Alhamdulillah...." papah Adi langsung merunduk dan memeluk istrinya.


"Makasih ya, Dek?" papah Adi membingkai wajah mamah Dinda, lalu menciumi istrinya.


"Kita nikah lagi ya?" ujar papah Adi, dengan suara bergetar tetapi begitu riang.


Aku ikut terharunya saja.


Jadi, untuk menyatukan mereka adalah dengan membuat mamah Dinda celaka. Harusnya aku meminta mas Givan menabrak ibunya saja dari awal, agar aku tidak lelah ke sana ke mari, hanya untuk membujuk kedua belah pihak yang keras kepala ini.


Dasar, namanya juga novel. Dibuat memanjang, tinggi plus lebar. Dramatis, mengoyak perasaan. Jika aku adalah tokoh nyata, mungkin aku akan menangis jika membaca ceritaku sendiri.


"Biar apa?"


Aku kira mamah Dinda langsung setuju, kemudian tamat. Tapi, tanda tamat itu belum tercetak tebal rupanya.

__ADS_1


Jadi, masih ada waktu beberapa episode lagi menikmati alurnya ini.


"Ya, biar tak canggung. Kita udah terlalu lama sendiri-sendiri. Udah kurang lebih enam bulan. Adek pun, udah tanpa nafkah dari Abang." papah Adi duduk di sebelah istrinya.


Mereka adalah mertua dan orang tua yang tidak malu dengan anak dan menantu. Jika sudah mesra, pengantin baru pun kalah.


"Siri aja."


Alhamdulillah.


Ternyata, mamah Dinda sepemikiran dengan papah Adi. Menurutku memang mereka belum keluar talak. Tapi, mungkin untuk mempererat hubungan mereka saja. Ya hanya untuk variasi saja mungkin kan? Namanya juga novel. Tapi bibi author pernah ada di scene ini. Jadi, ini realnya memang ada. Coba tanyakan ke author kami saja.


"Kapan, Dek?" papah Adi menggenggam tangan mamah Dinda sepertiku kemarin menggenggam selalu tangan mas Givan.


Sekarang, tangan suamiku malah repot dengan Ra saja. Aku mengalah, terpaksa tidak merasakan tenangnya memegang suamiku.


"Setelah punya modalnya aja."


Wajah papah Adi langsung kaku. Aku tahu apa yang di pikirannya, yaitu tentang uang.


"Eummm, Canda. Aku ke anak-anak dulu ya? Takut dipinjami uang." mas Givan ngeloyor pergi.


Papah Adi kini memandangku. Aduh, mau apa dikata. Bahkan di dalam dompetku hanya menjadi sarang nyamuk saja.


"Aku rebahan dulu, Pah." aku cengengesan, dengan meninggalkan mereka.


Sebelum melangkah menjauh, aku bisa melihat mamah Dinda menahan tawa. Sepertinya beliau senang sekali, melihat suaminya bingung memikirkan biaya pernikahan siri mereka.


~


"Serius, Mas?" aku berbinar melihat uang yang dijatah untukku ini.


"Tapi asal sembuh ya? Kan udah kelar nih nifasnya, udah sembuh juga kan kata dokter tadi pas kita cek up?"


Aku merasa bau-bau tidak enak.


Aku memberikan kembali uang itu pada mas Givan. Aku tersenyum lebar dan menyamarkan rasa curigaku.


"Aku tak butuh apa-apa, Mas. Dibelikan sabun mandi Giv atau Ha*moni pun tak apa. Yang penting ada odol juga."


Senyum di wajahnya langsung redup, "Udah aku mau ke Kalimantan aja." ia malah langsung membanting tubuhnya di atas ranjang kami.


Mas Givan selalu mengancam.


Sepertinya, ia mengerti arah penolakanku ini.


"Memang Masnya minta barter sama apa sih, kok sampai ngasih uang banyak betul? Sampai berapa ini? Sebelas jutaan ya?" aku menyentuh tumbukan uang yang tergeletak di dekat tubuh mas Givan.


Mas Givan langsung berbalik badan, kemudian menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Barter sama......


...****************...


__ADS_2