Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD351. Bos tambang


__ADS_3

"Awas, Mah! Lendra kolaps."


Aku langsung panik mendengarnya. Rasanya, aku ingin masuk ke layar ponsel saja.


"Astaghfirullah.... Matanya sampai naik-naik, Kin."


"Mah......" tangisku pecah mendengarnya.


"Pasokan oksigen ke otaknya kurang keknya, Mah."


Tut......


Panggilan video terputus dari mamah Dinda.


Aduh, bagaimana ini?


Lututku mendadak lemas, jemariku gemetaran.


Yang Kuasa.


Aku segera meninggalkan ponselku, lalu mengambil wudhu.


Maafkan aku, ya Allah. Aku hanya mengingatmu, saat aku kesusahan saja. Maafkan hamba-Mu ini, ya Allah.


Aku langsung meminta ampunan dan meminta bantuan pada Penciptaku. Tidak ada takdir terbaik, kecuali yang sudah ia gariskan untuk kehidupan kita.


~


"Hei, jangan yang ini. Yang ini khusus bos tambang."


Tiga laki-laki itu tergelak di sofa. Aku penasaran, aku langsung mengintip isi kehebohan mereka dari belakang sofa.


Bonyok sudah jidatku, melihat tiga laki-laki yang tidak ada istri di sisinya itu.


"Jadi, buat bos ladang yang mana Van?" tanya papah Adi.


"Papah sih tante Erni aja udah."


"Tapi yang tadi bagus, Bang. Keknya masih kenceng." Ghifar menarik ke bawah layar ponsel yang dipegang kakaknya itu.


Sound gimmie-gimmie langsung terdengar dengan getaran part belakang wanita yang menjadi tontonan mereka.


"Tapi kek Canda sih, Bang. Besar p*n*at aja gitu." Ghifar berkata begitu santainya.


"Heh!" sarkasku cepat, rasanya aku ingin menjitak kepalanya saja.


Tiga laki-laki itu langsung menoleh ke arahku, di mana aku berdiri di belakang sofa panjang ruang tamu. Ada jalan di sini, untuk akses keluar masuk kamar tamu.


"Ada orangnya." ujar mas Givan dengan tertawa renyah.

__ADS_1


Papah Adi dan Ghifar pun menyambungkan tawa membahananya.


Jika dulu, Ghifar pernah bercerita tentang dirinya akan dipesantrenkan karena ketahuan menonton film dewasa bersama mas Givan. Maka, kali ini papah Adi pun ikut bergabung dalam melihat tontonan pendek untuk usia dewasa tersebut.


Kocak memang.


"Apa lagi pada scroll Tiktok. Mas... Kau dulu tak pernah mainan Tiktok." aku berjalan memutar, lalu memperhatikan wajah mas Givan dari tempat yang jelas dengan seksama.


"Iya lah, sekarang kan cari bahan." jawabnya enteng. Namun, dipenuhi gelak tawa adiknya dan ayah sambungnya lagi.


Tidak beres, kalau tiga laki-laki ini akur dengan fokusnya pada satu ponsel.


"Coba liat lagi, Bang. Aku tak berani download Tiktok, takut digetok Kin." Ghifar menarik kakaknya kembali, lalu menunjuk ponsel kakaknya.


"Udah tuh, nanti lagi. Anak-anak anterin ke sekolah dulu. Kaf biar Papah ajak ke ladang." papah Adi bangkit, lalu merangkulku dan mengajakku berjalan.


"Megang uang tak?" tanyanya begitu lirih.


"Ada, Pah. Dikasih mas Givan tiap hari, kadang lima puluh, kadang seratus." itu pun terkadang aku yang meminta. Namun, tak aku katakan di depan papah Adi.


Mas Givan masih tidak begitu peka masalah uang. Ditambah lagi, jika aku terlalu menuntut, ia akan menarik kenyataan bahwa aku akan rujuk dengan bang Daeng. Bukan akan rujuk dengan dirinya.


"Memang cukup buat masak di sini?"


Kami sampai di dapur.


Hanya percakapan singkat, jika aku berbicara dengan Ghifar yang menggandeng kedua anaknya. Karena Kal dan Kaf adalah anak yang luar biasa keras kepala dan sulit dimengerti keinginannya. Jika kita salah mengartikan, mereka langsung mengamuk.


"Ya udah, nanti Papah kasih uang." papah Adi berjalan ke arah tempat gula dan teh.


Aku langsung menuju lemari pendingin. Aku ingin mencari bahan makanan yang tersisa. Setiap hari pun, terkadang aku masak bahan makanan yang terdapat di lemari pendingin. Karena mamah Dinda memiliki stok makanan yang cukup banyak.


"Kek....."


Aku mendengar suara si kecil Ceysa. Seingatku, Ceysa berada di teras rumah mangge dengan ditemani oleh mangge Yusuf. Setahuku juga, mangge Yusuf tidak berani bertamu lalu langsung masuk ke rumah papah Adi seperti ini.


Derap langkah ramai, dengan kehebohan suara.


"Bang..."


Aku menoleh ke papah Adi. Papah Adi pun menoleh ke arahku. Kita saling melempar pandangan, mendengar suara yang familiar, tetapi lama tidak terdengar itu.


"Ya Allah, Adi Riyana! Masih utuh di sini aja pakaian, ditinggal sekian lama!"


Aku bisa melihat senyum papah Adi langsung merekah sempurna.


"Dek Dinda." ia begitu semangat berlalu dari dapur ini.


Aku pun segera menutup pintu lemari pendingin ini. Aku menaruh beberapa barang yang aku dapat di lemari pendingin, di dekat wastafel cuci piring.

__ADS_1


Segera, aku pun memenuhi rasa ingin tahuku juga.


"Iyungggg...." Ceysa loncat-loncatan di atas karpet ruang keluarga.


Yang menjadi fokusku sekarang, adalah laki-laki yang duduk bersandar dengan diganjal bantal itu. Ia ada di dekat anak bungsunya, dengan memakai setelan formal. Namun, sudah tidak menggunakan sepatu lagi.


"Ini nih, Len." mamah Dinda mengulurkan bantal lagi pada bang Daeng.


"Udah, Mah. Cukup nyaman." bang Daeng menolak bantal itu.


"Oh, Adindaku. Kekasih gelapku." papah Adi ada-ada saja. Ia mengusik fokusku saja.


Ia malah mendekap istrinya, lalu menciumi seluruh wajah istrinya.


"Perasaan itu Camellia, Pah. Bukan Adinda." mas Givan muncul, dengan menggendong ransel anaknya.


Ya, milik si Chandra yang masih gondrong.


Guru TK saja, tidak mempan menasehati mas Givan untuk mencukur anaknya agar terlihat normal dan rapih. Ia masih suka melihat anaknya, bergaya diikat kuda itu.


"Di sini ya, Len. Aku mau nganter si Baper dulu." mas Givan menaruh sesuatu di dekat bang Daeng.


Kemudian, ia berjalan menuju kamarnya. Lalu keluar lagi dan keluar dari pintu samping.


"Papa Ipang..." aku memperhatikan Ceysa yang berlari menuju laki-laki yang berdiri di dekat tangga, dengan merangkul wanita yang sama tingginya itu.


Ghifar berdiri di sana, dengan bercakap-cakap pelan dengan istrinya.


"Yuk, anter kak Kal ke Paud." Ghifar menggandeng tangan Ceysa.


"Istirahat aja dulu, Yang." Ghifar membelai pelipis istrinya.


Aku bisa melihat Kin mengangguk, lalu ia berjalan menaiki tangga.


Key sudah berangkat sekolah lebih dulu. Ia anak yang rajin. Ia sudah berangkat sekolah, setengah jam sebelum masuk.


Jika Chandra dan Kal, ayah mereka mengantar mereka setelah lima menit bel masuk. Kecerdasan seseorang, tidak terpaku pada telat atau tidaknya masuk sekolah. Itu adalah ilmu dari mas Givan. Memang dasar mereka yang malas-malasan mengantar anak mereka bersekolah.


"Dadah, Mage." Ceysa berdadah ria pada seseorang yang duduk bersandar itu.


"Coba minum dulu, Len." aku menoleh pada mamah Dinda yang baru keluar dari area dapur.


"Udah lah, Mah. Gak perlu repot-repot." sepertinya, bang Daeng tidak enak hati pada mamah Dinda.


Aku mendekati bang Daeng, yang duduk dengan ditemani oleh papah Adi itu.


...****************...


Jangan salfok dulu ya, nanti ada keterangan waktunya 🙏

__ADS_1


__ADS_2