
Bang Daeng duduk di sampingku, ia menghirup oksigen lebih banyak. Wajah lelahnya kentara sekali, ia sepertinya mendapat masalah di pekerjaannya.
"Dek... Minta tolong ambilkan es. Abang malu nyelonong ke dapur sendirian."
Kami tengah ada di teras rumah. Dengan aku yang menyuapi Chandra dan Kalista.
"Jagain dulu ya anak-anak itu. Mereka sering dorong-dorongan." bang Daeng langsung mengangguk cepat.
Aku bangkit, untuk mengambilkan apa yang suamiku inginkan.
Di dapur, aku berpapasan dengan Ghifar yang tengah membuat sesuatu.
"Lanjut sama suami?" tanyanya dengan melirikku sekilas, lalu ia fokus pada gelas di hadapannya kembali.
Aku mengambil gelas, yang akan aku tuangkan air dingin.
"Ya gitu deh." aku berjalan ke arah lemari pendingin.
"Jadi... Tak jadi kita nikah?" aku merasa ada tangan nakal yang mengusap punggungku.
Aku menoleh ke arahnya, aku memberikan tatapan nyalang pada Ghifar.
"Udah ya, Far! Jaga itu tangan!" ketusku dengan mengacungkan jariku ke arahnya.
Ghifar tersenyum miring, lalu ia melenggang pergi begitu saja.
Orang yang harus ditakuti adalah orang seperti Ghifar, bukan seperti mas Givan. Karena orang seperti Ghifar, ia begitu berani ketika tidak ada orang. Berbeda dengan mas Givan, ada atau tidak adanya orang, ia tetap akan membentak dan bersikap manis jika moodnya tengah bagus.
Aku segera kembali ke depan, setelah air dingin sudah aku dapatkan. Bang Daeng pasti sudah menungguku dengan air es ini.
"Ini, Bang." aku tersenyum dengan memberikan gelas ini.
"Makasih, Dek." ia langsung menerima, lalu meneguknya.
"Gimana kerjaan hari ini, Bang?" tanyaku kemudian.
Aku segera mengambil mangkuk berisi makanan, lalu aku segera menyuapkan pada Chandra dan Kalista kembali.
"Capek, Dek. Masih keteteran. Masuknya kerja otak, Dek. Abang kira, ini kerja otot." jawabnya kemudian.
"Mana kan, Abang gak pandai komunikasi pakai bahasa sini. Orang sini, ngomong bahasa Indonesianya campur bahasa daerah. Jadi bingung tuh." adunya kembali.
Di rumah ini pun, memang menggunakan bahasa campuran. Saat orang sudah terbiasa menggunakan bahasa daerah, ia akan canggung saat menggunakan bahasa Indonesia.
Papah Adi datang, ia langsung memarkirkan motornya di bawah pohon mangga penuh kenangan tersebut.
"Len... Kau belum ke rumah cek Nawi ya?" beliau berjalan ke arah kami.
"Engkek..." Chandra berlarian ke arah papah Adi.
__ADS_1
Papah Adi menyunggingkan senyum, dengan mengusap kepala Chandra.
"Kek ke peng." Kal menengadahkan tangannya pada papah Adi.
"Heh, dikira Kakek abis ngojek kah? Kakek pulang, masa minta uang. Minta sama nenek tuh. Mana nenek? Gih cari!" papah Adi menggiring cucu-cucunya.
Ia terlihat bahagia, disambut dengan tingkah anak-anak tersebut.
"Iya, Pah. Aku gak paham perintahnya. Jadi, tadi itu aku diminta ikut cek Nawi kah?" tanya bang Daeng kemudian, saat papah Adi mulai mendekat.
"Iya lah. Ya udah, malam aja nanti. Abis maghrib, atau abis isya." sahut papah dengan melepaskan sendalnya.
Papah ngeloyor masuk, dengan diikuti dengan Chandra dan Kalista. Ternyata mereka masih menginginkan uang pemberian dari kakeknya.
Mereka ini, seperti yang iya mengerti fungsi uang itu sendiri.
"Capek ya Allah, Dek. Ngobrol terus kerjaannya, ngasih perintah terus. Tenggorokan kek garing betul." bang Daeng menggosokkan wajahnya.
Aku menyentuh bahunya, "Sabar, Abang belum terbiasa." ujarku kemudian.
Bang Daeng mengangguk, "Papah juga bilang gitu. Abang belum terbiasa, makanya keteter. Tadi pun, dibantu papah terus." tukas bang Daeng dengan mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba, motor matic keluaran pertama di Indonesia itu muncul ke halaman rumah. Zuhdi terlihat buru-buru.
"Bro...." ia segera turun dari motornya, lalu berjalan cepat ke arah kami.
"Biar Ane bantu. Mana tadi laporan pupuk tadi? Sekalian, ladang aku mau pemupukan juga." Zuhdi duduk di sebelah bang Daeng.
"Nanti bingung lah hitungannya, sendiri-sendiri aja." ujar bang Daeng.
"Lahan baru aku, porang juga. Biar sekalian pengiriman, sayang ongkos. Biasanya pun, begitu kok. Meh, sini! Biar aku yang buat laporannya."
Zuhdi langsung pergi, dengan membawa map yang bang Daeng bawa tadi.
"Mumet! Mumet!" bang Daeng bangun, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Aku pun bangkit, untuk mencari keberadaan tuyul-tuyul itu.
~
Akhirnya, hari yang ditunggu bang Daeng datang. Sore ini, adalah jadwal aku USG ulangan. Ngomong-ngomong, kandunganku sudah menginjak bulan keenam saja. Gerakan halus dari si utun pun, sudah aku rasakan.
"Gajiannya cash, ngeri ya?" bang Daeng menunjukkan segepok uang berwarna biru, yang ia keluarkan dari dalam jaketnya.
"Nih, Adek yang olah sendiri. Tapi Abang minta stok rokok dua slop ya?" ia memberikan uang tersebut.
"Rokok apa?" tanyaku kemudian.
"Surya, gak apa. Kalau Adek mau mulai ngirit, buat beli properti di ruko nanti ya beli rokok Neslite aja." ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
"Uang dari Ghavi mana?" tanyaku kemudian.
Namun, bang Daeng malah tertawa lepas.
"Aduhai, ingat ternyata." ujarnya dengan menoleh padaku.
Pastilah ingat. Ghavi memberinya, tepat saat aku ingin menemui suamiku.
"Buat Abang aja ya? Dapat dua juta tiga ratus." ia membuka resleting jaket yang berada di depan dadanya.
Jangan lupakan, ternyata saku itu berada di dalam jaket. Seperti saku rahasia.
"Buat beli apa?" tanyaku kemudian.
"Skincare." jawabnya dengan tertawa geli.
"Skincare! Skincare! Ketimbang facial wash, pomade sama deodorant aja, dibilang skincare." sahutku dengan melemparkan bantal ke arahnya.
"Ehh, waktu Adek beli make up di online itu? Estimasi berapa hari? Gak ada toko make up kah di sini?" bang Daeng memeluk bantal yang aku lempar tadi.
"Estimasi seminggu. Kelamaan di perjalanan, jadi wajah keburu burik dulu." bang Daeng malah tertawa renyah.
"Ada toko kosmetik, buka jam delapan, tutup jam empat sore. Modelnya kek minimarket gitu, milih, terus kita bayar. Tapi, yang dipajang di display itu produk kosong. Misalkan sheet mask juga, plastik kosong, entah kek mana mereka buatnya." jelasku kemudian.
Saat aku belum mengerti. Aku terheran-heran, saat mamah Dinda begitu semangat memilih prodak yang tidak ada isinya. Saat itu, mamah Dinda memilih cream essense dalam jar kaca. Otomatis terlihat, jika isinya kosong.
Lalu mamah Dinda menjelaskannya. Bahwa memang sengaja dipajang yang kosong, untuk display saja. Namun, saat di kasir. Prodak yang kita pilih, akan ditukar dengan prodak baru yang masih tersegel.
Hal itu dilakukan, untuk mencegah pencurian barang. Namanya prodak kecantikan, pastilah susah ditahan untuk kaum hawa. Saat kita bertujuan untuk membeli prodak A, nyatanya kita juta melirik prodak B, pastilah terjadi penguntitan barang, saat orang tersebut memiliki ego besar. Namun, dalam keadaan tidak memiliki uang.
"Kenapa bulan lalu malah online? Adek pernah bilang, katanya lebih suka belanja langsung ketimbang online." bang Daeng bangkit, ia duduk dengan memeluk bantal.
"Karena papah Adi nganternya pakai mobil. Mamah Dinda tak dikasih ijin. Mau tak mau, online lah karena aku butuh." aku masih kesal jika ingat hal itu.
Drama yang berkepanjangan. Ujung-ujungnya, online juga belinya.
"Kenapa memang kalau pakai mobil?" aku merasa malu diperhatikan begitu intens oleh bang Daeng.
"Aku mabuk kendaraan, Bang. Sejak hamil ini, aku selalu muntah kalau perjalanan naik mobil."
Bang Daeng manggut-manggut, "Jadi ke dokter kandungannya naik motor kah?"
Aku mengangguk, "Ya, Bang. Cepatlah mandi! Terus anter aku."
Bang Daeng mengangguk, lalu ia langsung berjalan menuju kamar mandi.
...****************...
Masih asoy dong 😎
__ADS_1