Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD356. Kesehatan membaik


__ADS_3

...Crazy Up buat senin depan aku tarik sore ini ya 🙏...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku ingin menengok keadaan calon suamiku. Entah kenapa, aku selalu khawatir padanya. Apalagi saat mendengar dialog singkat antara Kinasya, Ghifar dan bang Daeng siang tadi. Pasti, keadaan bang Daeng tidak baik-baik saja sekarang.


"Ma... Aku mau liat bang Daeng." aku meminta izin, pada ibu sambung bang Daeng yang tengah menyapu-nyapu ruangan.


"Ya, masuk aja ke kamar itu." beliau tersenyum ramah.


Aku mengangguk, lalu aku masuk ke dalam kamar yang letaknya di tengah ini. Aku bisa mendengar bang Daeng mendengkur halus, dengan mulut yang sedikit terbuka.


Pasti ia kelelahan menahan rasa sakitnya.


Aku duduk di tepian ranjang. Aku duduk di paling ujung, lalu mengulurkan tanganku untuk memijat telapak kakinya.


Sekedar memberikan rasa nyaman, pikirku.


Namun, aku malah dibuat jantungan. Saat merasakan bagian kakinya begitu dingin.


Kakinya bergerak pelan, saat jemariku mulai aktif menekan-nekan pelan urat-urat kakinya.


"Dek...." suaranya begitu serak.


"Ya, Bang. Aku ganggu ya?" aku berpindah posisi, agar dekat dengan wajahnya.


Bibirnya biru memutih. Kasihan sekali pejuang ingin sembuh ini.


Bola matanya mencilak ke atas, lalu ia mengedipkan matanya dan melirik ke arahku. Sungguh, rasanya jantungku tidak baik-baik saja melihat kondisinya.


"Abang kenapa?" tanyaku, dengan mengusap pelipisnya.


Panas.


Kakinya begitu dingin, dengan tubuh bagian atasnya begitu panas.


Aku mencoba menghilangkan rasa penasaranku. Aku menyentuh leher, lengan dan punggung tangannya. Tetap, ini begitu panas.


"Dek...." ia meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Ya, Bang. Gimana? Mau minum kah?"


Air matanya tiba-tiba berlinang membasahi pelipisnya. Bibirnya bergetar, dengan jakunnya bergerak naik-turun.


"Ya, Dek."


Aku dengan sigap membantunya untuk bangun. Lalu, aku membantunya minum air putih, dari air yang sudah tersedia di nakas.


Kemudian, bang Daeng bersandar pada kepala ranjang. Ia memperhatikanku begitu lekat dengan mata sayunya.


Tiba-tiba, matanya kembali mencilak ke atas. Lalu, ia mengedipkan matanya rapat.


"Dek... Kalau nanti digantikan. Tolong dilangsungkan dan jangan sampai rusak acara besok."


Apa maksudnya?

__ADS_1


Air mataku tiba-tiba mengalir deras. Aku tidak ingin ini adalah sebuah pertanda. Aku hanya meyakini, bahwa bang Daeng tengah mengaco karena efek samping obat.


"Abang ngomong apa?" aku mendekapnya pelan, agar aku tak memberikan rasa nyeri di daerah perutnya.


Namun, bang Daeng malah mendekapku begitu erat. Ia sesenggukan lirih, dengan tarikan nafas yang tidak stabil.


"Abang minta maaf. Maaf untuk segalanya. Untuk masa lalu, perlakuan Abang dulu, sikap Abang dulu. Mohon maaf untuk segalanya." suaranya terdengar tidak stabil dan bergetar hebat.


"Aku juga minta maaf, Bang. Maafin semua kesalahan aku dulu, yang mungkin tak berkenan di hati Abang." aku mengusap-usap punggung lebarnya.


Ia melepaskan pelukannya, lalu ia membingkai wajahku.


Ibu jarinya mengusap air mataku, ia pun tersenyum manis padaku.


"Setelah bangun tidur tadi, perut Abang udah gak sakit lagi." ia menyibakkan kaosnya, lalu ia menekan daerah lukanya.


Aku menahan tindakannya, "Jangan lah, Bang."


Ia tersenyum kembali. Kemudian, ia mendaratkan kecupan lama di pucuk kepalaku.


"Kasih pengertian kalau Ceysa dan Jasmine itu bersaudara. Tolong yang ramah ke Jasmine, Dek." ia berkata dengan mempertahankan senyumnya.


Aku mengangguk, "Aku pun mampu nganggap dia anak aku sendiri, Bang. Nanti kita tinggal bersama, dengan anak-anak kita juga.


Namun, bang Daeng malah menggeleng.


"Biar Jasmine tetap sama ma dan mangge. Itu berat buat Adek. Sulit menerima anak dari perempuan lain, Abang paham perasaan Adek." tukasnya lirih, sampai-sampai suaranya samar terdengar.


"Aku tak keberatan, Bang."


"Iya, Abang paham. Tapi biar dia tetap sama mangge dan ma." ia menggeser alas duduknya.


"Ke rumah mamah yuk? Di sana ada acara makan-makan keluarga besar. Keluarga kita semua, kumpul di sana jam empatan."


Aku bahkan tadi membantu mempersiapkannya.


"Ayo, Bang." aku bersiap di sampingnya.


"Sok Adek dulu, Abang tak enak. Belum sah." tuturnya dengan senyum yang dipertahankan bibir pucatnya.


Aku beberapa kali menoleh ke belakang, saat berjalan menuju ke rumah mamah Dinda.


Bang Daeng sampai keringatan, meski tubuhnya terlihat cukup fit dan tidak dalam posisi punggung menunduk karena nyeri perutnya. Namun, aku merasa janggal dengan tarikan matanya yang sering ke atas dan kakinya yang terasa begitu dingin.


Bang Daeng ikut makan, dalam acara makan bersama ini. Ia makan dengan begitu lahapnya, dengan sesekali menyuapi Jasmine, Zio dan Key. Sedangkan anak-anak yang lain, malah mengacak-acak makanan.


Yang menjadi gelak tawa kali ini, adalah Chandra dan Ceysa. Bahkan Dikta dengan polosnya, sampai menyebut Chandra dan Ceysa seperti kelinci. Karena mereka berdua makan wortel mentah, yang menjadi pelengkap lauk nasi kuning ini.


"Ayah juga kelinci." Chandra menyuapkan wortel bekas gigitannya ke mulut ayahnya.


"Iyalah. Kita pemakan segala." mas Givan membuka mulutnya terus menerus, ketika mendapat suapan dari Ceysa dan Chandra.


"Asal jangan istri orang aja yang kita makan." tambah Ferdi, yang sepertinya sudah akrab dengan keluarga ini.


Tawa kami bersahutan penuh riuh.

__ADS_1


Tiba-tiba, aku mendapat colekan dari samping kananku.


Bang Daeng.


"Kenapa, Bang?" tanyaku kemudian.


"Sekian lama, baru pengen BAB. Abang ke WC dulu ya."


Aku mengangguk, "Ya, Bang."


Entah kenapa, aku malah mengikutinya sampai ke depan toilet rumah mamah Dinda, yang terletak di samping pintu belakang ini.


"Jangan ikut masuk dong, Dek. Banyak orang." ia tersenyum malu-malu.


"Ok deh." aku memilih untuk berbelok ke arah dapur.


Entah rasa khawatirku yang berlebihan. Aku sampai menunggu pintu toilet itu terbuka kembali, dengan munculnya bang Daeng dari dalam sana.


Mungkin ia melihat keberadaanku, yang tengah mengamatinya dari dapur ini. Ia melangkah kian mendekat ke arahku, dengan tersenyum manis.


"Rasanya plong." ia tertawa geli.


"Tak sakit lagi kah perutnya?" aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh perutnya, tetapi ragu aku lakukan.


"Ya, Abang ngerasa lebih sehat."


Lagi-lagi, matanya mencilak ke atas seperti hilang fokus. Namun, itu terjadi hanya satu detik.


"Yuk ngumpul lagi." ia merangkulku, sampai akhirat terlepas setelah kami meninggalkan area dapur.


Kami bertukar cerita, dengan selingan canda tawa. Hingga beberapa saat kemudian, kami mulai undur diri dari kerumunan.


Aku langsung mengurus anak-anak, karena Ceysa yang tiba-tiba rewel dan sulit dikendalikan.


"Ayah lagi sakit gigi, Ces. Jangan ngamuk aja, nyut-nyutan rasanya." mas Givan masih mengenakan sarung.


Sepertinya, ia baru selesai menunaikan sholat maghrib.


Kami ada di tenda yang begitu megah, dengan hiasan dan pelaminan yang didominasi warna kuning dan merah. Kami menggunakan pelaminan khas daerah sini.


"Ya Allah.... Ya Rabbi...."


Mangge Yusuf kalang kabut, ia keluar dari rumahnya dengan tangis dan raungan penuh khawatir.


"Van... Tolong panggilkan Kin, bu dokter itu." mangge Yusuf tergopoh-gopoh, menghampiri mas Givan yang tengah menggendong Ceysa itu.


"Ada apa, Mangge?" aku panik, melihat wajah beliau.


"Lendra, Canda." mangge menangis, membuatku ikut hancurnya saja.


Tanpa mendengar penjelasan lain dari beliau. Aku berlari secepat mungkin, untuk melihat keadaan bang Daeng.


Padahal, aku dan bang Daeng baru berpisah saat adzan maghrib tiba. Bang Daeng menyuruhku masuk ke dalam ruko, dengan dirinya masuk ke rumah yang ditinggali oleh orang tuanya.


Lalu, setelah ibadah sholat maghrib aku sudah berada di depan teras ruko karena Ceysa mengamuk dan selalu menunjuk ke luar.

__ADS_1


"Bang....."


...****************...


__ADS_2