
"Tanya papah aja. Kalau Mamah, Mamah tak suka laki-laki kek gitu. Tapi buktinya, ada masanya papah kasar ke Mamah, ada masanya papah tegas ke Mamah, ada masanya papah marahin Mamah. Papah tak selalu lembut, papah tak selalu baik, tapi papah tau yang terbaik buat istrinya. Amarahnya pun, kadang untuk kebaikan Mamah."
Aku berpura-pura fokus pada Kaf. Anak ini butuh teman, ia terlihat masih segar. Kaf sama sekali belum mengantuk sepertinya.
"Ihh, Abang!!!" pikiranku terpecah, karena rengekan Giska dengan memukul pelan suaminya.
Tawa geli Zuhdi bercampur dengan tawa mas Givan.
"Kata ma kan tak boleh makan kalau udah malam. Dapat apa ini?" Zuhdi ternyata menyembunyikan lemper ala-ala Korea berbentuk segi tiga.
Lupa dengan namanya. Yang jelas, itu adalah stok makanan milik Tika yang berada di dapur.
"Kasih aja lah, Di. Suka-suka Giska aja udah. Biar ASI-nya berlimpah." mamah Dinda adalah orang yang tidak suka dengan pantangan.
"Iya tuh!" Giska melirik tajam suaminya, "Nanti besok aku bilang ke kak Tika, aku makan stok makanannya." lanjut Giska kemudian.
"Ya udah deh. Makan banyak-banyak, Hadi harus punya adek lagi." tangan Zuhdi mengusap-usap kepala anaknya yang berada di dekapan Giska.
"Apa tuh?!" Giska sewot dengan menepis tangan Zuhdi.
"Boleh ya, Mah?" Zuhdi meminta persetujuan pada mamah Dinda rupanya.
Mamah Dinda mengedikan bahunya, "Terserah. Kau mampu secara psikis dan materi, ya silahkan hamili Giska lagi. Mamah tak mau ada drama dititipin cucu, karena ibunya jadi TKI ke Taiwan."
__ADS_1
Tawa renyah bersahutan.
"Ya tak lah, Mah. Apa nih?! Mertua kaya ini. Jual-jualin aja yang ada di rumah." Zuhdi adalah menantu idaman mertua, karena ia bisa ikut bergurau ekstrim seperti papah Adi dan mamah Dinda.
"Nyindir?!" mas Givan langsung sewot.
"Tak begitu, Kakak ipar. Aku dituduh setengah mati, hanya gara-gara aku dari keluarga miskin. Nyatanya kan, malah barang-barang Giska yang dicuri."
Sepertinya Nadya benar-benar tidak bersahabat dengan penghuni rumah ini. Aku baru tahu, ternyata Zuhdi pernah dituduh.
"Kau dituduh?" mamah Dinda terlihat kaget.
"Ya, Mah. Dibilangnya aku pencuri, benalu mertua, gara-gara aku nampak nganggur aja di rumah. Aku buktikan, mampu aku bangun rumah sendiri. Aku bawa anaknya mertua, aku sanggupi biaya hidupnya. Aku buktikan siapa aku, bukan dikira orang yang numpang makan sama ipar aja."
"Siapa yang bilang itu?" urat wajah mamah Dinda terlihat menegang.
"Ya si Kaktus itu lah, Mah." Ghifar yang menjawab hal itu.
"Nanti Mamah mau bangun di lantai dua, biar aku yang biayai Mah. Aku minta model ruangannya aja kek mana, biar segalanya aku yang urus. Aku takut dibilang pilih kasih, masa ada yang lapor rumah orang tua aku sendiri, aku bagusin. Terus rumah megah mertua tak terurus kek rumah angker."
Sepertinya Zuhdi sensitif untuk masalah ini.
"Tandanya kau bisa bikin Giska montok berseri-seri aja, itu udah ngebuktiin bagaimana kau."
__ADS_1
Kami semua menoleh ke arah seseorang yang datang dengan menggendong Chandra. Ternyata, papah Adi berhasil membuat Chandra pulas.
"Tidur bareng-bareng aja yuk, di kamar aku. Aku, Mamah, sama Canda." Giska menyentuh lengan ibunya.
"Terserah kau, Dek." papah Adi meletakkan Chandra di pangkuanku.
"Ngantuk, banyak tingkah." ucap beliau kembali, dengan membelai pelipis Chandra.
"Mirip Givan betul, setelah dia tambah besar." papah Adi duduk di samping mas Givan, otomatis aku jadi ada sekat dengan mas Givan.
"Iyalah, anak aku."
Mas Givan mengakui? Kenapa ia tak pernah bersikap baik pada Chandra?
"Anak aku, anak aku. Kau galak, urus tak, ngakuin segala!" sindir Ghifar dengan melirik kakaknya.
Mas Givan menatap tajam Ghifar. Ia seperti akan mengacak-acak wajah Ghifar.
"Heh.....
...****************...
Cekcok gak 🤔
__ADS_1