
"Yuk, kita dukung mamah aja."
Aku tergelak renyah, mendengar jawaban Ghava. Padahal ia kemarin menjadi garda terdepan dari ayahnya.
Tin....
Mobil jazz milik tamu itu, menyapa Ghava.
"Ishhhh, sok akrab!" celetuk Ghava, dengan melirik mobil yang melewati halaman rumahnya itu.
"Iya ya, Va? Padahal kita musuhnya sekarang." timpalku, dengan masih memperhatikan mobil yang semakin menjauh itu.
"Kenapa tak ngabarin Papah dulu, Dek?"
Aku dan Ghava menoleh serentak, pada seseorang yang langsung duduk di tangga teras rumah Ghava ini. Rumah di sini cukup tinggi, membuat sepanjang terasnya dibuat berundag kurang lebih tiga anak tangga.
"Aku aja kaget. Mas Givan bilangnya tanggal lima belas ke sini, tak taunya pas aku ke sana udah ada dia." aku menghela nafasku.
"Jadi dimarahin sama bang Givan, Kakak Ipar?" tanya Ghava.
Aku menoleh ke arahnya, "Ya iyalah. Lagian juga, mas Givan tukang marah-marah juga." jawabku cepat.
"Kata siapa ngomongin suami tuh, Canda???" suara itu begitu tegas.
Aku mencari sumber suara. Ternyata, itu adalah mas Givan yang melongok dari jendela.
"Kata Ghava, Mas. Tuh, dia ngajarin."
Ghava langsung bangkit dari duduknya, "Ayo Dib, kita kabur aja. Kita ke studio aja, dari pada ngobrol sama Biyung. Dikambinghitamkan, Dib." Ghava menyindirku, dengan menggendong anaknya.
Aku tertawa geli, "Ya kau sih! Kan aku jadi dimarahin."
"Abi.... Ikut....." Ceysa berseru dengan merengek lepas.
"Sini, sini...." Ghava melambaikan tangannya pada Ceysa.
Ceysa sering ikut dengan Ghava. Apalagi, jika Ghava tengah membersihkan halaman Riyana Studio dari dedaunan kering.
"Papah harus gimana ini? Mamah pasti salah paham."
Jangankan mamah Dinda, aku pun salah paham.
Aku menarik senyumku, meski aslinya aku sudah muak sendiri. Tapi bagaimana lagi, beliau panutanku.
"Ini kan belum ada rencana buat ke pengadilan. Masih bisa dihandle Mavendra sama Advokat, jadi mamah sama mas Givan masih di rumah aja sampai tanggal lima belas." sekarang tanggal tiga belas.
"Papah punya waktu dua hari, untuk datang ke rumah buat ngobrol sama mamah." lanjutku kemudian.
"Canda, masuk!!!" seruan itu dari jendela.
Mas Givan benar-benar tidak sopan. Apa ia tidak tahu, dengan adab menghormati orang tua?
"Ya udah kau masuk. Givan nampak betul tak suka sama Papah." papah Adi tersinggung.
__ADS_1
"Ya, Papah ati-ati jalannya."
Papah Adi mengangguk, kemudian beliau berjalan pergi menuju ke rumah Ghifar kembali.
Aku melangkah masuk ke rumah Giska. Sepertinya, mas Givan sengaja menyuruhku masuk agar papah Adi pergi. Aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya.
Biar saja, aku akan cemberut saja sampai malam ini. Aku kesal, mas Givan membuatku tidak enak hati pada papah Adi.
Padahal, papah Adi itu orang tuanya. Mungkin begini, jika anak bawaan, bukan anak kandung.
Selepas isya, papah Adi berkunjung dengan Ghifar ke rumahku. Aku bisa merasakan ketegangan, yang tercipta di wajah papah Adi.
Sebegitu tegangnya beliau menghadapi istrinya sendiri. Pasti, beliau begitu susah mengumpulkan tekadnya.
Pas sekali, mamah Dinda tengah berada di ruang tamu dengan memandangi layar laptopnya. Kacamata anti radiasi pun, nangkring di atas hidungnya.
Beliau melirikku, saat aku membuka pintu rumah lebih lebar dan tamu masuk ke rumah kami.
Tanpa ekspresi.
Mamah Dinda fokus kembali ke layar laptopnya, tanpa ada semburat kaget atau bagaimana. Apa mamah Dinda sudah biasa saja pada papah Adi? Apa beliau tidak rindu, atau marah pada suaminya. Karena, ekspresi wajahnya datar saja.
"Duduk Pah, Far." aku menyusun rapi, bantal sofa yang tadi aku gunakan untuk mengganjal pinggangku.
"Mana suami kau, Kakak Ipar?" Ghifar duduk di sofa doble, di dekat sofa panjang yang mamah duduki.
"Main PlayStation sama Mavendra." aku takut salah menyebutkan nama itu.
Bentuknya tetap seperti leter L. Dengan mereka yang berada di sudutnya.
Aku mengambilkan air mineral kemasan gelas, yang berada di bawah meja. Kemudian aku duduk di sofa single, yang berhadapan dengan sofa doble tersebut. Namun, di tengah-tengah kami ada meja.
"Hmm?" suara beliau santai dan biasa saja.
Tidak terdengar ketus, atau meninggi. Biasa saja, seperti mamah Dinda menyahuti panggilan.
"Minta waktunya." aku bisa melihat kecanggungan pada diri papah Adi.
"Tinggal ngomong aja, aku dikejar deadline." mamah Dinda pun biasa saja. Beliau mau menjawab ucapan suaminya.
Blaghhhh....
Aku langsung menoleh ke pintu utama.
Key cengengesan, ia memamerkan semua gigi depannya. Mengganggu saja anak ini. Apa ia tidak tahu kah? Bahwa suasana di sini tengah serius dan tegang.
"Biyung minta air. Tadi sore lupa bilang galon habis. Mamah kehausan." Key masih berdiri di ambang pintu.
Fira sudah berada di rumah Key. Ia tidak mau, saat aku ajak untuk beristirahat di sini.
Aku mengangguk, "Nih ambil." aku menarik kardus yang berada di bawah meja ini.
Key mengangguk, kemudian ia mengambil beberapa gelas air mineral ini dengan menggunakan roknya yang digunakan sebagai wadah.
__ADS_1
"Kalau ayah belum tidur, nanti suruh beli air dulu ya?" Key menarik ujung roknya, agar barang bawaannya tidak terjatuh.
"Iya. Bawa yang banyak, buat mamah Fira sama kak Ifa juga." sahutku kemudian.
Key beralih memandang mamah Dinda. Ia berdadah ria, kemudian mengirimkan ciuman jarak jauh.
Mamah Dinda tertawa kecil. Beliau pun, mengirimkan kembali ciuman jarak jauh tersebut.
"Makasih ya, Biyung?" Key beralih memandangku.
"Sama-sama. Ati-ati turun dari terasnya." aku membukakan pintu, karena Key kesulitan.
Kemudian, aku menutup pintu kembali. Setelah Key sudah berada di teras rumahnya.
"Dek.... Kita perlu ngobrol. Adek ada waktunya kapan?" ungkap papah Adi, saat aku baru saja duduk di tempatku kembali.
"Aku dituntut pekerjaan. Aku tak ada waktu." mamah Dinda menoleh pada suaminya sekilas.
Kemudian, beliau mengetikkan kembali pada keyboard laptop tersebut. Jemarinya bekerja cepat.
"Memang uang Adek habis? Adek punya semuanya."
Benar kata papah. Tanpa mamah bekerja pun, ia pasti akan tetap bisa makan.
Mamah Dinda menghela nafasnya. Kemudian, beliau memundurkan posisi duduknya dengan bersandar pada sofa. Satu bantal sofa, beliau tempatkan di atas pangkuannya. Mamah Dinda membiarkan laptopnya tetap menyala.
"Terus aku harus ngapain? Semedi? Biar ilmu aku lebih hebat? Atau, sibuk ngerecokin hubungan orang?" mamah Dinda menggeleng samar dengan tertawa sumbang.
Jujur, ini lebih menegangkan dari pada tontonan tentang hantu.
"Bukan begitu, Dek. Maksudnya kan, Adek tak perlu capek-capek. Adek tinggal nikmatin hasilnya aja."
Aku dan Ghifar saling memandang. Mencoba menjalin komunikasi, tentang keberadaan kami.
Apa sebaiknya kami pergi? Agar mamah Dinda dan papah Adi bisa berbicara dari hati ke hati?
"Iya, paham." mamah Dinda condong ke meja kembali.
Ghifar mengangguk, aku pun mengangguk. Aku mengerti, aku dan Ghifar baiknya pindah ke ruangan lain.
"Aku ke mas Givan dulu ya, Mah? Barangkali udah pada selesai makan mie-nya. Mau beresin mangkuk kotornya dulu." aku beralasan.
Karena itu tidak mungkin. Mas Givan langsung mencuci piring kotornya, setelah ia makan biasanya.
Mamah Dinda mengangguk. Matanya masih fokus pada layar laptop saja.
"Aku ke bang Givan dulu, Pah." Ghifar pun izin pada ayahnya.
Papah Adi memandang kami bergantian. Semoga beliau mengerti, bahwa kami memberikan tempat dan waktu untuk mereka.
Papah Adi mengangguk kemudian. Dengan aku dan Ghifar yang langsung berjalan menuju ke ruangan lain.
Namun,
__ADS_1
...****************...