Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD424. Kisah tentang mantan


__ADS_3

"Jawab dong, Mas." aku mengusap dagunya.


"SMA tingkat terakhir masa itu, sama kak Anasya." mas Givan menutup wajahnya.


Hah?


Anasya?


"Itu, keponakannya mamah Dinda? Yang di kampung itu, yang di Cirebon?" aku langsung kaget.


Mas Givan mengangguk samar, "Iya, pas pulang mudik lebaran."


Kok bisa sih dengan sepupu mereka seperti itu?


"Gimana ceritanya, Mas?" sudah tahu, malah semakin penasaran.


"Awalnya biasa aja, aku kalau ke saudara sendiri susah minat. Rumah tak ada orang, dia baru pulang dari warnet. Kegerahan gitu, dia pakai pakaian yang cukup mengundang. Entah kenapa, liat part belakangnya kok kek buah pir. Aku bujuk kan? Aku janji nih cuma pakai ini aja." mas Givan menunjuk salah satu jarinya, "Karena penasaran dan juga belum ada pengalaman. Pas ini nyelinap, kok ada darah. Dia juga bilang pedih. Jadi ya udah sekalian aja, udah kena ini juga, lanjut aja pencoblosan menggunakan alat yang sesungguhnya. Sempat ada rencana buat nikah juga, tapi tak direstui. Aku udah bilang ke mamah papah, udah bilang juga ke pakdhe Arif di sana. Orang tua tak mau jadi besan antara kakak dan adik. Tapi kak Aca juga tak terpuruk atau bagaimana. Dia hidup layaknya perempuan modern lainnya. Untungnya juga, sekarang dia udah nikah." ungkapnya kemudian.


"Mas cinta sama dia?" aku pun tidak tahu pasti kisah asmaranya.


"Tak juga. Tapi kasian, Canda. Dia sepupu aku sendiri, aku harus tanggung jawab ke dia. Meski dia tak nuntut pun, tapi aku ngerasa udah mengambil yang bukan hak aku." bertanggung jawab juga suamiku.


"Mengambil mahkota siapa aja, Mas?" barangkali, saudara dekat ada yang dirusaknya.


"Kak Aca, kau, terus siapa ya?" mas Givan seperti tengah mengingat sesuatu.


"Nadya dulu, dia per*wan kan sama aku juga. Faizah juga, anak RT sebelah. Depan rumahnya Giska itu nah, yang kanan kiri jalan, rumah Giska kan jalan buntu. Rumah Faizah sebelah kanan, rumah ibunya Faizah sebelah kiri." mas Givan menjejer telapak tangannya.


Ya ampun, orang kampung sini pun ada ternyata.


"Yang suaminya kerja sama Mas bukan sih? Itu tuh, yang pernah ke rumah ambil pupuk." kalau tidak salah, laki-laki yang dikatakan suaminya Faizah itu yang mengolah ladang untuk maharku kemarin.


Mas Givan menjentikkan jarinya, "Yap, betul. Suaminya pun satu SD, SMP, SMA dulu. Aku, Zuhdi, dia, terus tetangga belakang ruko kau itu. Yang perempuan tinggi besar itu, siapa namanya?" mas Givan sampai menyipitkan matanya untuk mengingat sesuatu.


"Kak Eva kah?"


"Ya, betul. Dari SD bareng, satu kelas terus sampai SMA. Kek disengaja, padahal sih tak disengaja."


"Sama kak Eva gitu juga?" aku memiliki kecurigaan, jangan-jangan teman perempuannya sudah diambil keperawanannya semua lagi.

__ADS_1


"Tak lah." mas Givan mengerutkan keningnya, "Teman satu kelas aja." lanjutnya kemudian.


"Sama Faizah itu sama-sama mau kah?" aku khawatir Faizah muncul di season 2.


Mas Givan seperti ragu-ragu untuk menjawabnya, "Pacaran sih sebetulnya. Cinta monyet mungkin ya? Pas baru jatuh cinta aja gitu, apa namanya?"


Cinta pertama bukan?


Gawat nih kalau cinta pertama, pasti mas Givan tidak gampang lupa.


"Memang pacarannya pas kapan?" aku tidak tahu berapa jumlah mantannya.


"Pas SMA, tapi berani begitu setelah kelulusan. Kan perpisahan tuh sekolah, nah ya kita cari kelas kosong."


Heh?


Jadi benar-benar ada ya yang m*s*m di sekolahan?


"Tapi posisi aku udah tak pe*jaka, kejadian itu setelah sama kak Aca. Ya mungkin sejak itu, jadi terobsesi pencoblosan aja. Tak pernah puas, kalau pas masuk tiba-tiba tak ada penghalang. Sampai pernah aku pakaikan dia s*la*ut da*a tiruan, jadi kek mika tipis gitu, tapi larut kena cairan tuh. Itu dipasang di dalam, terus pas masuk kan mika lunak itu pecah. Keluar sedikit pewarna merah, mirip darah. Beberapa kali coba itu sama Faizah, karena kan kantong anak sekolah, harganya tak seberapa. Kek mainan anak-anak harganya, perhelai cuma tiga ribuan. Tapi tetap tak pernah senang hati ini. Rasanya monoton, udah tau gitu. Terus putus, karena aku kuliah di Lhokseumawe. LDR, aku tak bisa kalau LDR."


Semenyenangkan itu kah menerobos mahkota perempuan?


"Terus sembuhnya gimana, Mas?" aku merasa mas Givan seperti kecanduan.


"Sembuhnya karena kau ini. Tiap kau keluar, itu hal yang paling menyenangkan dan aku buru." mas Givan tersenyum lebar dengan geleng-geleng kepala.


Aku tidak mengerti, kenapa suamiku begitu cabul.


"Enak, Mas?" tanyaku memastikan.


Mas Givan mengangguk, "Nanti kalau selesai nifas, beli se*a*ut d*ra tiruan kah?" mas Givan mengusap-usap punggung tanganku.


Beginilah ketika ada maunya.


"Kenapa tak operasi pe*awan?" aku ingin merasakan pengambilan mahkotaku begitu halus dan romantis dengannya.


Contohnya, seperti dengan bang Daeng.


"Kau tau aku tak mau kau kesakitan. Se*ap*t d*ra tiruan yang perhelai gitu kan, tak efek apa-apa buat kau. Kek makan permen aja, bedanya di mulut bawah. Nanti larut sendiri setelah pecah."

__ADS_1


Eh iya, aku lupa bahwa memiliki suami yang cintanya ditutupi dengan urat galak.


"Enak siapa, dari sekian banyak perempuan?" aku ingin tahu jawabannya, mana tahu itu adalah aku.


"Jangan cari penyakit." mas Givan berekspresi datar, dengan meraup wajahku.


"Aku mau tau aja." dengan jawaban itu, aku paham bahwa bukan aku orangnya. Tapi, aku tetap penasaran.


"Ai."


Awas ya kau, Ai! Aku tandai kau di season 2.


"Kenapa memang dia, Mas?" aku sengaja bertanya, agar mendapatkan clue lebih untuk di season 2.


"Suaranya khas. Per*wan juga dia sama aku. Aku tuh bebas berfantasi pas sama dia. Badannya kan tinggi besar, aku merasa dia bakal kuat dapat perlakuan aku." matanya melihat langit-langit kamar.


Mas Givan suka se*s yang tidak normal?


Lalu ia beralih menatapku, "Tapi sama kau kasian terus, Canda. Sedikit keterlaluan, mewek. Megangnya terlalu kuat, udah badmood aja. Dijambak, bilangnya tak sopan. Cuma sama kau, aku berlaku halus dan penuh pertimbangan."


Aku merasa, mas Givan seperti memenjarakan fantasinya. Pasti itu tidak mengenakan.


"Kasarnya gimana sih, Mas? Soalnya, dulu sama bang Daeng suka....." Aku tidak melanjutkan kalimatku.


mungkin jika seperti cara bang Daeng dulu, aku akan menyerahkan diri dan tidak banyak komplain. Hitung-hitung, nanti untuk memanjakannya setelah libur lama karena nifas.


Matanya menyipit, "Lendra gimana?"


Aku mengingat potongan scene bersama bang Daeng. Aku menceritakan dengan detail, bagaimana cara yang aku lalui bersama bang Daeng. Aku menceritakan semua yang ia lakukan padaku, juga cara bang Daeng memperlakukan diriku pada mas Givan.


Mas Givan memperhatikan wajahku. Sesekali ia mengangguk, dengan sorot mata yang serius.


Meski ia tidak bertanya, tapi aku memperhatikan kegiatannya. Aku terus merekam responnya, setiap kali aku melontarkan ucapan yang mungkin membuatnya iri.


Mas Givan bahkan menari-narikan ujung telunjuknya, saat ia mencontohkan kegiatan yang aku maksudkan.


Aku jadi geli sendiri membayangkannya.


Tiba-tiba mas Givan mewek-mewek.

__ADS_1


...****************...


Givan jadi doyan drama queen juga 😆


__ADS_2