Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD378. Sarapan pagi


__ADS_3

"Van.... Aku datang. Kamu udah di rumah kan? Kamu udah selesai liburan kan?"


Nekat sekali.


"Duh, pagi-pagi tuh." mamah Dinda berjalan ke arah pintu ruang tamu.


Aku langsung mengikuti langkah kaki mamah Dinda, disusul dengan papah Adi di belakangku.


Ceklek....


Hufttt.....


"Maaf mengganggu." ucapnya dengan tersenyum ramah.


Kami bertiga muncul di ambang pintu.


"Memang Anda mengganggu." sahut mamah Dinda.


"Aku pengen ketemu Givan." begitu berani Putri, padahal ada aku di sini yang berstatus sebagai istri mas Givan.


"Tak bisa." aku yang menjawab.


"Kau gak akan paham, Canda. Ada masalah antara aku dan Givan yang belum selesai."


Aku terlempar di masa-masa saat Nadya hadir bertamu. Di mana, saat itu Kinasya dan Ghifar berada untuk membelaku.


"Bertamu lah di lain waktu. Suami aku lagi istirahat."


Aku sengaja mengatakan hal itu, agar Putri tahu bahwa aku dan mas Givan sudah menikah kembali. Agar ia paham, bahwa mas Givan sekarang sudah ada yang memiliki.


"Baik." Putri tertunduk, dengan memundurkan langkahnya beberapa kali.


"Kakek...." Chandra menyerukan suaranya.


"Tutup aja pintunya, Canda." perintah dari papah Adi.


Papah Adi kembali lebih dulu, "Ya, Bang." papah Adi menyahuti cucunya.


Aku dan mamah Dinda masih menyaksikan Putri yang melangkah keluar dari halaman rumah. Ternyata, kendaraannya terparkir di depan gerbang sana.


Kleb....


Pintu tertutup kembali, dengan aku yang kembali ke arah dapur. Dengan mamah Dinda yang masuk ke kamarnya, mungkin beliau ingin membenahi penampilannya dulu.


Seperti biasa, aku memasakkan dedaunan untuk mas Givan. Kali ini, aku memangkas pohon kunyit berdaun muda. Aku mengambilnya dari halaman samping rumah, dengan izin papah Adi juga.


Setelah siap menumis daun kunyit. Aku memilih untuk memasak udang yang berukuran sedang, dengan ditambahkan dengan saus tiram.


Sudah selesai, menu sarapan untuk pagi ini.


Aku meninggalkan dapur, dengan perkakas tangan sudah bersih. Kemudian memilih untuk mengurus Chandra terlebih dahulu. Ia harus mandi, sarapan dan bersiap ke sekolah.


Bagaimana masalah Putri?


Entahlah, mungkin aku akan meminta pertolongan mamah Dinda saja. Aku yakin, aku tidak bisa memecahkan masalah ini. Mas Givan pun, sepertinya demikian. Karena terakhir saat Putri ke sini, malah papah Adi yang berhasil meminta Putri untuk pergi.


"Iyungggg....." tangis Ceysa terdengar di dalam kamar.

__ADS_1


"Bentar ya, Bang?" aku meninggalkan Chandra dan sarapannya di depan televisi.


Chandra pemakan tumbuhan juga seperti ayahnya. Ia doyan tumis daun kunyit itu, dengan syarat tidak pedas.


Makannya lahap, tanpa komplen seperti mas Givan.


Saat aku membuka pintu kamar, Ceysa sudah terduduk di tengah-tengah ranjang. Dengan mas Givan yang menepuk-nepuk kaki Ceysa, meski matanya terpejam rapat.


Sebentar-sebentar.


Aku langsung mengangkat tubuh Ceysa. Aku cekikikan sendiri, melihat tangan mas Givan masih menepuk-nepuk tersebut.


"Yayah i apa?" Ceysa mengigit ujung jarinya, dengan memperhatikan ayah sambungnya itu.


"Bobo, Ces. Masih malem." suara lemah mas Givan terdengar sedikit serak.


"Mamam, Yayah."


Aku menciumi Ceysa, "Memang Adek Ceysa yang laper." aku membawanya keluar dari kamar.


Aku tak berniat mengganggu mas Givan. Biar saja, ia bangun dengan sendirinya.


"Mandiin Ceysa aja dulu, Dek." itu adalah perintah papah Adi.


Ia menyuapi cucunya, dengan memainkan ponselnya.


Aku mengangguk, kemudian berbalik ke kamar. Mas Givan masih tengkurap dengan mata terpejam, ia masih di alam mimpinya.


Aku memandikan Ceysa dengan air hangat, yang diatur dengan water heater. Kemudian mendandaninya dengan minyak telon dan bedak bayi.


Tubuh mas Givan menggeliat, ia menguap lebar dan mengucek matanya.


Aku mendandani Ceysa di atas tempat tidur.


Matanya terbuka perlahan. Namun, sesekali ia memejamkan matanya.


"Yayah, anun. Andi, yar atik kaya Dek." Ceysa lebih suka menyebut dirinya dek.


"Adek udah mandi kah?" tangan mas Givan terulur untuk menyentuh kaki Ceysa.


Ceysa menganggukkan kepalanya. Ia anteng kembali memainkan botol hair lotion miliknya.


Mas Givan masih berbaring miring dengan memperhatikan aku yang masih mengurus Ceysa.


"Keknya, ambil orang yang mau kerja sama kita tiga aja. Rumah anak-anak mau jadi, nanti anak-anak suruh nempatin rumah mereka sendiri. Kalau makan atau main, suruh mereka ngumpul di sini biar mamah sama papah tak kesepian. Zio, Key sama Chandra. Kau ikut aku kerja, Ceysa bisa dibawa. Kalau udah dapet orangnya, aku nanti bawa kau ke Kalimantan. Temenin aku di sana, buat cek aja."


Ternyata ia terdiam, dengan otak yang sudah berjalan ke mana-mana.


"Memang kapan mau Kalimantan?" aku tengah menyisir rambut Ceysa.


"Secepatnya, kalau udah ada yang handle anak-anak. Aku tak mau, kalau Chandra diurus neneknya terus. Aku tak enak hati sama mamah. Sedangkan kau mau aku bawa ke Kalimantan, tapi Chandra harus sekolah. Kasian kalau sekolahnya tersendat-sendat, karena orang tuanya tak menetap di satu tempat. Kau ngerti tak, Canda?"


Aku mengangguk, "Ya, Mas. Aku paham." aku cukup mengerti tujuannya.


Lagi pula, aku paham kenapa ia membawaku bekerja. Salah satunya, mungkin agar tidak ada Nadya lain.


"Udah bikin sarapan?"

__ADS_1


Aku mengangguk, dengan membereskan peralatan milik Ceysa.


"Ya udah aku mandi dulu. Siapin aja sarapannya." ia bangkit, melenggang ke arah kamar mandi.


"Ya, Mas." aku pun berniat sekalian sarapan dan menyuapi Ceysa.


Chandra masih punya waktu untuk bermain, sebelum jam sekolahnya. Sekarang masih pukul setengah tujuh pagi.


"Sarapan belum, Pah?" aku hanya berbasa-basi.


"Udahlah." papah Adi masih anteng bermain ponsel.


Aku lanjut menyiapkan makanan di ruang keluarga ini. Aku mengambil juga wadah berbahan plastik untuk Ceysa.


"Mau, Iyung." Ceysa menunjuk tumis daun kunyit.


Seingatku, Ceysa tidak pernah menyicipi menu ini sama sekali. Apa lagi, rasanya sedikit mirip dengan kunyit. Apa Ceysa doyan?


"Cobain dulu ya?" aku menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, kemudian memasukkan sepucuk sendok tumis daun kunyit ke mulutnya juga.


Kunyahannya terdiam sejenak, kemudian ia mulai mengunyah tanpa melepehkan makanannya.


Good job.


"Apa tu?" Ceysa menunjukkan tumis yang tadi ia makan.


"Sayur kunyit." jawab papah Adi.


Putri bang Daeng ini hanya manggut-manggut saja, ia mulai mengunyah sarapan yang aku suapkan lagi ke mulutnya.


Mas Givan pun keluar dari kamar, dengan celana kolor berkaret model rib tersebut. Kaosnya masih tersampir di bahunya.


"Kok tak ada capnya sih, Van?"


Sungguh aku sebagai istri mas Givan merasa malu.


Mas Givan tersenyum samar, ia duduk di depan piring yang sudah aku sediakan.


"Belum ahli, Pah."


Papah Adi tertawa lepas, mendengar sahutan anaknya itu.


"Yah.... Sekolahnya sama Ayah, tak mau sama Kakek." ungkap Chandra tiba-tiba.


"Nah, gitu dong." timpal papah Adi.


Mas Givan pasti merasa, bahwa Chandra begitu merepotkan papah Adi. Jadi, saat Chandra mengatakan hal itu, itu seperti kesempatan papah Adi untuk bebas.


"Siap, siap." jawab mas Givan, dengan menikmati sarapannya.


Seperti biasa, tanpa komplen ia menikmati makanannya.


Brak....


Mamah Dinda muncul dari pintu samping. Ia masuk ke dalam rumah, dengan menenteng kantong plastik berwarna hitam.


"Kesel betul! Terbuat dari apa sih itu perempuan. Dari awal udah ditolak halus juga, masih aja ngejer-ngejer. Telpon Ghava, Bang. Suruh Winda ke sini, suruh proses aja itu si.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2