Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD273. Abu panutan


__ADS_3

Ia mengeluarkan lagi buku kecil dari dalam jaketnya.


"Nih, nanti aku kirim ke rekening ini buat jatah Ceysa sama kau. Password-nya masih sama, tanggal pernikahan kita." ia memperlihatkan isi buku tersebut.


Itu adalah buku tabungan suatu Bank.


"Aku harap, kita masih bisa rujuk. Kalau aku sembuh, aku bakal sering nengok Ceysa. Biar dia tau manggenya, bukan cuma tau mangga." ia tertawa sumbang.


Ia bangkit, bahkan ia sampai meringis memegangi perutnya.


Apa ia parah?


"Abang tak apa?" aku langsung bangkit, lalu menyentuh lengannya.


Ia menarik kaosnya ke atas. Perban di perutnya terlihat.


Astaghfirullah.


"Bang..."


Tanganku langsung gemetar, melihat tiga luka yang tertutup perban itu.


Luka itu ada di dekat tulang pinggulnya, di dekat pusar dan di bawah pusar condong ke kanan sedikit.


"Dua kali operasi. Entah sampai kapan begini terus." ia menurunkan kaosnya kembali, ia geleng-geleng kepala. Bang Daeng terlihat begitu frustasi dengan kondisinya.


"Bisa jalan?" aku memperhatikannya dirinya begitu lekat, aku pun masih menggenggam lengannya.


Ia mengangguk, "Bisa."


Aku melepaskan tanganku, kemudian ia berjalan mendahului. Aku memperhatikannya dari belakang, sebelum aku pun ikut melangkah.


"Kau butuh istirahat, Len. Mangge udah bilang ke Dendi itu, dia udah pesankan kamar di Penginapan Kupi katanya." mangge Yusuf mendekati anaknya.


"Mangge gendong." Chandra langsung menarik-narik kaos bang Daeng.


"Sini gendong sama Dato, Mangge tak boleh gendong dulu Nak." mangge Yusuf langsung mengajak Chandra.


Namun, Chandra langsung menolak.


"Mana Ceysa, Bu?" aku celingukan, mencari keberadaan si kecil yang doyan uang itu.


"Tuh." ibu menunjuk Riyana Studio.


Ceysa ada di sana, ia mengekori Ghava yang tengah menyapu dedaunan. Ceysa bahkan ikut mengambil dedaunan kering.


"Memang Ceysa suka begitu kah, Bu?" tanya bang Daeng kemudian.


"Ceysa tuh sering digendong, jarang dia dilepas gitu. Paling kadang, diajak sana-sini." jawab ibu kemudian.


"Sambil duduk lah di situ!" aku menyentuh punggungnya, lalu menunjuk bangku panjang.


"Ceysa, ayo ke sana." seruan Key cukup kencang.


Key keluar dari gerbang, ia menunjuk kawasan rumah tiga saudara itu.

__ADS_1


Key berlari lebih dulu, dengan Ceysa yang langsung mengikuti. Jujur, aku belum percaya Ceysa bisa main sendiri. Jalan saja, ia belum benar.


Aku langsung bergegas, meninggalkan mereka semua yang duduk di teras toko ini. Aku khawatir dengan anak mungil itu. Kena angin saja, ia terjatuh. Apa lagi nanti berlarian bersama Key dan Kal.


"Ceysa..." aku memanggilnya, agar ia berhenti berjalan.


"Biarin, Dek."


Aku sampai tersentak kaget. Aku mengusap-usap dadaku, dengan menoleh ke arah beliau.


Ada papah Adi di samping Riyana Studio ini, ia tengah duduk bersama bang Ardi, Zuhdi dan juga beberapa orang dewasa.


Memang tempatnya agak ke dalam, membuatku yang berdiri di sini, tidak bisa melihat posisi mereka.


"Biarin, Papah awasin. Diurus aja dulu itu tamunya." ujar papah Adi kemudian.


"Ya, Pah."


Aku kembali melangkah ke arah ruko. Aku berjalan sembari menunduk, karena arah pandang mereka yang berada di teras berpusat padaku semua. Aku tidak pede melangkah.


"Ke mana Ceysa?" tanya mangge Yusuf, saat aku sudah dekat.


"Ke rumah papanya. Mainan di halaman, lari-larian sama yang lain." jawabku kemudian.


"Sini, Ndhuk." ibu menyentuh kursi plastik berwarna hijau.


Aku mengangguk, lalu duduk di dekat ibu.


"Nanti jatuh gimana? Papanya siapa memang? Kan Lendra papanya, manggenya." ujar mangge Yusuf kembali.


"Penginapan Kupi itu, yang di belakang jalan ini kan? Punya mamah Dinda." tanya ibu dengan menyenggol lenganku.


Aku mengangguk, "Ya, Bu."


"Ya udah ayo, Len. Kau istirahat dulu, kau minum obatnya lagi."


"Lendra sakit apa, Pak?" tanya ibu pada mangge Yusuf.


"Usus buntu, Bu. Udah operasi, tiga bulan yang lalu. Tapi masih aja begitu, masih sakit katanya. Diperiksa lagi, lanjutan lagi, akhirnya tindakan lagi, dioperasi lagi. Pencernaan ini yang gak bener-bener. Udah operasi kedua, tinggal lambungnya luka. Sampai sekarang belum sembuh, makan yang lembut-lembut, harus sering makan."


Astaghfirullah, bang Daeng. Ternyata ia begitu menderita, karena kesehatannya. Pasti uang banyak juga, ia tidak menikmati hidupnya ini.


"Gara-gara apa itu, Pak? Dulu Lendra sehat-sehat aja." sahut ibu, aku hanya menyimak cerita ini saja.


"Banyak faktor, gaya hidup tidak sehat faktor pertamanya. Ditambah lagi, jarang makan, kopi kencang, alkohol jalan, ya udah rusak pencernaannya." mangge Yusuf melemparkan pandangannya pada anaknya.


Ibu dan aku pun, kini memperhatikan bang Daeng.


"Abu..... Abu... Adi Fadan... Dannn...." Chandra terus-terusan memanggil nama seseorang yang muncul di ujung Riyana Studio itu.


"Bang...." Ria yang berada di ujung toko ini, malah membantu keponakannya memanggil nama tersebut.


Aduh, aku takut jidatku tidak kinclong lagi. Karena keseringan ditepuk.


Bang Ardi menoleh, "Pue???"

__ADS_1


"Ikut....." Chandra sudah merengek dengan menghentakkan kakinya ke lantai.


Bang Ardi melambaikan tangannya, "Sini, sini. Jangan nangis." serunya dari jauh.


Ia tengah membahas proyek, malah diganggu Chandra.


Aku mencekal tangan Chandra, "Sini aja, sama Mangge. Kasian Mangge, tak ada kawannya." ucapku lembut.


"Mau abu. Mau sama abu Fadan." ia masih merengek pilu.


Aku mengikuti pandangan mata Chandra. Tuh kan, bang Ardi di sana tengah mengukur-ukur dengan Zuhdi. Mereka membawa-bawa meteran yang cukup besar.


"Lagi kerja itu abunya, Bang." tambah ibu kemudian.


"Sama Ibu tuh. Sana ambil kue." bujukku pada Chandra.


"Main sama abu, Bu." Chandra memandang ibu begitu memelas.


"Biarin aja lah, Canda."


Dasar, opahnya Upin-Ipin.


"Kasian bang Daeng, Bu." bisikku begitu lirih.


Sepertinya ibu mendengar dan mengerti, ia mengangguk kemudian mengusap air mata Chandra.


"Sini sama Ibu. Kita kasih Mangge kue, kue yang Abang beli sama Ibu pagi tadi itu loh." ibu menggendong Chandra.


Untungnya, Zio anteng dengan Ria di sana. Ria tengah bermain ponsel, dengan Zio bersandar di lengannya. Zio mengintip layar ponsel Ria.


Ibu berlalu pergi ke dalam dengan menggendong Chandra. Mungkin ia ingin membuat Chandra lupa sejenak dengan abunya itu.


"Kenapa ya Chandra kok jadi gitu?" tanya bang Daeng dengan pandangan seperti meratap.


"Gitu gimana?" aku pura-pura tidak mengerti.


"Ya ada aku, tapi ribut ikut sama orang aja. Aku kek tak dianggap. Waktu dulu kan, dia lengket sama aku."


Mangge Yusuf pindah di bangku panjang, bersama bang Daeng.


Ia menepuk pundak anaknya, "Jangan dipikirkan, Len. Namanya juga anak-anak, apa lagi kau lama gak ngasuh dia. Si abu itu kan yang selalu main sama dia, yang dia tau sekarang, ya abu itu lah panutannya. Karena cuma si abu, yang selalu ada di pandangannya." jelas mangge Yusuf.


"Memang kau udah berapa lama sama laki-laki itu, Canda?" mangge Yusuf kini memperhatikanku.


"Mungkin baru tiga bulan." aku mengingat kembali, aku takut salah.


"Ada rencana nikah kah?" tanya mangge Yusuf kembali.


Aku menggaruk kepalaku, bukan karena aku ketombean. Aku bingung di sini. Haruskah kau menjawabnya?


Apa lagi, bang Daeng di sini mengajakku untuk rujuk.


Aku memandang mereka bergantian.


...****************...

__ADS_1


Plin-plannya kumat 🤦


__ADS_2