
"Aku pernah baca motivasi gitu. Katanya, kalau udah jatuh cinta ke orang, pasti perasaan sakit hati itu udah hilang. Nyatanya... Sampai saat ini, aku masih nyeri kalau ingat momen disia-siakan mantan suami. Tapi aku ngerasa happy dekat Abang, aku ngerasa aku berarti untuk Abang. Aku ngerasa dimanusiakan bareng Abang. Aku ngerasain momen-momen yang aku impikan di pernikahan aku dulu, bareng Abang. Aku ngerasa harapan aku dan angan-angan aku untuk dibahagiakan laki-laki, terjadi karena Abang." aku menatapnya sekilas, lalu aku tertunduk kembali. Aku tidak berani mencurahkan hatiku, dengan kontak mata yang mengunci seperti ini.
"Aku dulu pernah jatuh cinta. Aku terobsesi sama dia, dia siang dan malamku. Informasi tentangnya, biodatanya, kesukaannya, ketidaksukaannya, aku buru dan aku harus tau itu. Aku berusaha biar dekat sama dia. Aku selalu habiskan waktu bareng dia. Dia kebahagiaanku, dia tujuan hidupku. Uang, waktu, masa depan, pernah aku relakan untuk dia. Dia penjaga terbaik, dia pelipur lara terbaik. Sayangnya, perpisahan memisahkan kita. Aku rela pulang pergi ke rumah sakit tempatnya kerja, cuma buat ngirim makan siang dia yang aku buat sendiri. Tiap hari aku lakuin kek gitu, berharap dia semakin luluh sama aku, berharap aku diklaim yang terbaik untuknya. Tapi... Rasa saat itu dan rasa saat ini itu beda, Bang. Menurut Abang, ini perasaan apa?" aku kembali memandang wajahnya.
Ia tersenyum miris, "Abang iri." hanya itu yang ke luar dari mulutnya. Lalu ia menekan pelupuk matanya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Tapi... Bahagia itu tak seberapa dengan bahagia ini. Aku ngerasa berarti hari ini. Semoga aku tak pernah janda lagi setelah ini." aku langsung memeluk tubuhnya begitu erat.
Inilah jawabanku.
"Makasih, Dek." aku mendapatkan usapan di punggungku.
Laki-laki penuh misteri yang memiliki belas kasih yang lapang.
"Abang segerakan, biar bisa jemput Chandra." ungkapnya kemudian.
Aku mengangguk, lalu memandang wajah tegasnya. Ia tidak setampan mas Givan, ia pun tidak semanis Ghifar. Namun, kebaikannya yang tiada batas membuatku semakin dalam jatuh dalam pelukannya.
Aku harus paham, bahwa cinta pertamaku pada Ghifar. Tak mungkin sama dengan rasa cinta sekian, yang kini aku jatuhkan pada laki-laki bertato ini.
__ADS_1
"Udah belum?"
Kami tersentak, cepat-cepat kami melepaskan acara memeluk ini.
"Ishhh!"
Aku tertunduk malu, mangge memergoki kami berdua lagi.
Apa yang ada di pikiran mangge tentang aku?
Pasti aku dikira janda gatal pada anak bujangnya ini.
Aku terkekeh tertahan, karena itu adalah pernyataan yang tidak benar. Bang Daeng pernah memiliki anak laki-laki.
"Alamat mana yang kau pakai di KK kau sendiri, Len?" mangge Yusuf duduk di kursi dekat pintu.
"Makassar, tapi domisili Padang. Itu pun udah lama, enam bulan pertama aja pas aku di Padang. Udah tak pernah perpanjangan domisili lagi." bang Daeng sedikit menggeser posisinya.
"Berarti kau KK sendiri, Len? Isinya cuma kau aja?" tanya mangge kembali.
__ADS_1
"Iya." bang Daeng menghisap kembali rokoknya yang sempat tergeletak di pinggiran asbak.
"Ya udah mana? Sini Mangge liat. Mau ditanyakan ke RT dulu."
Bang Daeng langsung bangkit, "Ambil juga surat-surat kau, Dek." pintanya kemudian.
Aku mengangguk, lalu masuk ke kamar yang aku tempati.
Setelahnya, mangge membawa dokumen milikku dan milik bang Daeng. Ia kembali pergi, mungkin untuk mengurus surat-surat itu.
"Gih mandi, Dek." bang Daeng berjalan ke teras rumah.
"Apa mau Abang temani?" ia menoleh dengan tersenyum menggoda.
"No, no, no!"
Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sebelum makhluk usil itu mengikutiku.
...****************...
__ADS_1
Menurut kalian, Canda cinta gak sih?