Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD158. Tandatangan kesepakatan


__ADS_3

"Memang Abang pernah mau?" tanyaku padanya.


"Pernah, tapi CEO-nya. Cantik, imut, udah macam bidadari khayalan Abang."


Aku langsung menjejali mulutnya dengan daun imitasi, yang terpajang di tengah-tengah meja ini.


Aku tidak suka.


Terdengar gelak tawa kak Raya. Aku pun langsung berlalu pergi menuju parkiran.


Karena di sini terdapat mobil dari hotel, untuk kami berpergian bekerja. Tentu saja menyewa, perharinya pasti masuk ke laporan keuangan kami.


"Adek...." aku bisa mendengar bang Daeng memanggilku.


"Heh, kok ngambek?" ia mencekal lenganku dari belakang.


Aku menghempaskan tangan bang Daeng, "Kesel aku! Mau pulang aja ke hotel." wajahku sepertinya sudah merah padam.


"Kenapa sih? Sensitif betul. Ya udah Abang anterin ke hotel, tapi Adek istirahat di kamar hotel ya? Jangan keluyuran! Jangan jalan-jalan sendirian! Nanti Adek nyasar lagi."


Jika diingat, memang ini pertama kalinya aku datang ke Bengkulu. Sebelumnya, aku hanya mendengar nama Bengkulu dari siaran berita saja.


"Iya!" jawabku ketus.


Namun....


Cup...


Bang Daeng menyosor pipiku dengan bibirnya. Kumat, sifat usilnya kumat.


"Gitu aja ngambek, Bos. Itu pun cuma sekali, pas masih anak baru jadi supply chain." terangnya dengan membukakan pintu mobil untukku.


"Hallo, Ya? Aku antar Canda dulu ke hotel. Tolong siapin buat ke tempat selanjutnya."


Aku tidak tahu, ternyata bang Daeng sambil mengutak-atik ponselnya.


Memang cukup jauh tempat parkir ini dari tempat kami duduk tadi.


"Setengah jam lagi Abang kerja. Abang anter Adek sampai pintu hotel aja ya? Adek pesen makanan di hotel aja. Ambil di dompet Abang nih uangnya." ungkap bang Daeng dengan menarik sesuatu dari saku belakangnya.


Kemudian, ia memberikan dompetnya padaku. Barang yang tidak pernah sekalipun aku membukanya.


Terdapat beberapa kartu kecil di sana. Dengan cepat aku mengambil uang telipat dua berwarna merah. Aku mengambil beberapa lembar uang tersebut, lalu aku memberikan dompetnya kembali.


"Jangan pergi-pergi ya?" bang Daeng menerima dompetnya.


"Abang jangan masuk ke kamar hotel ibu-ibu yang minta tandatangan lagi." aku sedikit cemas tentang ini.


"Gak lah! Ngaco aja Adek ini. Kalau ibu-ibunya mamah Dinda, mungkin Adek pun bakal Abang tinggal." ucapnya dengan terkekeh.


Aku langsung memukuli lengannya sekuat tenagaku.


Tawanya begitu renyah, "Gurau, Adek! Ya ampun, sensitif betul istri Guehhh." bang Daeng mencegah tanganku dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Abang tak asik!!!" aku bersedekap tangan.


"Slow, Dek. Abang setia kok, Adek tenang aja. Lagian Abang punya apa coba? Gaji aja diserahin ke Adek." tak lama kami sudah berada di area hotel.


"Abang kan punya barang besar. Aku aja belum puas, masa mau ditawarin ke yang lain?!" sahutku kemudian.


"Ohh, jadi belum puas? Ok, malam nanti Abang puasin Adek. Biar gak suka ngambek lagi." mobil sudah berhenti di depan lobi hotel.


Namun, bukan itu maksudku. Aku tidak ingin dipuaskan kembali. Setelah semalam ia membuatku menangis karena kenikmatan.


"Abang nganter sampai sini aja ya? Adek masuk gih. Bawa kan kartunya?"


Aku hanya mengangguk, lalu membuka pintu mobil ini.


"Cium dulu, Dek." bang Daeng menarik tanganku.


Aku urung untuk keluar dari mobil. Aku langsung menoleh dan mengecup seluruh wajah bang Daeng.


"Ati-ati, Bang." ucapku kemudian.


"He'em." hanya itu yang aku dengar.


Aku keluar dari mobil, lalu bergegas menaiki lift. Aku ingin segera tidur rasanya, aku merasa mataku berat untuk terjaga.


"Hai, Kakak ipar." aku langsung menoleh mendengar sapaan itu.


Ghavi?


"Vi... Kau ada di sini?" aku melihatnya tak percaya.


Di antara saudara-saudaranya, hanya Ghavi yang murah senyum dan wajahnya terlihat bersahabat. Yang lainnya, cenderung kaku meski saat tersenyum mereka langsung terlihat manis.


"Tika di mana?" tanyaku ragu.


"Di rumah, aku nitip dia sama Ghava. Ini juga aku baru sampai dari bandara, baru masuk cek in tadi." sahutnya dengan senyum teduhnya.


"Duluan ya. Aku single bed soalnya."


Aku hanya mengangguk, memperhatikan Ghavi yang keluar dari lift yang terbuka. Yang membuatku sedikit pangling. Kini kaki Ghavi seperti papah Adi, seperti berleter O. Mungkin karena cidera tulang itu, membuat kaki Ghavi seperti papah Adi. Papah Adi pun, berleter O karena mengalami kecelakaan pada waktu muda. Aku mengetahuinya, dari cerita orang rumah.


Satu yang aku pahami, di antara mereka semua selalu menutupi keadaanku dan rumah tanggaku dengan mas Givan dari mamah Dinda dan papah Adi. Itu adalah hal yang sudah disepakati orang yang tinggal di rumah megah itu.


Beberapa saat kemudian, aku sudah sampai di kamar hotelku. Aku langsung membersihkan diri, kemudian langsung terjun ke atas tempat tidur.


Duh, nyamannya kasur ini. Sampai aku langsung merasakan titik nyamanku.


~


"Abang....." panggilku panjang.


Saat mataku terbuka, aku tidak mencium bau khas bang Daeng.


"Bang Daeng...." aku masih belum mendapat sahutan.

__ADS_1


Apa ia belum pulang?


Aku langsung mengedarkan pandanganku. Namun, aku mendapati kak Raya tengah berbaring di atas sofa panjang sembari bermain ponsel.


"Kak... Bang Daeng ke mana?" tanyaku kemudian.


"Ke kamar ibu-ibu itu, mau minta tandatangan katanya." sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Apaaa?" aku langsung mencari ponselku.


Pukul sembilan malam. Hah, aku tertidur sampai sembilan jam?


Sudahlah, aku langsung mencari kontak bang Daeng. Lalu, aku melakukan panggilan telepon melalui aplikasi chatting.


"Ya, Dek." si biang onar ini langsung menjawab teleponku.


"Abang di mana? Serius ke kamar ibu-ibu? Ya Allah, Abang. Aku kurang apa sih? Segitu d*ggy, WOT, e*ut, segala apa aku mau. Malah cari ibu-ibu." ucapku penuh penderitaan.


"Apa sih? Abang di ruang tamu hotel. Lagi ngobrol-ngobrol sama beberapa kawan. Sini coba ngintip ke l*bang pintu, kalau gak percaya."


Aku langsung mendelik tajam pada kak Raya. Namun, ia malah terbahak-bahak tanpa memperdulikanku. Pasti ia begitu puas, saat mendengar celotehanku tadi.


Seperti biasa, kamar hotel yang kami pesan seperti model rumah. Terdapat ruang tamu dan dapur yang disekat dari kamar ini.


Dengan cepat aku berjalan ke arah pintu penghubung antara ruang tamu dan kamar ini, lalu aku mengintip pada l*bang yang berada di tengah-tengah pintu. Ponselku pun, masih menempel pada telingaku.


Sungguh aku malu rasanya.


Bang Daeng benar berada di sana, dengan tiga laki-laki yang wajahnya tidak bisa aku lihat. Karena mereka duduk membelakangi pintu ini. Asap rokok pun begitu mengepul, dengan beberapa laptop yang menyala. Belum lagi pena dan buku catatan yang dipegang oleh bang Daeng.


"Benar kan?"


Ucap bang Daeng di seberang telepon ini. Aku memperhatikannya dari l*bang pintu ini, ia pun tengah menatap tajam ke arah pintu penghubung ini. Mungkin ia bisa melihat, bahwa aku tengah mengintipnya dari sini.


"Udah sana tidur! Abang lagi cari proyek di luar kantor." ucapnya kembali.


"Ya, Bang. Maaf." aku berjalan kembali ke arah tempat tidur.


"Ya, matiin dulu."


Detik itu juga, panggilan telepon terputus.


Kak Raya melirikku sekilas, lalu tertawa lepas. Untungnya kamar hotel ini kedap suara pada bagian kamar. Jika tidak, pasti bang Daeng terganggu dengan suara tawa kak Raya.


"Aku udah mau d*ggy, WOT, e*ut, kurang apa sih Bang?" kak Raya menirukan suaraku.


Aku merasa malu sendiri. Lalu aku menyembunyikan wajahku dengan selimut.


"Canda, Canda... Kau.....


...****************...


Canda doyan tidur betul sih.. dari jam makan siang, sampai jam sembilan malam. Mana sekarang udah ngumpet di selimut lagi aja.

__ADS_1


Enak juga ya isengin Canda 🤣


__ADS_2