Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD198. Di atas motor


__ADS_3

"M A K E L A R P R O P E R T I." mas Givan menegaskan setiap katanya.


"Ohh. Kek Shopee ya?"


"Siapa Shopee?" ia menoleh sekilas ke samping kiri.


"Itu, belanja online." aku pernah membaca, bahwa cara kerja platform belanja online seperti makelar properti.


"Terserah kau, Canda! Shopee kah, OLX kah, Blibli kah, Lazada kah, Tokopedia kah. Intinya aku menjebatani antara penjual dan pembeli." terangnya kemudian.


Aku pernah mengatakan, bahwa mas Givan lebih enak jadi teman ketimbang jadi suami. Apa lagi jika ia sudah sewot begini. Jika teman, aku merasa dapat hiburan dari sewotnya. Sedangkan, jika suami aku malah nyesek mendapat sewotnya.


Beberapa saat kemudian, kami sampai di toko. Dua mobil pengangkut semen, sudah menunggu di depan pagar toko yang tutup. Sedangkan, Ituk tengah berdiri di depan pagar dengan bercakap-cakap dengan para supir.


Bang Givan langsung melesat untuk berbaur.

__ADS_1


Aku tak memungkiri, ketampanan mas Givan memiliki kharisma tersendiri. Ia lebih cocok menjadi pekerja kantoran, karena wajahnya bersih dan juga enak dipandang.


Aku tak mengerti, kenapa mas Givan bisa setampan itu. Padahal, wajah ayah kandungnya satu dua dengan papah Adi. Apa karena mas Givan lebih cenderung pada mamah Dinda kah? Tapi kenapa anak-anak yang lain tidak demikian?


"Yuk..." ia sudah naik kembali ke motor.


"Ya, Mas." aku langsung menduduki jok motornya.


"Bilang mamah, jangan bikin tempat buat kau di dekat sini. Jangan bangun di tempat warung nasinya tante Shasha." mas Givan membuka obrolan kembali.


"Aku takut ngusik kehidupan kau. Entah kalau masalah anak, takutnya masalah rumah tangga. Aku sadar, aku beristri sekarang, kau pun bersuami, meski tak jelas statusnya. Takutnya... Ego aku lebih kuat. Takutnya... Otak aku lagi gak sehat. Apa lagi kau lebih cantik sekarang. Buktinya, Ghifar aja bisa gelap mata. Secantik Kin tak dilihat matanya. Was-was gitu. Apa lagi, di rumah kebanyakan laki-laki."


Paham.


Aku harus berhati-hati, karena aku orang lain di rumah megah itu.

__ADS_1


"Baiknya gimana aku, Mas?"


"Sebaik apapun saran dari aku. Masalahnya yang berkuasa di rumah itu tuh mamah sama papah. Aku pengen kau pergi. Tapi mereka, pengen kau tetap tinggal. Ibu juga, tetap diminta urus Chandra. Coba deh nanti ngobrol sama mamah. Tadi sih, mamah minta izin ke aku biar Ziyan dicarikan pengasuh aja. Mamah juga nanya, gimana baiknya soal Key."


"Terus kata kau apa, Mas?" coba ia dari dulu enak diajak ngobrol seperti ini.


"Ziyan biar urusan ibunya. Nadya susah diatur, ngacauin rencana masa depan aku aja kerjaannya. Soal Key, ya aku nanti bayar baby sitter. Mamah bilang, Canda pasti mabuk tidur kek awal hamil Chandra. Mamah juga ada bilang, tentang ibu yang tak mau dibayar untuk ngurus cucunya sendiri. Jadi mamah mikir kedepannya. Nanti gimana kebutuhan hidup ibu sama Ria, kalau ibu tak mau dibayar. Coba deh kau ngobrol masalah ini sama ibu, sama mamah juga. Bilang juga, mau tak kalau urus Key, tapi aku mampu bayarnya setengah dari upah dari mamah. Ibu kan digaji lima juta sebulan. Itu tuh ibu aja, Ria cuma dikasih jajan. Karena memang mamah pekerjakan ibu, bukan pekerjakan Ria. Dari pada aku harus cari orang baru, takutnya dapatnya tante Gemoy ibunya Icut lagi. Itung-itung kan, biaya makan sama biaya tinggal tak terpotong karena tinggal di rumah."


Aku tidak bisa mencerna sekarang. Aku diminta pergi. Tapi, secara tidak langsung ia meminta ibu tetap tinggal.


Keluarga ini sungguh membingungkan. Baiknya aku bagaimana menyikapinya?


...****************...


Kasih saran dong? mumet betul author ngarang 😆

__ADS_1


__ADS_2