
"Mah, boleh aku main keluar?" aku tengah menggendong Chandra.
Susah sekali menangkap anak ini. Ia selalu menolak ketika diajak. Ia lebih suka dilepas, apa lagi jika sudah berlarian bersama saudara-saudaranya.
"Ne... Uyun." Chandra merengek dengan mengulurkan tangannya.
"Turunin coba, Canda. Anak kau tak suka digendong, biarin dia main-main sendiri." mamah Dinda masih fokus pada ponselnya.
"Aku mau main, Mah. Aku malu kalau main sendiri." akuku jujur.
Ia baru mengalihkan pandangannya, "Main ke mana?" mamah Dinda menyentuh tangan Chandra.
Ia tengah duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan aku menggendong Chandra dengan tangan, sembari berdiri di hadapan beliau.
"Ne... Uyun." Chandra kembali memasang wajah memelasnya.
Mamah Dinda menyentuh pipi Chandra, "Main itu sama Biyung. Jagain Biyungnya, awas ada ayam matok Biyung."
Jadi, mamah Dinda memberiku izin?
"Boleh ya, Mah?" aku mengulangi kembali.
"Iya, ke mana? Jangan jauh-jauh, jangan ketemuan di pertigaan jalan. Bawa HP kau, biar gampang Mamah telponnya."
Aku tersenyum senang, aku seperti anak gadisnya.
Terdengar tawa dari ibu, yang tengah duduk di ruang tengah bersama Tika dan anak-anak.
"Tanem GPS, Mah." seru Tika kemudian.
"Soalnya dia tak ada suami. Mau main ke mana dia? Mana tak ada suami yang nyariin lagi. Ilang nanti, bingung Mamah nyarinya." jawab mamah Dinda dengan tersenyum lebar.
"Sok alim. Di luar sana, dia tak kek macam ini." itu adalah suara ibu-ibu yang kemarin hari melahirkan.
"Maklum, namanya juga baru ngerasain kebebasan. Kita ini alumni janda, jadi kau pun pasti tau rasanya." suara mamah Dinda begitu lepas.
Nadya tak menyahuti. Mungkin ia bingung akan menjawab apa.
"Ke kak Anisa dulu ya, Mah." aku hendak pergi.
Mamah Dinda mengangguk, "Malam nanti suruh nginep, Dendinya juga. Kalau tak malas, sekalian sana ke Ahya. Bilangin, ada acara bakar-bakaran nanti malam."
"Ya, Mah." aku melanjutkan melangkah keluar.
"Iyung... Enca." Chandra menunjuk motor yang baru saja masuk ke halaman rumah.
Aku melihat Ghavi tengah membawa barang yang cukup banyak di motor. Di bagian depan, terdapat Aksa yang anteng berdiri dengan berpegang pada kedua spion. Jenis motor Ghavi, adalah motor matic sekarang.
Motor besarnya sudah berganti, sejak ia berkeluarga. Mungkin itu untuk mempermudahnya, untuk mengajak Aksa jalan-jalan.
"Aksa, bukan Enca." terangku dengan mengusap kepala Chandra.
"Cieee, ada yang gendong-gendong sekarang sih nie." sapa Ghavi, ketika melewati keponakannya ini.
"Encaaa.... Dadah...." Chandra melambaikan tangannya pada Aksa.
"Dadah..." Aksa memamerkan giginya pada Chandra.
__ADS_1
Sombong juga Chandra, main dadah-dadah saja. Bukannya mengajak Aksa.
"Anak siapa sih?" aku menciuminya sembari berjalan.
"Papa." Chandra memasukkan jarinya ke mulut.
"Anak Biyung, anak ayah." aku menciumnya kembali.
"Yah Iyan. Bang, papa."
Aku harus mengerti artinya, meski tidak ada subtitle bahasa Indonesia di bawahnya.
"Yah... Yan. Bang, papa." ia menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Ohhh... Abang juga ayah. Ayah Ziyan, ayah Abang juga."
Pasti ada seseorang yang memperburuk figur mas Givan untuk anaknya.
Saat mengetahui ternyata ayah Chandra jarang pulang. Aku merasa, hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Dulu, ia selalu pulang padaku. Meski kadang pulang dengan amarahnya juga.
"Yah... Yah..."
"Ayah kerja, tadi kan pagi Abang cium tangan ayah kan?"
Aku masih melihat kebiasaan baik itu. Entah mengapa, aku malah prihatin pada mas Givan. Ia sekarang, jarang berbicara pada siapapun. Aku tak memperhatikannya, hanya saja kami satu atap, pandanganku masih menangkap bayangannya.
Ia hanya bersosialisasi dengan anak-anaknya. Dunianya sekarang, ada di luar. Entah apa yang ia kerjakan di luar sana.
"Yum, Yah." sudah banyak kosa kata yang Chandra bisa, meski terdengar tidak jelas.
"Iya. Ya, ya, ya."
Aku menciumnya bertubi-tubi. Hmm, pandai sekali anakku ini.
Aku kini sudah sampai di gerbang penginapan milik mamah Dinda. Cukup ramai, dengan puluhan mobil yang terparkir.
Oh, iya. Jika ingin menginap di penginapan milik mamah Dinda, pengunjung harus membuktikan bahwa mereka pasangan halal. Setidaknya, buku nikah diminta sebagai bukti. Karena, masyarakat di daerah ini sempat khawatir dengan penginapan ini. Mereka khawatir, orang-orang dari kota lain akan singgah hanya untuk berzina.
"Pak... Kamar kak Anisa yang mana?"
Pengurus itu pasti tahu, jika aku adalah mantan menantu juragan di kampung ini.
"Satu. Ini, yang dekat pos ini." ia tersenyum ramah padaku, dengan menunjukkan bangunan yang sedikit teduh karena tertutupi pos jaga.
"Kapan datang, Dek?"
Sudah lumrah, panggilan dek di sini.
"Kemarin, Pak." jawabku dengan melangkah ke pintu kamar kak Anisa.
Tok, tok, tok...
"Ikum.... Bang tang."
Aku terkekeh geli. Ya ampun, Chandra. Pandainya anakku. Segala assalamualaikum, abang datang katanya. Pasti ada yang mengajarkan hal ini padanya.
"Assalamualaikum, Tante. Ini Biyung sama Abang datang, mau main." ucapku kemudian.
__ADS_1
"Wa'alikumsalam." sahutan kak Anisa terdengar samar. Sepertinya ia berada di ruang belakang.
Karena setahuku, penginapan ini memiliki sekat untuk kamar mandi dan ruangan di samping kamar mandi yang bisa digunakan sebagai dapur. Persis seperti kamar kos di Padang.
"Bang atang..." seru Chandra kembali.
"Ya, Bang. Tante datang nih." suara itu semakin mendekat, disusul dengan gagang pintu yang tertarik.
"Abang datang? Mau nagih uang bulanan kah?" wajah kak Anisa terlihat begitu senang.
Aku tertawa renyah, ada-ada saja kak Anisa ini.
"Ain... Bang ain." Chandra menepuk-nepuk pahanya sendiri.
"Masuk yuk." kak Anisa mempersilahkan aku untuk masuk.
Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar ini. Aku khawatir mengganggu aktivitasnya bersama bang Dendi.
"Mana bang Dendi, Kak?" aku sedikit was-was dalam menurunkan Chandra.
"Kerja, udah di studio dari jam tujuh. Nanti jam dua belas datang, jam satu berangkat lagi. Jam empat pulang, tapi lebih sering ngabarin kalau kerjaan belum selesai. Nanti pulang-pulang jam delapan malam, tak jarang juga tengah malam. Padahal dekat aja ya? Udah kek sibuk betul." kak Anisa tertawa sumbang.
"Pengorbanan, Kak. Pengennya bang Dendi pun pasti ngamer sama Kakak aja, tapi dia punya kewajiban menuhin perut Kakak." mataku mengawasi Chandra yang sudah naik ke atas tempat tidur kak Anisa.
"Sini, duduk di sini aja. Maklum, buka pintu langsung kamar." ia menepuk tepian tempat tidur yang tidak terlalu tinggi ini.
Mungkin tebal kasur ini sekitar dua puluh lima sentimeter. Kasur yang digunakan di kamar ini tanpa ranjang. Tapi aku pernah tahu, di kamar lain menggunakan ranjang standar.
"Khe, Iyung." Chandra menepuk-nepuk beberapa buku yang bertumpuk.
Mangge?
"Itu buku, Nak." aku masih memperhatikannya.
"Ku Khe." ia menarik satu buku, lalu melihat-lihat isinya.
"Itu majalah, Bang Ganteng." terang kak Anisa.
Chandra memamerkan giginya, lalu ia berpindah untuk memperhatikan hal lain.
"Ngidamnya gimana, Kak?" tanyaku kemudian.
"Mual-mual aja, tapi gak bisa muntah. Gak nafsu makan, pengennya makan yang berkuah pedas gitu. Untungnya tiap jam ada aja pedagang yang berhenti depan pagar." jawab kak Anisa dengan mengusap perutnya yang masih rata.
Pasti sangat tersiksa, jika mual seperti itu. Kemarin aku mabuk kendaraan saja, mualnya bukan kepalang.
"Aku dulu waktu ngidam Chandra tidur aja, Kak. Tapi aku tak nyadar lagi hamil tuh. Soalnya makan ya biasa aja, hawa jajan itu kek kuat betul. Tapi mikirnya, dasar aku laper mata aja."
Aku tiba-tiba terdiam kaku. Aku teringat akan tidur siangku selama sembilan jam itu. Aku teringat akan jam tidurku lebih banyak, ketimbang dengan jam aktivitas.
Jangan-jangan aku sekarang???
Ya Allah, aku sudah panik tak karuan di sini.
Aku takut hal itu terjadi.
...****************...
__ADS_1