
Dua laki-laki itu puas tertawa lepas.
"Ya kan? Gemes kan, Den? Apa lagi pas kita tampar, kan itu seketika kek nguatin ototnya. Buat nahan rasa kaget dari tamparan kita di part belakangnya. Nampar juga, bukan kek yang gimana. Masa iya mau sambil KDRT, kan gak mungkin." bang Lendra sampai terpejam seperti membayangkan, saat ia mengatakan hal mesum itu.
"Iya betul. Cepet mereka keluar, kalau part belakangnya dipukul, langsung ngejen-ngejen aja." sahut orang yang diajak berbicara.
Ini tidak wajar, jika dibicarakan para bujangan.
Herannya lagi, kenapa mereka yang belum menikah mengerti tentang ini.
"Nih, Nak." bang Lendra mengulurkan beberapa uang berwarna merah pada Chandra.
Dasar anak-anak, Chandra langsung mengambil saja uang tersebut.
"Om lama nih keknya. Rencananya besok, tapi keknya dimajukan skedulnya."
Lalu bang Lendra mengusap-usap rambut Chandra, "Antar Biyung kau balik ke Aceh ya? Minta maaf sama ayah di sana ya? Baik-baik lagi sama ayah." pesannya pada anakku yang tak mengerti apa-apa itu.
Chandra asik menganggukkan kepalanya saja, sembari menunjukkan giginya.
"Nitip Enis, Den. Satu bulanan keknya aku gak balik ke sini." bang Lendra berjalan ke luar.
Pekerjaannya serepot apa? Sampai ia tidak pulang dalam waktu yang lama.
Ia hanya melirikku, sesaat sebelum dirinya hilang dari jangkauan mataku.
"Putri tinggalin, penuhin Enis. Selesai. Tapi sulit betul rupanya." bang Dendi geleng-geleng kepala, kemudian mengguraui Chandra lagi.
"Ihh, banyak sih uangnya. Om mintalah, Omnya tak dikasih."
Chandra sampai tertawa lepas, saat ceruk lehernya digesekan dengan kumis bang Dendi.
"Hmm, jadi laki-laki yang cuek dong. Baru juga diguraui, udah lepas aja tawa." bang Dendi bangkit, lalu membawa Chandra ke luar.
"Mau ke mana tuh?" wanita yang belum aku ketahui namanya, menanyakan tujuan bang Dendi membawa Chandra.
"Ke tempat kak Anisa mungkin." aku mengekori mereka.
Benar saja.
Aku melihat kamar kak Anisa begitu kacau. Dengan kak Anisa yang pulas di bawah selimut, dengan suara orang mandi di dalam kamar mandi.
Baunya pun, cukup menyengat.
Kalian pasti paham, karena hubungan seperti itu memiliki bau khas sendiri.
"Mati kah kau, Dek?" bang Dendi sampai menggoyangkan kaki kak Anisa yang mengintip dari selimut.
"Ngantuk, Bang. Bentar." kak Anisa hanya mengusap bibirnya, lalu pulas kembali.
__ADS_1
"Hmmmm." aku memilih duduk di luar.
Sebenarnya aku takut Chandra dibawa kabur, makanya aku mengikuti langkah kaki bang Dendi.
Sesaat kemudian, bang Lendra ke luar dengan penampilan yang begitu rapih.
Ia terlihat tergesa-gesa dengan membawa tas kerjanya.
"Jaga diri, cepat balik."
Aku mengangguk reflek, karena matanya langsung mengunci pandanganku. Saat bang Lendra mengatakan hal itu.
Kenapa aku harus pulang?
Kenapa aku harus kembali ke suamiku?
Apa ia adalah teman dari mas Givan, sampai-sampai ia memintaku untuk kembali pada suamiku?
"Kenal dekat kah?" pacar bang Dendi duduk di sebelahku.
Mungkin ia mendengar pesan yang bang Lendra katakan padaku tadi.
Aku menggeleng meresponnya, "Tak, Kak. Tapi... Memang dia nyuruh aku pulang ke suami terus." terangku padanya.
"Aku Jeni, jangan kak terus. Aku jadi ngerasa tua."
Lalu kami tertawa bersama.
"Aku ditalak, Jen." aku memahami dirinya tidak nyaman dipanggil kak.
"Siapa nama kau?" tanyanya kemudian.
"Canda."
Aku meliriknya, ia hanya manggut-manggut saja.
"Orang tua bang Lendra pisah cerai. Ayahnya pergi ke luar negeri sejak cerai, jadi TKI katanya sih. Terus ibunya stay di kampung, tapi gak lama wafat dan gak ketahuan. Hmm... Kamu paham kan, kalau jenazah gak cepat diurus. Bang Lendra masih sekolah waktu itu, dia berangkat sekolah, nyangkanya ibunya masih tidur aja. Sampai pulang sekolah, ibunya masih tidur. Bang Lendra bangunin, karena dia butuh makan. Ehh, gak taunya ibunya udah kaku. Jadi lepas itu, dia kek mana gitu kalau ada kawan yang pisah cerai. Dipaksa-paksa rujuk, aku dulu sampai dibantu buat rujuk. Dasar memang jodohnya gak lama, rujuk pun, akhirnya cerai lagi. Untungnya, belum ada anak."
Aku manggut-manggut mengerti.
Pantas saja, bang Lendra sampai menasehatiku.
Rupanya pun, pacar bang Dendi ini adalah janda kembang.
"Dia pernah bilang, masa aku sakit keras lepas cerai. Katanya... Laki-laki sih bakal cari pengganti. Nah kau, kalau gak mati, ya jadi korban laki-laki." aku menyimak ucapan Jeni.
"Memang, gak semua perempuan kek gitu. Ada yang bangkit, jadi wanita yang tangguh. Tapi, tangguhnya mereka itu jadi nyepelehin laki-laki, gak butuh laki-laki, karena mereka udah mampu sendiri. Tapi bang Lendra, gak mau dengar kenyataan itu. Dia tetap maksa kawannya yang bercerai, buat rujuk lagi. Mungkin dia trauma, dari pengalaman orang tuanya bercerai itu kali ya?" aku mengangguk kembali.
"Meski sekarang dirinya baik-baik aja sama ayahnya, ayahnya support finansialnya sampai ia dapat kerjaan yang bagus sekarang. Ayahnya juga kerja jadi supplier di Banda Aceh sana. Tapi dirinya tuh gak mau, kalau ada orang terdekatnya bercerai."
__ADS_1
"Mungkin, trauma juga sih Jen. Soalnya aku ngerasain sendiri orang tua bercerai, eh tak taunya malah pengalaman sendiri ditalak." aku tersenyum kaku.
"Ya itulah. Gak salah sih, kalau kau coba mediasi dulu sama suami kau. Biar sama-sama enak, kalau pergi dengan keadaan udah janda. Ini kan, masuknya kau masih istri orang. Akte cerai belum ada, status di KTP masih kawin."
Kenapa aku baru terpikir sekarang?
Aku manggut-manggut, "Biar nanti aku pikirkan lagi."
"Harus itu, biar bisa kawin lagi." ia merangkulku dengan tertawa kecil.
Aku hanya menyambung tawaku, aku belum memikirkan tentang hal itu.
"Dek... Canda... Chandra ngerengek nih, ngantuk keknya." seru bang Dendi, dari kamar kos kak Anisa.
"Ya, Bang." aku memenuhi rengekan Chandra, rupanya ia mengantuk di sore hari ini.
Aku membawa Chandra untuk merebahkan di tempat tidur ini, yang menjadi saksi kegiatan kak Anisa dan bang Lendra.
Bukannya aku tak mencegah dosa itu supaya tidak dilakukan mereka. Tapi aku merasa, aku tak memiliki keberanian untuk menegur mereka berdua.
Aku membenahi pakaianku, karena bang Dendi tengah berbenah kamar kak Anisa. Mungkin ia adalah orang yang ringan tangan dan menyukai kerapihan.
"Yang... Aku balik ya?" aku mendengar langkah kaki masuk.
"Abang minta uangnya, Dek. Tak ada pegangan sama sekali."
Apakah ini sejenis pemalakan pada pihak wanita?
"Oh, iya. Ini tadi uang buat beli salepnya tadi. Nih, pegang segini dulu. Nanti kabarin aja, aku belum gajian soalnya Bang." begitu mudahnya wanita menyerahkan uangnya, apa lagi menyerahkan dirinya.
Seperti aku dulu pada Ghifar, sayangnya usahaku dulu sia-sia saja.
Sampai aku rela membeli tiket ke Bali untuk beberapa orang, hanya untuk lebih dekat mengenalnya. Naasnya, aku malah menikah dengan kakaknya yang b*adab itu.
"Pamit dulu, Canda." aku merasakan lenganku disentuh seseorang.
Aku melirik ke arahnya, karena aku tengah menyusui Chandra dalam posisi miring.
Rupanya Jeni, ia akan pergi sepertinya.
"Ya, Jen. Ati-ati." ucapku kemudian.
Beberapa saat kemudian, saat aku hampir terpejam. Aku dikagetkan dengan suara bang Dendi yang mengajakku berbicara.
"Bener Meriahnya di mana? Aku diamanatkan......
...****************...
Diamanatkan siapa nih? Jangan-jangan dia temannya Ghava. Ghava kan fotografer juga kek Dendi.
__ADS_1
Tap ❤️, kak. Biar dapat notifikasi, kalau novel ini udah up 🙏🙏🙏