
Aku sudah menceritakan semuanya pada ibu. Aku dan ibu berada di kamarku malam ini. Dengan anak-anak yang sudah tepar dalam posisi nyaman masing-masing.
"Ndhuk... Kenapa kamu gak pilih Raka aja? Selain dia orang punya, Raka pun punya masa depan juga."
"Raka cuma punya warisan, Bu. Dia tak punya usaha lain, selain lanjutin punya orang tuanya. Kalau tak dari orang tua, dia bukan apa-apa."
Ibu menghela nafasnya, "Papah Adi pun dari warisan orang tuanya. Jangan terlalu kolot, cuma gara-gara kamu udah naksir sama Ardi. Bangunan loh pekerjaannya, itu pun kalau Zuhdi dapat proyek."
Ibu memandang materi.
"Tapi aku udah naksir sama Ardi. Dia tak ada nuntut sepuluh anak juga." aku malah mengakui hal ini.
Ibu memandangku tak percaya, "Percuma Ibu ngomong juga. Yang tetep dianut cuma perintah dari mamah Dinda sama papah Adi. Dari awal Ibu minta, biar kamu baik-baik sama Lendra aja tak didenger, keputusan mereka yang kamu ambil. Sekarang juga, pasti keputusan mamah Dinda sama papah Adi yang kamu ambil."
Huft...
"Bu, bukannya keputusan mereka yang aku ambil. Keputusan mereka jelas, beralasan, demi kebaikan aku juga. Kok Ibu bisa-bisanya mikir, bahwa aku lebih milih keputusan dari mereka ketimbang dari Ibu?"
"Karena Ibu ngerasanya kamu begitu. Padahal kamu ini udah bukan siapa-siapanya. Mereka terlalu nyetirin kamu, hanya gara-gara kamu tinggal di tempat pemberian mereka. Sampai-sampai masalah rumah tangga aja, mereka campuri begitu jauh."
Padahal aku selalu bercerita apapun pada ibu. Tapi, ibu sepertinya memang tak mau mengerti apapun.
"Mereka pengen yang terbaik buat aku, Bu. Mereka juga pasti merasa direpotkan, sampai-sampai jodoh-jodohkan aku. Tapi mereka ambil itu, untuk kelangsungan hidup aku. Aku udah dianggap anak sama mereka. Mereka pengen kehidupan aku ini bahagia, tak melulu penuh air mata. Kalau memang aku sengsara, udah gitu jangan berlarut-larut menurut mereka. Bukan maksudnya, campuri terlalu jauh. Ibu ambil sisi positifnya, jangan ambil sisi negatifnya. Kalau sampai mamah denger, Ibu bisa diamuknya loh."
Ibu menghela nafasnya, "Mungkin Ibu lagi capek aja. Ibu tinggal dulu, awas anak-anak." ibu malah berlalu pergi.
Huft, sudah sekali berbicara pada orang tua yang sudah mulai menua dan kolot. Ditambah lagi, aku tidak pandai menjelaskan.
Aku memilih untuk mengadu pada seseorang saja. Mungkin ia tahu jalan terbaik, dari kebimbangan hatiku ini.
"Mas...." aku langsung merengek, ketika panggilan tersambung.
"Hmm." ingatlah bahwa mas Givan adalah manusia jutek.
__ADS_1
"Aku naksir seseorang, tapi tak boleh sama ibu. Ibu suruh aku sama Raka aja, katanya masa depannya jelas." aku tak bertanya ia tengah apa dan sibuk apa, aku hanya ingin mengadu saja dan mendapat jalan keluar saja intinya.
"Ardi ya?"
Mas Givan tahu dari mana?
"Kok tau?" aku bangkit, lalu berjalan ke arah sofa kamar.
"Tau, Zuhdi lapor." suara mas Givan terdengar lain.
"Lagi ngapain sih, Mas?" aku khawatir ia tengah berbuat mesum, lalu aku mengganggunya.
"Tiduran aja. Aku lagi radang tenggorokan, sakit kalau ngomong."
Oh, kesehatannya tengah menurun ternyata.
"Minum vitamin, Mas. Biasanya kau makan IPI kek makanin permen, Mas." aku tahu kebiasaannya yang satu ini.
"Iya udah, belum mendingan." suaranya terdengar lemah.
"Jalani aja dulu sama Ardi. Ibu biarin aja dulu, suruh pikirannya jernih dulu. Masalah Raka, kau bilang aja keberatan dengan sepuluh keturunan itu. Kalau kau tak mau, Raka pasti tak mungkin maksa buat ngawinin kau. Kecuali pemerkosaan, kan beda itu ceritanya."
Gara-gara ucapannya, aku teringat kisah kelamku. Aku harus mengerti, itu hanya untuk dikenang saja.
"Tapi ibu mikir, mamah terlalu campurin. Segala bawa-bawa rumah tangga aku sama Lendra kemarin. Aku sadar kondisi aku, Mas. Aku tak bisa tegas. Aku cukup berterima kasih dengan keputusan mamah Dinda."
Mas Givan menghela nafasnya, "Dibanding sama aku aja, aku ini bukan tandingan Lendra. Otak aku masih terlalu polos, jika dihadapkan sama rencana Lendra. Satu tahun, usaha aku masih kelimpungan. Nah Lendra, dia udah ada di puncak, udah stabil dia. Jangankan kau sama ibu buat tandingannya Lendra. Jangan main-main deh sama Lendra, liciknya mateng betul. Kalau memang mau rujuk sama dia, kalau dia udah insaf aja, udah bener aja. Kalau dia masih pengen terbang-terbang, mending kau pikirin hubungan kau sama Ardi aja. Dia memang sederhana, kek Zuhdi. Tapi namanya nasib, tak tau juga. Mampu tak itu si Ardi ngerubah nasib kek Zuhdi. Apa lagi kan, kau tak punya bagian ladang kek Giska."
Secara tidak langsung, mas Givan memperdebatkan materi juga.
"Aku langsung kecil hati loh, Mas." aku sudah sendu saja.
"Jalani aja dulu. Tapi jangan sampai hamil ya? Sekalipun kejadian, tolong jangan sampai hamil. Aku tak mau kau rugi, Canda."
__ADS_1
Kenapa sih orang-orang sering memperingatkan tentang kehamilan?
Apa aku begitu bodoh?
Bisa hadirnya Ceysa juga, dalam ikatan pernikahan kok. Bukan karena aku hamil di luar nikah.
Atau, mas Givan tau tentang salah satu sifat Ardi yang tersembunyi?
"Ardi itu gimana orangnya, Mas?
"Tak tau. Aku berkawan sama Zuhdi, bukan Ardi. Tapi namanya laki-laki, selang*angan itu susah ditahan. Entah kek manusianya model aku, Ghifar, Zuhdi, ataupun Ardi. Kita ini laki-laki, jiwa rakus kita pasti ada. Makanya jangan sekali-kali ngehidangin daging. Atau kau bertandang sendirian ke rumah laki-laki kau. Kek kejadian kita dulu, gara-gara kau ke rumah buat nemuin Ghifar. Kau tak boleh ulangin kek gitu lagi, Canda. Biarpun kesalahan ada di pihak laki-laki, tapi percikan kesalahan bersumber pada wanitanya."
Benarkah aku bersalah, saat kejadian pemerk*saan itu berlangsung?
"Ya, Mas." pikirkanku masih semrawut.
"Biar ibu tenang dulu, jangan dimintain pendapat ini itu. Kau pun jalani dulu sama Ardi. Masalah Raka kau alibi aja, kau tak mau banyak keturunan gitu. Kalau kau memang tak sreg sama Raka sih. Tapi pendapat aku juga sih, mending Ardi ketimbang Raka. Ardi ada mandirinya, tak disetirin orang tua, bukan anak mami. Nah, kalau mentok lagi ke Lendra. Pastikan dulu dia udah insaf belum, udah bener belum. Jangan ulangin diperbudak Lendra dalam kebodohan kau."
"Ya, Mas."
"Ya udah, aku matiin ya telponnya?"
"Ya, Mas. Cepet sembuh ya?"
"Okeh."
Tut....
Aku memandang layar ponselku, yang menampilkan wallpaper Chandra dan Ceysa duduk bersebelahan. Ini foto baru, baru-baru sebulan belakangan ini. Mereka tidak ada kemiripan.
Drttt.....
Canda.... Kita harus ngobrol berdua. Masalah kemarin, keknya melebar. Mamah tetap ingin minimal sepuluh keturunan. Mak cek Dinda, pengen udahin aja perjodohannya. Karena beliau tak setuju, dengan keinginan mamah aku. Menurut mak cek Dinda, itu kek pembunuhan berencana. Tapi, Demi Allah. Aku sama mamah, cuma pengen bangun keluarga besar aja. Aku kepikiran kau terus, aku udah ada rasa sama kau. Aku pengen kita jadi satu. Tolong, bantu jalan keluar hubungan kita.
__ADS_1
...****************...
Mumet jadi wong ayu 😩