Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD321. Bukan muhrim


__ADS_3

"Ya Abang selalu minta, nanti Abang datang dengan jumlah ditambahkan. Jadi mungkin, Putri mikirnya Abang yang mundur-mundurin terus. Padahal, Abang terpaksa ambil opsi itu, karena uangnya gak sampai. Ya iya sih, kesannya kek Abang alasan terus. Tapi, Abang beralasan kan karena memang gak apa pilihan lain. Mau gak mau, Abang terpaksa pergi lagi buat cari uang lagi. Gitu loh, Dek."


Aku manggut-manggut mengerti. Masuk di akal juga. Dengan seperti itu, kesannya bang Daeng lah yang memundurkan terus waktu untuk menikah. Padahal, yang menjadi alasannya karena uang bang Daeng tidak cukup.


Jadi, Putri ini otaknya di atasnya bang Daeng. Kelicikan, di atasnya bang Daeng.


Semoga saja, mas Givan tidak jadi untuk menikah dengan Putri.


"Udah paham semuanya belum? Apa, ada yang harus Abang jelaskan lagi?" tanyanya kemudian.


"Apa yaaaa?" aku melirik ke atas.


"Apa?" bang Daeng malah merebahkan tubuhnya asal.


Uapannya begitu lebar, lalu ia memunggungiku.


Aku trauma ditinggal tidur, masa sedang asik mengobrol seperti dulu.


"Terus Abang kerja apa?"


Ia meluruskan punggungnya, lalu kepalanya menoleh ke arahku.


"Untuk sekarang, Abang pakai uang dari usaha bagian anak-anak. Abang gak kerja, tapi menstabilkan usaha mereka aja."


Okeh, aku mengerti.


"Terus, kenapa Chandra dapat bagian?" tanyaku kemudian.


"Chandra anak Adek. Kan kita mau nikah." senyum samar terukir di sana.


"Kalau aku tak mau?" aku lebih ingin tahu bagaimana langkah selanjutnya.


"Yaaaa, maksa lah. Adek emang mampu dagang seblak sampai tua? Kalau kita nikah kan, Adek Abang jatah perbulan kek biasa. Misalkan jadi jandanya Abang, kan Adek gak kelimpungan juga. Uang anak-anak, bisa Adek pakai. Ini pun, Abang lagi diskusi sama mamah Dinda, buat buka usaha baru di sini. Buat atas nama Adek, biar stabil juga gitu sampai tua, meski gak punya suami pegawai yang jamin pensiunan sampai tua."


"Abang kek tak punya semangat hidup sih?! Ngomongnya ke umur aja." aku tidak suka membahas kematian.


"Abang cuma takut orang-orang yang Abang sayangi kesusahan, lepas sepeninggalan Abang. Apa lagi ada anak dua, yang masih kecil-kecil dan butuh wali nikah. Mana Abang gak punya kakak atau adik, yang buat gantikan perwalian Abang nikahin anak Abang."


Tetap saja, aku tidak suka membahas ini. Aku ingin menangis rasanya.


"Ish! Jelek! Masa mewek-mewek gitu." ia bangkit dari posisinya.


"Abang jangan mati duluan, aku aja yang mati duluan. Aku tak bisa ditinggalin, biar aku yang ninggalin aja." aku bagaikan anak kecil yang berbicara sembari menangis.


Tawanya lepas, lalu ia memelukku.


"Umur gak ada yang tau, Dek. Pengennya pun, besarin anak-anak bareng, menua bareng." ia mengusap-usap punggungku.


"Udah jangan ngomongin umur!" aku menyeka air mataku.


"Hmmm." bang Daeng melepaskanku, kemudian ia malah berjalan ke arah jendela.


Ia membuka jendela bagian atas. Angin cukup kencang, membuat hawa di kamar cukup semriwing.


"Ceysa sama Mangge yuk? Mangge ada perlu." bang Daeng berjalan ke arah ranjang.


"Au ana?" Ceysa masih memencet tuts piano.


"Eummm... Ke rumah Hadi. Yuk?" tangannya terulur ke arah Ceysa.


"Li jajan." Ceysa bangkit, lalu langsung menghampiri ayahnya itu.

__ADS_1


"Iya beli jajan." Ceysa langsung nangkring pada gendongan bang Daeng.


Bang Daeng beralih menatapku, "Tinggal dulu ya? Abang mau ada perlu. Nanti telpon Ria atau mamah aja ya? Soalnya Abang gak di sekitar sini."


Aku mengangguk, memperhatikannya yang berlalu pergi dengan menggendong Ceysa.


Akan aku doakan selalu kesehatan kau, Bang.


Aku tak ingin Ceysa jadi anak yatim.


Tak apa kita tidak bersama lagi, untuk membesarkan Ceysa. Yang penting, Ceysa masih punya ayah.


~


Terulang hal yang sama. Saat esok harinya aku terbangun, aku mendapati bang Daeng dan Ceysa berada di kamarku.


Seperti halnya kemarin, ia tengah makan di kamarku.


Aku tidak berani meng-klaimnya tidak kuat berpuasa. Pasalnya, ia mengatakan bahwa dirinya belum sembuh. Makan pun, ia masih harus dipantang. Ditambah lagi, dirinya harus cek up rutin.


Yang membangunkanku pagi ini adalah rasa mulas.


Aduh, bagaimana ini?


Aku mencoba menggerakkan kakiku.


Sudah ada kemajuan. Kakiku bisa bergerak, aku pun bisa tertidur dengan memeluk guling.


Mungkin kaliumku mulai stabil. Tapi, aku bisa menggerakkan kakiku seperti ini setelah dipijat.


Kemarin hari selepas dzuhur. Mamah Dinda datang, dengan membawa tukang pijat syaraf. Tentunya, beliau perempuan. Sudah ibu-ibu, yang mungkin usianya sudah enam puluh tahunan.


"Alhamdulillah. Habis." bang Daeng memberikan suapan terakhir pada anak bungsunya itu.


"Minum, minum." bang Daeng memberikan minum pada Ceysa.


"Duduk ya sini, sama Biyung. Mangge mau cuci piring dulu." bang Daeng memindahkan Ceysa ke atas tempat tidur.


"Kenapa, Dek?" tiba-tiba ia mengusap keringat di dahiku.


"Tak apa." aku malu mengakui bahwa aku kebelet BAB.


Nanti bagaimana coba?


Ini adalah BAB pertamaku, sejak berbaring lemah. Di rumah sakit pun, aku tidak BAB sama sekali. Pasti, ini gara-gara susu yang Kinasya berikan.


Kinasya memberikanku susu, agar pencernaanku membaik. Rasanya, seperti minuman prebiotik. Tapi Kinasya mengatakan bahwa ini susu, bukan minuman prebiotik.


"Jem mpe, Ge." Ceysa menyingkirkan rambutnya yang menutupi wajahnya.


"Minjem HP?"


"Ya, Ge." Ceysa masih kerepotan dengan rambutnya.


"Nih."


Bang Daeng memberikan ponsel dari saku celananya.


Ia masih menggunakan ponsel lamaku?


Ia sudah kaya, kenapa tidak membeli yang baru saja?

__ADS_1


"Hei." ia duduk di tepian ranjang, di sisi aku masih merebahkan diri.


Aku memandangnya sekilas. Lalu, aku kembali memperhatikan Ceysa yang menggoyangkan kepalanya, mengikuti irama lagu anak-anak itu.


"Yuk Abang bantu ke kamar mandi."


Apa ia mengerti?


Apakah aku terkentut?


Padahal dari tadi aku sudah mencoba menahan semaksimal mungkin.


"Mau apa?" aku pura-pura tidak merasa.


"Yaaa... Terserah Adek. Ayo." ia langsung menarik kedua lenganku, agar aku bisa duduk.


"Mau digendong? Atau mau jalan?" tanyanya kembali.


"Yang cepet aja."


Aku sudah tidak bisa menahan rasa buang air ini.


"Ya udah."


Ia mengalungkan tanganku ke lehernya. Lalu ia membopong tubuhku.


"Tinggal bilang, Dek. Dari pada penyakit." ucapnya kemudian.


Tak lama kemudian, aku melakukan ritual pagiku dengan bang Daeng yang berada di hadapanku.


Malu sekali rasanya.


Tapi, ia terlihat biasa saja. Tidak merasa kebauan, atau bagaimana.


Untungnya, kloset ini adalah kloset duduk.


"Bisa gak?"


Aku hanya mengangguk.


"Abang ambil handuk Adek dulu. Sekalian mandi, perasaan dari kemarin gak mandi ya?"


Ia keluar dari kamar mandi.


Aku memang tidak mandi. Tapi sore hari, aku dibilas dengan air hangat oleh ibu.


Aku dan dia sudah bukan muhrim.


Tapi, aku kali ini dimandikan olehnya. Dalam keadaan busana yang kurang baik.


"Cuci rambut ya? Biar gak gimbal."


Aku hanya mengangguk saja, saat ia menambahkan shampo ke rambutku.


Aku dimandikannya, dengan posisi duduk di atas kloset yang tertutup.


Beberapa saat kemudian, aku tengah dibantu dipakaikan pakaian. Tentu kali ini, aku bertel*nja*g bulat.


Hilang sudah urat malu.


"Ehh, mau ngapain?" aku panik.

__ADS_1


...****************...


Masa iya Daeng mau melecehkan 🙄 tapi bisa aja sih, biar rujuk dengan alasan hamil 😌


__ADS_2