Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD290. Farikhatul Aini


__ADS_3

"Dia, mantannya Ardi."


Skakmat.


Malas betul rasanya, berurusan dengan mantan kekasih pacar kita.


"Ehh, Kak Canda ya? Calon istrinya bang Ardi ya?" sapa perempuan tersebut, ketika sampai di hadapanku dan Giska.


"Iya." aku tersenyum manis.


Bagaimana rupa dia?


Apa dia lebih cantik ketimbang aku?


Tetapi kok, bercadar tapi berpacaran?


Dengan ia berstatus sebagai mantannya bang Ardi, berarti kan dia pernah menyelami status berpacaran.


"Keibuan ya, pantesan bang Ardi sampai langsung berani nyunting." ia memilih duduk di lantai.


Aku dan Giska pun, langsung duduk di lantai. Agar terlihat sopan.


"Bukan lagi, aku memang ibu-ibu." hatiku geram, tapi aku mencoba tersenyum selebar mungkin.


Aku pura-pura tertawa, agar berbaur renyah dengan tawa Giska dan perempuan bercadar itu.


"Iya, aku tak nyangka aja. Baru aja dua bulan putus, eh bang Ardi udah ada kabar mau nikah aja."


Loh?


Aku dan bang Ardi sudah tiga bulan lebih berhubungan.

__ADS_1


"Kau siapa sih? Kau orang mana?" mungkin wajahku sudah tidak bersahabat sekarang.


Garis matanya terlihat berkerut, ia tengah tersenyum sekarang.


"Aku Aini, dari RT sebelah."


Saat dulu, aku dihantui masa lalu mas Givan yang bernama Ai Diah. Sekarang, Aini.


Ada apa dengan Ai-Ai'an di sini?


"Nama lengkapnya?" aku kurang puas mendengarnya.


Jangan-jangan, nama panjangnya ada Diah juga.


"Farikhatul Aini." jawabnya kemudian.


Aku manggut-manggut, "Kok pacaran sih?"


Bukan aku munafik. Aku pun berpacaran, aku tahu dilarang oleh agama. Bahkan, latar belakangku pesantren dengan gelar hafidzah Qur'an.


Hah?


Padaku pun si bujang tengil itu sering berkunjung.


Aku manggut-manggut. Aku menggulirkan pandanganku pada anak-anak yang tengah bermain itu. Hadi menendang bola kecil, yang Ceysa lemparkan. Mereka masih anteng.


"Kau dari mana, Aini?" tanya Giska, dengan menepuk paha Aini.


"Dari rumah ma, ngasih mangga. Mangga yang di depan rumah aku berbuah lebat."


Ma?

__ADS_1


Ma Robiah?


Oh, jadi ia masih berhubungan? Atau, bagaimana konsepnya?


"Minggu lalu pun mangga di depan rumah ma dipanen, dibagi-bagikan ke mamah sama ke Canda. Buat abang-abang aku di sana juga, kebagian semua pokoknya." ucap Giska dengan menunjuk ke sana ke mari.


"Kok aku tak dikirim sih?" Aini menunduk lesu.


"Memang kau siapa?"


Aku menutup mulutku. Sungguh, ini hanya reflek saja.


Giska dan Aini menoleh padaku, dengan tatapan yang tidak biasa. Pasti setelah ini, aku mendapat cap yang jelek.


Aini tertawa garing, "Iya ya? Aku kan cuma mantan. Tapi, awas loh nanti kek aku. Rencana sebelum puasa nanti nikah, eh malah diputusin lebih awal."


Oh, mereka ada rencana pernikahan juga?


Aku memang tidak banyak bertanya tentang masa lalu bang Ardi. Karena aku pikir, dia adalah benar-benar bujang yang tidak pernah berpacaran.


"Canda sama Ardi sih, masih abu-abu. Soalnya bang Givan masih duda, mana tau rujuk." Giska tertawa renyah.


"Ah, iya. Mana tau juga, aku masih bisa berjodoh sama bang Ardi." itu adalah tanggapan dari Aini.


"Yaaa... Semoga jodoh." timpalku dengan memasang senyum selebar mungkin.


Harusnya dia sadar, bahwa senyumku terpaksa.


Ia malah menepuk bahuku, "Kakak bisa aja guraunya." sahutnya dengan terkekeh kecil.


"Giska... Ini nih. Ma mau anter ke..."

__ADS_1


...***************...


Situasi yang tidak ramah 😣


__ADS_2