
"Bang." aku mengecup pipinya. Aku rindu padanya, aku rindu sentuhannya.
Namun, bang Daeng sepertinya tengah kelelahan.
"Abang tak mau cerita?" aku ingin membuka obrolan dengannya.
"Besok ya, Dek?" ia menoleh padaku dengan tersenyum samar.
Matanya merah, ia sudah tertidur rupanya.
"Ya, Bang." aku menempatkan tangan kiriku di atas dadanya.
Aku mencoba mencari rasa nyaman, dengan mengusap tanganku di atas dadanya. Aku tidur tidak nyenyak semalam. Aku sering terbangun, karena teringat akan suamiku ini. Alhamdulillahnya ia masih utuh, tanpa tergores sedikitpun.
Tanganku tiba-tiba disentuh olehnya, lalu ia kembali menoleh ke arahku.
"Pengen kah?" bahkan suaranya sedikit serak. Ini adalah suara khasnya bangun tidur. Padahal ini masih setengah sembilan, malam belum begitu larut.
Aku menggeleng samar, "Tak, Bang." aku tegang saat menjawab ini.
"Tidur jangan terlalu larut. Abang tidur duluan." ia mengusap kepalaku lembut, lalu dirinya mulai terlelap kembali.
Harusnya, tadi aku mengiyakan saja. Tapi aku tidak tega melihatnya kelelahan seperti ini. Ditambah lagi, suhu tubuhnya sedikit hangat. Aku yakin, ia banyak aktivitas di luar sana. Tubuhnya kelelahan, jam tidurnya pun pasti kacau.
Tapi, ia melakukan aktivitas apa?
Sudahlah, aku harus bisa mengerti akan dirinya. Aku memilih untuk menyalakan televisi, dengan bermain ponsel baru ini. Merek ponsel yang pernah aku genggam-genggam dulu, meski dengan tipe yang berbeda.
Aku tiba-tiba iseng ingin menghitung nominal pada struk pembayaran yang aku kumpulkan. Berapa ya kira-kira pengeluaran bang Daeng untuk membeli ini semua?
Empat puluh empat juta lima ratus rupiah, untuk semua pembayaran barang-barang. Belum termasuk kue dan makanan yang ia beli. Jika dilihat dari alamat yang tertera dalam struk ini, bang Daeng singgah dan membeli barang di Batam.
__ADS_1
Sejauh itu ia pergi?
Drttt....
Getar satu kali aku dapatkan dari notifikasi masuk. Aku sengaja mengubah dering ponsel ini menjadi getar, agar tidak mengganggu istirahat bang Daeng.
Foto Chandra tengah mengenakan pakaian berbulu lembut. Ia terlihat seperti anak koala, karena kostum tersebut.
Di foto kedua, Mikheyla terlihat memamerkan giginya. Ia tengah mengenakan gaun berwarna biru muda, ia terlihat seperti putri Elsa.
Mereka berdua terlihat begitu berisi, pasti gizi mereka tercukupi dengan baik.
Ya, Ghifar mengirimkan dua foto tersebut tanpa kalimat apapun. Apa mungkin Ghifar takut dengan Kinasya, jika bertukar kabar denganku?
Sejauh ini pun, ia tidak pernah mengirimiku chat. Yang selalu menelpon dulu pun, itu selalu aku.
~
"Badan tuh pada sakit, Dek. Gak biasa kerja pakai otot, kemarin kerja pakai otot." ungkapnya kemudian.
"Kerja apa, Bang? Abang ke mana sih? Aku sampai nanya sama orang kantor." aku tak memungkiri, bahwa aku penasaran akan kepergiannya kemarin.
"Pulang dari absen di kantor tuh, diajak temen buat masukin barang ke Singapura." jawabnya kemudian.
"Terus?" aku masih tidak percaya pengakuannya sebenarnya.
Apa lagi, Agam dan scurity mengatakan bahwa bang Daeng tidak pernah datang ke kantor. Ini jelas berbeda, dengan pengakuan bang Daeng.
"Udah, terus belanja. Langsung pulang lagi." terangnya dengan menarik selimut kami.
"Badan pada capek, Dek. Kepala sakit, mata berat betul. Abang kemarin malam gak tidur." jelasnya kembali.
__ADS_1
Aku menarik rahangnya, agar wajahnya menghadap padaku.
"Apa? Abang gak bohong." tangannya langsung melingkar di perutku.
Cup.
Aku langsung tersenyum lebar, setelah mencium bibirnya sekilas.
"Cium-cium! Memang Gue cowok apakah?" ia memasang wajah sombongnya.
Aku terkekeh geli. Lalu aku kembali mengincar bibirnya. Bang Daeng langsung merapatkan mulutnya, tawa tertahannya begitu menggelikan.
"Jangan cium aku! Jangan nodai aku!" bang Daeng memundurkan posisi tubuhnya.
Aku semakin nekat untuk mengisenginya. Aku paham, ini hanya gurauan semata.
Bang Daeng semakin menjadi menolak ciumanku, ia terus tertawa dengan melindungi wajahnya dari seranganku.
"Bang Daeng!!!" aku mencoba membuka tangannya yang menutupi wajahnya itu.
"No, no, no. Jangan cium aku." bang Daeng mencoba melindungi dirinya kembali.
Aku langsung naik ke atas perutnya. Aku duduk di sana. Dengan berusaha membuka tangannya, yang masih menutupi wajahnya.
Cup.
Aku berhasil mencuri kecupan kecil di bibirnya kembali. Bang Daeng tertawa puas, aku pun terbawa dengan tawa renyahnya. Namun, aku tiba-tiba melongo dengan aksi sekali tariknya.
Kaos milik bang Daeng yang tengah aku kenakan, tiba-tiba terlepas dari tubuhku. Kini aku berusaha menutupi kedua pabrik ASIku, karena terpampang jelas di depan wajahnya.
...****************...
__ADS_1
Bergurau, malah jadi berbuat 😏