
"Sini duduk dulu, Mah." Ghavi menepuk tempat di sebelahnya.
"Udahlah, sana pada pulang!" mamah Dinda masuk dan berjalan mengambil laptopnya.
Mamah Dinda menyimpan laptopnya, kemudian masuk ke dalam kamar. Cukup lama beliau di sana, aku khawatir beliau tidak mau menemui kami kembali.
Alhamdulillah, ia kembali dan duduk di tempatnya semula.
"Mah, ayolah pulang sama aku. Aku minta diurusin, aku tak bisa mandiin bayi aku nanti." aku buka suara, karena kami hanya saling memandang.
Ghifar menyikut lenganku, dengan geleng-geleng kepala.
Salah lagi kah?
"Iya, Mah. Aku tak enak Hadi di ma Robiah terus." tambah Giska.
"Memang kenapa kalau sama ma, Dek?" eh iya, sejak tadi Zuhdi duduk di luar sendirian.
Sekarang ia masuk dan duduk di karpet bawah bersama kami.
Giska menoleh ke arah suaminya, yang duduk di dekat pintu.
"Ma berisik lah, anak aku dimarahin aja. Abang tak tau, segitu Hadi sampai ngadunya juga." terang Giska dengan mengangkat tubuh anaknya, lalu ia hadapkan ke depan.
Bayi itu seperti tengah bosan.
"Mamah malah tak mau pulang, kalau kalian punya planning mau nitipin anak." ujar Ghavi, yang duduk di kursi bersama papah Adi.
"Kau masih punya ibu mertua, Giska. Kau pun masih punya ibu, Canda."
Ah, mamah. Kenapa malah menjawab seperti itu?
"Mah, aku kaku sama ibu." aku sudah manyun saja.
"Kok bisa kaku sama ibu sendiri?" Giska menoleh ke arahku.
Kenapa malah kami saja yang asyik bercakap?
"Bisalah, kan lama aku tak ketemu ibu." aku menyandarkan punggungku ke tembok.
Rasanya aku ingin rebahan saja. Pinggangku begitu sakit.
"Pulang ya, Mah?" Ghava mengeluarkan suara yang penuh harap.
"Ya udah sana, ati-ati. Mamah tetep di sini."
Kenapa papah Adi diam saja sih?
Beliau tidak berusaha membujuk istrinya sendiri, atau bagaimana. Kan aku jadi bingung sendiri. Sudah lelah perjalanan, mamah Dinda tidak ada yang membujuk.
__ADS_1
"Ya sama mamah juga." Ghifar pindah duduk di dekat kursi ibunya.
Namun, ia tetap duduk di karpet seperti kami.
Mamah Dinda menggeleng. Ia menunduk diam, tanpa berkata apapun.
Bagaimana lagi harus membujuknya?
"Mamah tak kasian sama aku? Ya setidaknya, sama aku aja. Dengan vonis Kin yang mengidap itu. Aku kelimpungan loh, Mah. Aku bingung bawa dia ngobrol sama psikiater, tanpa dia tersinggung. Lebih-lebih kalau aku jauh begini, pikiran aku sama anak-anak aja. Lebih-lebih, aku kepikiran dia nekat. Aku tak bisa nebak, tuduhan dan sangkaan apa yang ada di pikirannya sekarang. Satu minggu kemarin aku jaga papah, udah disangka aku betah di oyo. Sampai Kaf diminta ikut aku, kadang Kal yang ikut aku." Ghifar menjeda kalimatnya, "Aku tak mau bawa Mamah, dengan kerepotan aku. Tapi tolong kasihani aku, Mah. Aku sama siapa lagi, kalau bukan sama Mamah? Abi Haris jauh dari aku, ia pun tak bisa bantu apa-apa dengan kondisi Kin di sini. Ia kepala keluarga dan punya tanggung jawab sendiri di sana." Ghifar sampai menyentuh lutut ibunya.
Aku benar-benar buntu untuk membujuk mamah Dinda. Masalahnya satu, papah Adi hanya diam.
Kami tak mungkin membujuk mamah Dinda, dengan beralasan kasihan pada papah Adi. Itu di luar urusan kita, sebagai anak. Aku tidak bisa terlalu jauh mencampuri urusan pribadi mereka. Apalagi, sifatku di sini hanya menantu.
"Nanti Mamah pikirkan itu. Kau bawalah rombongan kau pulang, Far."
Ya Allah, mamah si ratu tega.
Namun, perutku langsung kaku kembali.
Aku mengusap-usap perutku, berharap agar ia mau tenang di rahimku. Begitu keras seperti batu, nafasku sampai sesak dibuatnya.
Sedang cosplay jadi apa janinku ini?
"Sakit lagi, Canda?" itu adalah suara mamah Dinda.
Aku meringis, "Iya, Mah." aku menoleh pada beliau sekilas.
"Bantuin dulu, Far." mamah Dinda menaruh kain jarik Giska, di bawah dadaku.
Sepertinya, beliau tahu aku sejak tadi kram perut. Meski ia sibuk tadi, tapi ia memperhatikanku juga.
Ghifar melakukan hal yang sama. Ia membantuku, dengan menarik kain itu dari belakang.
Setelah membaik, aku menarik nafasku dalam-dalam beberapa kali.
"Sini kau rebahan, Canda." mamah Dinda mengajakku ke kamar, yang berada di sebelah ruang tamu.
Sejak tadi, Mah. Aturan sejak tadi, Mah. Agar aku tidak kram perut terus menerus.
Namun, sayangnya kasur ini berbahan kapuk. Tidak begitu empuk, karena kasur yang sudah lapuk.
Hm, aku heran mamah Dinda bisa bertahan di rumah yang keadaannya seperti ini?
Jauh dari kata modern. Apalagi, furniturenya terlihat begitu tua dan keropos. Apa mamah tidak takut kah jika malam hari sendirian?
Ini kan rumah yang lama kosong. Bahkan, sudah berapa puluh tahun. Ya mungkin, sudah lebih dari dua puluh tahun. Karena mas Givan mengatakan, bahwa rumah itu dibeli saat ia masih kecil dan mamah Dinda belum menikah dengan papah Adi.
Ish, aku jadi bergidikan sendiri. Karena sendirian di kamar ini, dengan membayangkan malam yang mencekam.
__ADS_1
Asal kalian tahu saja ya. Di Kalimantan yang jelas perumahan saja, aku selalu mengekori mas Givan. Mas Givan ada di ruang tamu, aku ikut ke ruang tamu. Mas Givan ada di depan TV, aku ikut juga mengganggunya.
Bahkan, jika aku tengah takut. Aku akan ikut dia bekerja. Aku gulang-guling di ranjangnya yang berada di kantornya. Usut punya usut sih, ranjang itu bekas Ai Diah juga.
Ah, sudahlah. Memang benar juga, bahwa aku mendapatkan batang bekas. Yang penting bersih dan bebas penyakit saja lah.
Aku masih tidak mendengar papah Adi berbicara. Namun, aku mendengar sayup-sayup gurauan jenaka berada di depan kamar.
Aku penasaran, aku langsung menengoknya dari jendela. Jika malam, aku pasti tidak berani menengok dari jendela seperti ini. Untungnya, ini adalah siang hari yang begitu terik.
Ghava, Ghavi dan Zuhdi yang menggendong anaknya tengah bergurau bersama.
Berarti Giska dan Ghifar ada di ruang tamu, menemani papah Adi.
"Minum nih, Canda."
Hah!
Kaget bukan kepalang. Mamah Dinda masuk dengan membawa gelas yang berembun, tanpa tanda-tanda lebih dulu.
"Makasih, Mah." aku langsung menerima dan menyeruputnya.
Alhamdulillah, nikmatnya tenggorokanku tersiram air sejuk ini.
Mamah Dinda masih diam, ia duduk di tepian ranjang ini.
"Kenapa, Mah?" aku masih menggenggam gelas yang dingin ini.
"Bawalah rombongan kau pulang. Mamah malah tak tega, tengok papah kau di sini." suaranya menurun lirih.
Pasti perasaan mamah sangat kacau.
"Kan Mamah sendiri, yang pengen papah sakit." aku masih memperhatikan wajah mamah Dinda dari samping.
"Ya." mamah Dinda menoleh ke arahku. Ya ampun, aku tidak menyangka bahwa mata beliau basah. Mamah Dinda cengeng juga ternyata.
"Kenapa tak buka kasus? Kenapa tak penjarakan Mamah? Mamah sengaja kabur dekat, dengan mobil yang belum diperbaiki, karena biar polisi mudah bekuk Mamah."
Apa isi pemikirannya?
"Mah.... Aku kasih sedikit informasi aja nih. Tulang rusuk papah itu patah tiga sekaligus. Untungnya, tak remuk dan ngelukain organ dalam. Tulangnya itu dibaut dan dipasang piringan sekarang. Kalau tulangnya udah nyatu, nanti bakal dilepas lagi. Pas sadar, kesakitan parah itu papah. Sampai di anestesi beberapa kali sama dokternya. Kasian loh, Mah." aku menarik nafas lebih banyak, "Papah cuma bisa ngomong mamah mana, selama dagu minggu belakangan. Ngelamun terus, suka nangis tanpa suara. Eh Mamah malah kepengen dipenjara. Ya jelas tak mungkin papah lakuin lah. Tak mungkin papah minta anak-anaknya buka kasus, untuk penjarakan ibunya sendiri. Malah polisi aja disuap, biar tak memperpanjang laka lantas itu. Polisi malah yang buka kasus, terus minta ijin dari korban. Kalau pihak bu Bilqis sih, ya suruh dilanjutkan aja. Tapi dia tak mau keluar uang, jadi polisi tak bisa proses lebih banyak. Buat jadi saksi gitu kan, kata Ghifar ada uang amplopnya. Buat ucapan terima kasih gitu." lanjutku kemudian.
"Mamah lebih baik di penjara." beliau tertunduk lesu.
"Kenapa lebih baik di penjara? Padahal dengan Mamah bebas, Mamah bisa lakuin apa aja. Toh papah juga tak meninggal, Mamah bisa lanjut nyusun rencana untuk bikin nyawa papah melayang. Daripada papah kek gini. Tak mati karena kecelakaan, tapi bisa mati kesepian. Belum lagi psikisnya, papah pasti ada pikiran untuk bunuh diri." aku sadar jika ucapanku sedikit kasar.
Mamah Dinda memandangku.
...***************...
__ADS_1
Eh, tumben mulut Canda berfaedah 🤔