Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD101. Doanya


__ADS_3

"Katanya Abang gak mau buru-buru." aku sudah dirundung kepanikan.


"Abang pun masih rileks, belum berdiri. Maksudnya... Mau liat gak? Penasaran gak?"


Ada pula orang seperti ini.


Aku malah tertawa renyah, bang Daeng ada-ada saja.


"Gak bikin penasaran ya Guehhh?"


Tawaku semakin lepas tak terkendali.


"Pengen gitu Adek gatal ke Abang." lanjutnya kemudian.


Aku memeluk tubuhnya, merasakan detak jantungnya yang begitu jelas di telingaku.


"Tolong garukin, Bang." ucapku menuruti keinginannya.


Tawa bang Daeng terdengar seperti pelipur sakit hatiku.


"Bukan kek gitu, Bondeng!"


Sekian lama, bondeng ia keluarkan lagi.


"Aku pernah liat kak Venya sama Putri duduk-duduk di sini. Abang kek tak suka." aku menepuk pahanya.

__ADS_1


"Soalnya dunia Abang udah tertarik ke Adek, ke Chandra. Sama perempuan lain, Abang udah gak minat. Abang ngerasa risih gitu nah." bang Daeng memundurkan posisinya. Mungkin ia ingin bersandar pada kepala ranjang.


"Kenapa Abang tak terus terang dari awal?" saat itu pun, aku mulai menyadari bahwa bang Daeng cukup berbeda. Pasalnya, laki-laki tak mungkin bisa menolak daging yang terhidang nikmat. Pasti ia sudah tidak selera dan tahu rasa daging tersebut, sampai-sampai ia enggan memakannya lagi.


"Abang gak yakin, soalnya Abang gak pernah jatuh cinta. Adek pernah bilang, rasa kangen itu kek kehilangan. Nah, itu betul Abang rasakan. Pas Chandra dibawa papahnya, terus Adek putar tugas karena masa iddah. Abang tuh sampai males kerja loh, Dek. Gak semangat gitu, uring-uringan. Kangen, kek sepi betul rasanya hari-hari Abang. Sampai Abang rela langsung urus perputaran tugas Adek lagi, biar bisa sama Abang. Jauh-jauh, padahal lagi capek, lagi meriang, sampai Abang terjang, cuma buat jemput Adek."


Sudah kuduga, masa bang Daeng menjemputku. Ia sudah terlihat begitu berbeda, ia seperti selalu ingin dekat denganku.


"Ehh..." ekspresinya seperti mengingat sesuatu.


"Pemerk*saan kek gimana, sampai buat Adek trauma itu? Abang masih ingat, pas pertama kali Abang nabok part belakang Adek." tanyanya kemudian.


Aku memundurkan posisiku, agar bersandar juga pada kepala ranjang sepertinya.


"Kalau Adek, sama pacar Adek, terus sama-sama udah telan*ang. Itu gak bisa disebut diperk*sa." lanjutnya kemudian.


"Singkatnya... Aku diper*osa kakaknya pacar aku. Aku nikah sama kakaknya pacar aku, terus pacar aku dulu jadi ipar aku."


"Hah?" matanya melotot dengan raut kaget.


"Iya, Bang. Kek gitu lah!" aku ingin menangis, jika mengingat kejadian detailnya.


"Berapa kali kejadiannya?" tanyanya kemudian.


"Satu kali." aku memperhatikan telapak tanganku sendiri.

__ADS_1


Aku mendapatkan usapan di kedua lenganku. Rupanya, satu tangan bang Daeng melingkar melewati tengkuk leherku.


"Gih tidur!" tiba-tiba ia merebahkan tubuhnya.


Ia menepuk lengannya, "Sini bobo." pintanya kembali.


Aku meluruskan pinggangku, wajahku berhadapan dengan wajahnya. Namun, bang Daeng langsung memejamkan matanya. Ia seperti orang pusing menurutku.


"Sabar ya? Abang perbaiki perekonomian kita." ungkapnya kemudian.


"Ya, Bang." aku sebenarnya tak merasa keberatan dengan gajinya.


"Abang beneran mau tidur?" tanyaku heran.


Bang Daeng malah terkekeh kecil, lalu ia membuka matanya kembali.


"Adek maunya kek mana?" bang Daeng menggesekkan hidung kami.


"Aku deg-degan."


Ia melepaskan pelukannya, tawanya pecah seketika.


"Tidur pun, keknya gak bakal lelap kalau deg-degan gini." ujarnya kemudian langsung naik ke atas tubuhku.


"Apa doanya?" bang Daeng menyatukan tanganku di atas kepala.

__ADS_1


...****************...


Wah, wah, wah. Langsung unboxing kak 😍


__ADS_2