
"Yey... Bang Chandra mau punya Adek." teriak mamah Dinda, setelah kami pulang dari dokter kandungan.
Persiapan papah Adi pas sekali. Ia membawa kantong kresek, ternyata berfungsi juga. Perjalanan lima belas menit saja, aku muntah dua kali. Saat perjalanan pulang, bahkan mobil sampai dua kali menepi.
"Bang...." Chandra berteriak dengan berlari, saat mamah Dinda berjalan cepat untuk menangkapnya.
"Adek dong... Adek bayi dong." mamah Dinda berhasil menangkap anak yang suka dilepas liarkan tersebut.
Aku heran dengan anak-anak di sini. Mereka semua enggan untuk digendong. Didekati saja, mereka berlari menghindar.
"Benar itu, Ndhuk?" tanya ibu dengan berjalan ke arahku.
"Iya, Bu. Kan aku udah cerita tadi. Udah dua bulan lebih ternyata, Bu. Bayi aku udah sepuluh minggu." aku menunjukkan foto USG pada ibu.
"Ya Allah..." ibu terisak dengan mengusap kepalaku.
"Kamu gimana sih? Hamil kok gak tau. Masih rawan ini, segala kamu pergi-pergi sendiri." aku merangkul ibu, lalu membawanya duduk di karpet bersama mamah Dinda.
"Udah, Bu. Yang penting tak apa-apa." mamah Dinda menepuk-nepuk pundak ibu.
"Canda hamil, mana sadar dia." timpal papah Adi dengan melewati kami.
Kami semua terkekeh. Benar juga kata papah Adi, aku selalu tidak sadar jika tengah mengandung begini.
__ADS_1
"Pinjam HP, Dek." papah Adi datang, dengan membawa satu toples makanan ringan.
Ia langsung duduk di samping istrinya, dengan menikmati cemilan berbahan dasar tepung terigu itu.
"Abang mau main ya, Dek. Mau..." ucapan papah Adi terpangkas.
"Ikut... Ikut, Bang. Ikut." mamah Dinda sudah merengek dengan menggoyang-goyangkan lengan suaminya.
"Udah malam, Adek. Udah jam delapan. Rebahan aja sana, mainan HP. Nih...." papah Adi mengembalikan kembali ponsel istrinya.
"Main ke mana sih? Ikutlah."
Ya ampun, padahal mereka sudah berumur. Apa kelak nanti, aku pun akan seperti itu. Oh iya, aku lupa. Bahkan, sekarang aku memilih untuk sendiri.
Oh, jadi sekarang mas Givan memiliki pelanggan terpercaya. Zuhdi pasti akan memborong bahan bangunan setiap ia mendapat pekerjaan.
"Suruh ke sini aja, Pah. Aku juga mau ngobrolin, bang Givan pun udah telepon beberapa kali. Cuma Kaf masih rewel aja, gendong aja mintanya. Kin kecapean, udah tidur dia, aku tak bisa pergi, tak ada yang gantiin gendong Kaf." Ghifar menuruni tangga.
"Sini sama Ibu aja." ibu mengulurkan tangannya, mengisyaratkan agar Kaf pindah ke dekapan ibu.
"Jangan lah, Bu. Nanti capek. Lama-lama tuh berat, mana mintanya diayun-ayun begini aja." Ghifar masih menepuk-nepuk part belakang anaknya.
Kal kecil tidak senakal ini. Kal hanya sering berteriak, seperti kaget.
__ADS_1
"Mamah tuh minta Ibu sama Ria buat bantu urus Key sama Chandra aja. Bukan urus Kal, Kaf, Aksa, Ziyan, Zio sama kembar." terang mamah Dinda kemudian.
"Mamah tak kasian sama aku. Aku makan sampai kek gini." Tika berpura-pura mengusap air matanya.
Ia tengah makan, dengan dua gendongan yang bertumpu di kanan dan kiri bahunya. Ghofar dan Ghofur memang selalu seperti itu, jika ingin tidur. Kembar itu tidak bisa terlelap, jika tidak diayun. Sedangkan, jika ditaruh pada ayunan bayi elektrik. Ghofar dan Ghofur terlihat seperti kaget, tangan dan kakinya begitu kaku, dengan mata yang melotot. Jadi, jalan satu-satunya adalah Tika yang mengayun mereka seperti ini.
"Papah sama Mamah pernah ngerasain tahap itu." tukas papah dengan masih aktif mengunyah.
"Iya, Meme. Aku kan tak punya orang tua. Tak ada yang mandikan, nyiapin makan, goreng nugget, bikin susu. Jadi aku diasuh Ibu sama Kak Ria." si ikal yang paling besar datang, dengan menenteng snack berukuran besar.
"Biyung memang apa, Key? Masa bilangnya tak punya orang tua." ungkapku dengan meminta Key agar duduk di pangkuanku.
"Aku kalau ke kamar Biyung. Biyung tidur aja. Biyung tak melek-melek, kek mana mau bikinin aku susu." jawab Key, dengan duduk di pangkuanku.
"Nah... Loh. Tuh... Orang tuanya tidur aja ternyata. Makanya tak punya orang tua." papah Adi meledekku, dengan melempariku dengan mainan boneka kecil.
"Huuuu...." aku disoraki Key, papah dan Tika.
"Biyungnya baru datang, Key. Kemarin Biyungnya abis kabur." tambah mamah Dinda kemudian.
Aku menjadi bahan tertawaan. Aku menutup wajahku, dengan tertawa malu.
...****************...
__ADS_1
Kenapa sih begini alurnya 😣 pasti pada games 😩 naik turun aja, gak cepet selesai konfliknya 😠tapi kalau udah selesai, nanti cepet tamat 😅