Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD50. Mamah Dinda


__ADS_3

"Aku takut gak bahagia, kalau nikah tapi aku gak cinta. Misal aku nikahin Putri, okelah dia pasti bahagia dengan pernikahan ini. Tapi, keknya gak dengan aku. Aku tuh sama juga pengen seneng, pengen bahagia."


Apa selama hidup, ia tidak pernah merasakan kebahagiaan?


Mustahil rasanya.


"Venya, Anisa." kak Raya mengambil dua nama yang salah satunya aku kenal baik.


"Venya aku gak cinta. Dulu juga pacaran pas masih jaman sekolah, baru ngerasain suka-sukaan aja sama perempuan. Anisa lagi, sekarang aja aku coba hindari."


Aku yang mendengarnya, begitu merasa miris dan rasa cengengku berkumpul di ulu hati. Apa lagi, kalau kak Anisa mendengarnya secara langsung.


"Anisa cantik kok, Len. Ringan tangan, kau pasti terurus sama dia." pasti kak Raya mengenal kak Anisa.


"Venya, Naura, Putri itu berhijab. Idola aku mamah Dinda, diapun berhijab juga. Kau gak tahu, modisnya mamah Dinda pas terakhir seminar di Samalanga. Jauh-jauh aku dari Kupang, langsung tembus ke Samalanga demi beliau. Udah gitu, mana Dendi kek ada niat sama Enis. Bulan lalu aku terakhir gauli Enis, Dendi ada bilang buat aku gak ngulangin lagi. Buat apa coba laki-laki lain ngomong kek gitu ke aku, yang notabene memang suka sama Enis? Pasti kan Dendi itu ada niat? Apa lagi kalau bukan dia suka ke Enis atau kek mana. Sejauh ini pun, yang ngejer-ngejer ya Jeni. Dendi itu gak pernah dia apel ke Jeni, Jeni terus yang datengin Dendi." bang Lendra berbicara, dengan mengisyaratkan tangannya ke sana ke mari.


Aku paham sekarang, laki-laki dan perempuan itu tidak bisa berteman secara sehat. Pasti ada rasa di dalamnya, apa lagi jika begitu akrab.


"Kemarin libur empat hari. Hari-hari aku sama Enis. Udah rencana dari jauh, mau ajak Canda sama Chandra ke luar. Biar ada jarak sama Enis, biar gak ngelakuin sama Enis. Tapi Enis yang nangis, mohon-mohon, chat tiap waktu. Aku paling gak bisa, kalau perempuan udah kek gitu. Aku kasian, takut dia stres, gak makan-makan, terus mati."


Aku paham, bang Lendra trauma. Ia takut jika membiarkan wanita terluka batinnya, akan mengalami nasib sama seperti ibunya.


"Cium-cium, apa segala. Aku paham maunya apa, tapi ingat omongan Dendi. Bang jangan sampai gituan lagi, jangan ngulangin lagi kegilaan kau sama Enis, aku tak suka sama cara kau mainin hati Enis, kasian Enis, dia cinta setengah mati sama kau, dia taruh harapan besar sama kau." di akhir kalimatnya, bang Lendra menirukan logat bang Dendi.


"Kalau aku bisa pun, aku nikahin dia sekalian. Sayangnya, empat hari jalan berdua terus pun. Tetap gak bisa bikin aku cinta sama dia. Aku paham, cinta gak bisa dijabarin. Cuma rasa-rasa rindu kalau jauh kek gitu, rasa kehilangan kalau orangnya gak ada, rasa butuh, rasa gak lengkap kek gitu tuh gak ada. Pas kerja ketemu kau, pas pulang ketemu Enis. Kek biasa aja gitu loh, kek ketemu kau aja gitu."


Bang Lendra ini sebenarnya sudah matang dan dewasa. Tapi aku heran, kenapa ia tidak bisa jatuh cinta.


"Kadang mikir, apa jangan-jangan aku cinta sama mamah Dinda?" ucapan tambahannya, membuat aku dan kak Raya tertawa geli.


"Aku sampai rela berkorban, ongkos sendiri buat hadirin seminarnya di Samalanga. Cuma buat minta tanda tangan, cuma buat foto bareng sama dia sama suaminya." kendaraan yang tengah bang Lendra kemudikan ini, tengah sampai di parkiran hotel.

__ADS_1


Aku tahu siapa itu suaminya mamah Dinda. Ia adalah laki-laki yang cerewet dan banyak aturan. Sayangnya, mamah Dinda sampai begitu tergila-gila dengan papah Adi.


"Ya itu cuma sebatas mengidolakan. Rasanya, mamah Dinda pun tak bakal lirik kau. Tengok suaminya, dia bisa bawa mamah Dinda liburan ke Brazil. Kuat-kuatnya dana kau, paling cuma bisa bawa liburan ke Sabang." komentar kak Raya, sebelum kami semua ke luar dari dalam mobil.


Kami terkekeh bersama, dengan berjalan menuju ke kamar hotel kami.


"Tapi mamah Dinda bukan lagi liburan, dia lagi ngembangin usahanya." ujarku saat sampai di dalam lift.


"Kau tau mamah Dinda, Dek?" tanya bang Lendra kemudian.


Bodoh-bodoh!


Harusnya aku tak perlu menambahkan wacana tadi.


"Yang bukunya Chandra sobek itu kan?" aku tersenyum canggung padanya.


"Iya. Dia lama gak nulis, lama gak ngeluarin novel lagi. Terakhir tuh, dia ngeluarin novel yang judulnya Memulung Cinta Surgaku. Jadi, ceritanya itu tentang pengabdian istri pada suami yang pemabuk dan penjudi. Istrinya Islam betul, suaminya Islam tapi Islam yang gak makan b*bi aja. Miras, judi, zina jalan teros." ia tertawa begitu renyah.


"Aku Islam kan baru dua puluh lima tahun, Woy. Wajar dong!" ia mengambil alih Chandra dari dekapan kak Raya.


"Yum yah." Chandra menepuk-nepuk wajah bang Lendra.


"Masa om ayah. Mangge aja kah? Biar gampang." bang Lendra membelai pipi Chandra.


"Khe, khe..." Chandra mengeluarkan suara dari kerongkongannya.


"Udahlah, bobo aja Adek. Bikin Mangge ketawa terus." Chandra langsung bersandar pada dada bidang bang Lendra.


Aku geleng-geleng kepala, melihat Chandra begitu haus kasih sayang ayahnya. Ia begitu penurut pada bang Lendra dan bang Dendi. Bila diberi peringatan, atau diberi ujaran jangan. Chandra langsung mengangguk dan menghindari hal-hal yang tidak disukai dua pemuda tersebut.


"Bang Lendra mualaf?" kami tengah melangkah kembali menuju kamar.

__ADS_1


Bang Lendra menoleh ke arahku, yang berjalan di belakangnya. Lalu ia menyetarakan langkah kami, membiarkan kak Raya berjalan lebih dulu.


"He'em. Lahir sih non muslim. Tapi pas umur lima tahun, orang tua pindah agama. " jawabnya kemudian.


Aku manggut-manggut, dengan mulutku membentuk huruf O.


"Mamah Dinda follow IG kau sih, Dek." nada bicaranya, seperti tuduhan.


Jelas mamah Dinda follow sosial mediaku, kemarin aku menantunya.


"Memang mamah Dinda itu tenarnya disebut mamah Dinda ya?" aku benar-benar tidak tahu sebutan seorang wanita hebat di rumah megah dulu.


"Gak sih. Kalau di platform, ramai orang sebut kak. Kalau di sosial media, dia ramai dipanggil mamah, karena usianya yang udah gak muda lagi, mana kan dia banyak anaknya. Kalau sama suaminya, dia dipanggil dek Dinda sayang." rusukku serasa digelitik, saat bang Lendra mencoba menirukan suara papah Adi.


Sebelum mereka berangkat ke Brazil. Aku pernah mendengar mereka bertikai dengan suara lantang. Yang menjadi permasalahan mereka, hanya tentang panggilan kesayangan.


Mamah Dinda mengeluhkan tentang papah Adi yang tak pernah lagi membubuhkan sematan sayang, pada saat papah Adi memanggilnya. Tidak seperti saat ada masalah dengan ibunya Icut dulu, papah Adi selalu menyematkan kata sayang di akhir panggilannya.


Sampai permasalahan tersebut, menarik lagi kesalahan papah Adi yang pernah beristri dua. Hingga mamah Dinda menyangka, bahwa papah Adi memberi sematan sayang saat itu. Agar mamah Dinda tak curiga, akan tabiat papah Adi yang tengah menutupi kesalahannya.


Masalah sederhana, tapi membuat rumah begitu heboh. Sebenarnya menurutku, itu tidak perlu dipermasalahkan. Namun, sepertinya mamah Dinda tengah bosan dengan rutinitas kesehariannya. Lalu sengaja menggali permasalahan, agar dirinya bisa beradu argumen dengan suaminya untuk menghilangkan kejenuhan.


Tapi bukan kejenuhan saja yang hilang. Wibawa papah Adi pun turut hilang, saat mamah Dinda meneruskan kemarahannya dengan tidak membuka pintu kamar untuk papah Adi.


Namun, tidak lama kemudian mereka kembali bersama. Dengan papah Adi yang mengalah, membiasakan diri untuk memberi tambahan sayang untuk memanggil istrinya.


Andai anak sulung yang papah Adi asuh tersebut, mencontoh dari berbagai permasalahan orang tuanya yang ia lihat dan dengar sendiri. Pasti dirinya tidak hidup dengan penuh keegoisan seperti ini.


Karena yang aku tangkap dari masalah yang datang pada mertuaku. Hanya papah Adi yang mengalah, jika mamah Dinda begitu meradang dengan amarahnya.


...****************...

__ADS_1


Judul episodenya mamah Dinda, pasti mikirnya udah kemana-mana 🤭


__ADS_2