Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD253. Kelamnya reuni


__ADS_3

"Biyung... Udah tidur kah?"


Siapa yang menggangguku malam-malam begini?


Aku menilik jam, yang berada di nakas sebelah kiri. Masih pukul setengah sembilan malam, tapi rupanya aku sudah tertidur. Aku terganggu dengan suara itu.


Tok, tok, tok...


"Ya, bentar." aku membenahi selimut tidur Ceysa.


Ceysa sudah lelap, tapi ia sering terbangun malam.


Ceklek...


Terlihat si pemilik kuncir botak itu. Ia berada di gendongan ayahnya.


"Udah tidur kau, Canda? Anak masih jelalatan sama ibu, kau enak ngeces aja." mas Givan nyelonong masuk ke dalam kamarku.


"Tutup pintunya, nanti Chandra turun ke tangga sendirian lagi." pintanya kemudian.


Aku menuruti perintahnya, lalu aku kembali ke ranjang. Aku mengantuk, karena siang tadi aku tidak tidur siang.


Aku mendengar mas Givan menarik gorden.


Lalu ia meladeni celotehan Chandra, yang memiliki kalimat tidak lengkap itu. Aku memilih untuk memejamkan mataku saja, biar saja Chandra bersama ayahnya.


"Beberapa hari yang lalu, aku ke Singapore sama Putri sama Jasmine."


Mataku langsung terbelalak.


Aku langsung menegakkan punggungku, lalu memperhatikan mas Givan yang masih anteng duduk di karpet bersama Chandra. Ia malah meraih jajanan milik Ceysa, seperti biskuit bayi dan cemilan bayi lainnya. Tanpa sungkan, ia malah menikmati cemilan Ceysa. Apa ia tidak menyadari, reaksi kaget yang aku berikan ini?


"Mas..." panggilku kemudian.


"Hmm." ia hanya menoleh sekilas, lalu menyuapi Chandra cemilan milik Ceysa.


"Tonton tipi." Chandra memberikan ayahnya remote televisi.


"Ada adek Ces bobo, jangan kuat-kuat ya?"


Televisi pun langsung menyala, dengan volume yang diatur kecil.


Aku turun dari ranjang, lalu menghampiri dua laki-laki yang terlihat ganteng menawan itu. Mereka berdua benar-benar mirip.


"Kau masih sama Putri, Mas? Terus Lendra gimana?" aku duduk, dengan bersandar di sofa.


Aku tidak duduk di sofa. Aku duduk sejajar di lantai vinyl yang terlapisi karpet berbulu lembut. Hanya saja, punggungku bersandar pada bagian kaki sofa.

__ADS_1


"Tiga hari aku di sana, terus langsung ambil penerbangan ke sini. Lendra dioperasi. Pas awal jenguk sih, dia masih kritis. Pas hari kedua jenguk, dia udah bangun, tapi pandangannya masih kosong. Hari ketiga aku jenguk, dia udah bisa ngobrol pelan sama Jasmine."


"Kau masih sama Putri, Mas?" aku mengulangi lagi pertanyaanku.


Ia menoleh, senyum samarnya terukir.


"Masih."


Satu tahun lamanya? Mereka masih bersama tanpa kabar? Luar bisa duda satu ini.


"Kau cinta sama dia tak sih, Mas?" aku ikut menyicipi cemilan milik Ceysa.


Mas Givan begitu lahap makan biskuit kering ini. Aku kira enak, ternyata nyangkut di gigi.


Tok, tok, tok...


"Bang... Mbak..." itu si tengik Ria.


"Kenapa, Dek?" aku bangun, lalu berjalan ke arah pintu.


Ceklek...


Ria sudah manyun saja.


"Apa, Dek?" tanyaku kembali.


Aku memejamkan mataku malas, lalu menutup pintu kamarku. Tak luput, aku pun langsung menguncinya agar Chandra tidak lepas.


"Terus kenapa kau masam gitu? Papah bilang apa?" aku mengikutinya.


"Aku mau main HP. Kuota aku habis, aku mau WiFi di sana. Tapi papah ngotot, biar aku di kamar Mbak aja, suruh nemenin." Ria membuang nafasnya, "Aku mau scroll-scroll Tiktok, Mbak." ia merengek manja.


"Iyalah, scroll-scroll Tiktok tak pakai WiFi ya jebol kuota." timpal mas Givan.


Ria merebahkan tubuhnya di ranjangku. Ia langsung memainkan ponselnya saja.


"Bilang aja kau mau WiFi sama Mbak." aku duduk di posisi semula.


"Udah sini, WiFi sama Abang aja. Pakai acara ngambek, manyun-manyun, kek apa tuh. Jelek!" tukas mas Givan, ia langsung mengoperasikan ponselnya.


"AG123456, password-nya." lanjutnya kemudian.


"Makasih Abang." nada bicaranya langsung ceria saja.


Ria langsung menghadap ponselnya saja. Sepertinya, headphone kecil menempel di telinganya.


Aku menggulirkan pandanganku pada mas Givan. Ia sulit untuk menjawab tentang hubungan dan hatinya.

__ADS_1


Aku menggoyangkan lengan kirinya, "Mas... Jawab lah." aku menekan suaraku.


Ia menoleh, ia mengernyitkan dahinya.


"Apa?" si jutek yang memiliki harga diri mahal ya, mas Givan seorang.


"Gimana hubungan kau sama Putri. Kau cinta kah sama dia?"


Ia memperhatikanku sejenak, lalu ia fokus untuk membuka cemilan lain milik Ceysa. Ada biskuit puff berbentuk bunga dengan rasa pisang.


"LDR. Cinta tak cinta. Aku kasian, dia udah banyak bantu. Sebetulnya, aku belum pengen rumah tangga lagi."


Jawabannya tidak membuatku puas.


"Kau trauma sama rumah tangga kita dulu kah, Mas?" aku memperhatikannya dengan lekat.


Ia melirik sekilas, lalu ia menunduk kembali.


"Tak trauma juga." jawabnya lirih.


Aku menelan ludahku. Secuil harapanku dulu, yaitu diakui dan dicintai olehnya. Bagaimana perasaannya dulu padaku? Saat aku masih berstatus sebagai istrinya? Ini yang menjadi rasa penasaranku sekarang.


"Kau dulu cinta tak sama aku, Mas?" aku bertanya lirih.


Chandra kembali ke pangkuan ayahnya. Ia mengucek matanya sendiri, lalu menguap lebar. Netranya fokus menonton siaran televisi, Chandra sepertinya mengantuk.


"Cinta. Masa kita sepakat buat belajar mencintai, aku bisa cinta sama kau. Tapi..." suaranya menggantung, "Rasa itu samar, masanya Ghifar pulang. Saat di mana kau lebih milih diam, dari pada usik aku. Saat di mana kau lebih milih tidur, dari pada ngajak bercanda aku. Saat di mana pandangan kau tertuju ke Ghifar, masanya aku ada di jangkauan mata kau. Detik itu juga, rasa itu samar. Luka dari Ai, penghinaan dari kakaknya Ai. Bersatu padu dengan sikap yang kau kasih ke suami kau sendiri, Canda. Aku malas, sama yang namanya cinta mulai detik itu juga." ia berkata perlahan, sepelan aliran kering yang baru aku basahkan.


Mas Givan jarang berucap yang sensitif seperti ini. Sekalinya berucap, aku merasa bahwa diriku berada di posisinya saat itu.


"Tapi aku ingat, kau istri aku. Aku pulang ke istri, aku butuh ini itu, ya cuma minta ke istri. Banyak nasihat dari orang luar, karena masa itu Ghifar lah yang paling tersakiti. Tukar pikiran sama mamah pun, itu bukan jalan keluar yang bagus. Karena mereka nganggap, Ghifar lebih trauma dan lebih harus dikasihani. Aku banyak cerita ke Zuhdi, ke tante Shasha. Zuhdi selalu bilang, bawa anak istri kau keluar dari rumah. Tante Shasha selalu bilang, cepat stabil, kasian istri kau kalau ikut kau dalam keadaan kau susah. Jadi aku berpikir, stabilkan keadaan, biar istri tak kesusahan masanya ikut aku. Udah ada planning, udah dapat start. Andai aja, masa itu tak datang ke reuni." ia mendongakkan kepalanya, lalu ia menekan ujung matanya.


"Aku baru tau, kenapa papah Adi dulu selalu tak datang masanya reuni. Sampai teman jemput buat reuni itu, bukan sekali dua kali. Tiap tahun, ada aja yang ajak. Aku baru paham, masa semuanya udah terjadi di diri aku sendiri. Reuni, itu kehancuran rumah tangga. Say hai, keakraban lama bersemi kembali, larut dalam santapan dan minuman, terus lari ke ranjang." ia mendengus dingin, "Memang, mungkin tak semua. Tapi jika dipikir, reuni itu untuk apa sih sebenarnya?" ia menoleh padaku.


"Reuni itu, untuk mereka yang kangen sama mantannya. Mereka-mereka ini yang ngebentuk dan ngerencanain reuni. Aku yang tak tau apa-apa, kena getahnya aja." mas Givan geleng-geleng kepala, "Ada juga yang tukeran nomer dari situ. Lanjut ke chatting, curhat tentang rumah tangga mereka. Dari tukeran chat, sampai akhirnya tukeran keringat." jakunnya bergerak naik-turun.


"Tapi.....


...****************...


Aku tuh gak suka kalau Givan banyak ngomong 😭 kek dalam banget 😩


Dear mas Givan, dari Author tersayang :


...Ka han jeut tapeugah ie mata ro bak malam-malam jula, hanya nyan nyang jeut lon pubut. Klik. Hana haba nyang jeut meuwakili peurasaan hatee lon. Luka nyo cukop dalam. Hanya ie mata nyang sanggop meuwakili peurasaan hatee lon. Klik. Hanya nyan nyang jeut lon pubut. Lon han jeut peusalah keuadaan. Lon han jeut peusalah teukeudi. Hanya jeut meuharap luka hatee nyo beubagah puleh. Hana teupeu lee peu kebahagiaan nyan. Lon hanya meuheut akai sehat dan han peusaket hatee ureueng laen....


Surat terbuka untuk mas Givan 😢

__ADS_1


Tolong kawan-kawan Aceh, artikan 😅. Bisa ngomong, gak tau arti kadang 🤦


__ADS_2